RSS

Monthly Archives: September 2014

DEMA

Hari Sabtu lalu, sebuah gunung di Nagano meletus, Gunung Ontake. Memang tidak ada kerusakan/kerugian yang terjadi di Tokyo karena jauh. Tapi hari Minggu sore, aku sempat merasakan gempa kecil, meskipun pusat gempa bukan di daerah Nagano.

Tiba-tiba seorang temanku di Indonesia mengirim pesan via WA, katanya: “Me, emangnya akan ada gempa besar dalam 35 jam ini ya?.

Aku yang tidak pernah dengar ada prediksi seperti itu hanya menulis, “Mungkin, sebagai akibat meletusnya gunung, tapi tidak besar mustinya”

Lalu temanku kirim sebuah foto yang berisi prediksi datangnya gempa di Jepang. Wah ini tidak main-main, jadi aku langsung browsing mengenai benar- tidaknya kemungkinan ini. Dan ternyata HOAX….

foto yang membuat panik

foto yang membuat panik

Nah, kalau HOAX itu kan berita yang diterima lewat internet, yang disebarkan oleh teman-teman sendiri. Kalau di Jepang, kasus seperti itu bukan dinamakan hoax lagi tapi Dema.

Dema itu berasal dari kata Demagogue, tapi biasanya disingkat menjadi Dema dalam masyarakat  Jepang. Menurut wikipedia

A demagogue /ˈdɛməɡɒɡ/ (from French “demagogue”, derived in turn from the Greek “demos” = people/folk and the verb “ago” = carry/manipulate thus “people’s manipulator”) orrabble-rouser is a political leader in a democracy who appeals to the emotions, fears, prejudices, and ignorance of the lower classes in order to gain power and promote political motives. Demagogues usually oppose deliberation and advocate immediate, violent action to address a national crisis; they accuse moderate and thoughtful opponents of weakness. Demagogues have appeared in democracies since ancient Athens. They exploit a fundamental weakness in democracy: because ultimate power is held by the people, nothing stops the people from giving that power to someone who appeals to the lowest common denominator of a large segment of the population.

Hmmm mudahnya: rumor hasutan. Aku pernah dapat Dema setelah gempa Tohoku terjadi, dan diberitakan akan turun hujan asam. Kebiasaan orang untuk LANGSUNG memforward berita negatif seperti itu tanpa mengeceknya lagi, mempercepat penyebaran dema, dan tentu saja membuat panik.

Berita gempa akan terjadi dalam 35jam itu saja, sempat membuat panik keluargaku kok. Bagaimana kalau satu desa, atau kota, atau negara panik ya?

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on September 29, 2014 in Uncategorized

 

Tunagrahita

Bahasa Jepangnya chiteki shougai 知的障害. Berawal dari berita dua hari lalu. Di Kobe, ada seorang anak perempuan 6 tahun hilang, sudah 12 hari. Aku menonton beritanya sejak awal hilang, dan dikerahkan ratusan polisi untuk mencari dan memeriksa sekitar rumah dan sekolahnya. Memang aku sudah punya perasaan, anak ini pasti dibunuh. Sebagai seorang ibu, aku tahu ibunya pasti sudah bingung sekali… dan berbagai perasaan lain. TAPI, dua hari lalu itu diberitakan bahwa ditemukan 6 buah bungkusan plastik yang berisi sisa anak-anak yang diperkiran anak perempuan itu. Duhhhhh…. waktu aku mendengar bahwa akan ada pemeriksaan DNA, aku merasa ngenes sekali dan mau nangis…. karena itu berarti wajahnya pun tidak bisa dikenali (Memang bagian kepala tidak ada). Korban Mutilasi!

Tapi yang mengejutkan beberapa jam kemudian diberitakan bahwa seorang tunagrahita ditahan dengan tuduhan pembunuhan itu. Langsung ditangkap karena, dalam bungkusan “daging” itu terdapat kartu berobat dengan tulisan bahwa dia chiteki shougai, dan putung rokok. Dari putung rokok diketahui bahwa putung rokok itu bekas si tunagrahita (47 tahun)  ini. Ditangkap dan dibawa ke penjara tentunya. Tapi yang menjadi masalah, jika benar dia penderita sakit mental, tentu tidak bisa diadili. Karena ketidakmampuannya untuk berpikir secara manusia normal. Mungkin dia tidak melihat anak perempuan itu sebagai “manusia” kan?

Ini menimbulkan polemik dalam kelasku. Ada seorang murid yang mengatakan, “Masyarakat tidak perlu orang-orang seperti itu!”. Seperti itu itu apa? Kasihan dong orang tua yang mempunyai anak tunagrahita. Bukan mau ibunya juga melahirkan anak yang tidak normal.
“Harusnya orang tuanya yang bertanggung jawab!” Wah kalau anaknya berusia 47 tahun, kemungkinan besar orang tuanya sudah meninggal. Lagipula dia penerima 生活保護 (tunjangan pemerintah – menerima uang bulanan dari pemda yang biasanya cukup untuk minimal hidup) berarti tidak punya saudara yang bisa atau mau mengurus/membiayai kehidupannya. Ah, aku jadi berpikir kasihan juga anak-anak tunagrahita pada masa tuanya (meskipun konon mereka tidak hidup lama) jika harus mengurus dirinya sendiri dan berpikir mungkin pemerintah Jepang perlu membuat suatu tempat semacam panti untuk menampung tunagrahita ini.
Sebetulnya kalau tentang kasus ini saja, mungkin aku tidak akan menulis di sini. Tapi kebetulan tadi sore, aku mengalami sebuah kejadian yang aneh.

Aku sedang mempertimbangkan membeli paprika kecil warna-warni, karena cukup mahal. 380 yen. Lalu tiba-tiba di sebelahku seorang ibu, menunjukkan padaku di rak lain, dua buah paprika besar berwarna merah dan kuning, seharga 200 yen. Wah! Murah…. Padahal harga yang tertulis di papan  350 yen. Tag di bungkusan yang lain juga 350 yen! Hanya bungkusan yang kupegang dan dia pegang berharga 200 yen! dan tertulis : 傷有り (ada cacat). Jadi memang ada beberapa barang yang tetap dijual tapi diberikan harga murah karena alasan tertentu. Lucky! Dan aku mengucapkan terima kasih pada ibu itu. Dan dia mengeluarkan “suara”….

Tapi ibu itu tidak pergi, dan aku jadi serba salah juga. Lalu aku menyapanya: “Terima kasih diberitahu, tapi apakah kamu mau ambil yang ini (sambil menunjukkan yang kuambil)”. Dia melihat bungkusannya, tapi juga tidak meraih yang kusodorkan. Daaaaan dia mulai berbicara. Rupanya dia tunarungu. Aduh aku tidak mengerti dia bicara apa! Ah uh ah uh…. Dan aku merasa tidak bisa meninggalkan dia yang sedang bicara. Tidak sopan kan? Jadi aku temani dia, sambil berusaha mengerti apa yang mau dia katakan. Sampai akhirnya dia menunjukkan ke matanya sambil membuat bulatan dengan tangannya….

“Ya mata saya besar ya… saya bukan orang Jepang!”
Lalu dia menunjuk dagunya…
“Dagu saya panjang?”
duhhh,…. aku ingin bertanya apa kamu bisa bahasa isyarat? Tapi kalaupun dia jawab “Ya”, aku yang tidak bisa! Lalu dia keluarkan sebuah buka dari dalam tasnya. Aku mulai merasa curiga… jangan-jangan mengajak masuk ajarang agama Y nih…. Tahu-tahu dia menunjukkan halaman muka yang ada peta dunianya. Lalu aku tunjukkan “Ya saya datang dari Indonesia. Jepang di sini. Indonesia di sini… Saya sudah lama datang sehingga saya bisa bicara bahasa Jepang”. Tapi dia tunjuk mata dan dagu terus. Dan di buku yang dia tunjukkan padaku ada tulisan-tulisan kanji : kepala, dagu, mata, Jepang, orang hitam. Tulisannya jelek! Dan karena dia tidak berhenti “bicara” (boleh dikatakan melenguh) aku pun jadi bingung… semakin lama aku temani, kelihatan dia semakin mau banyak “bicara”. Dan aku semakin bingung.

Akhirnya aku katakan padanya, “Maaf saya harus naik bus. Harus cepat-cepat belanja. Sampai jumpa” Dan aku pergi. Rasanya tidak enak membayangkan dia sedih ditinggal, tapi apa boleh buat. Sudah sampai pada batas (限界) kemampuanku untuk menemaninya.

Daaaaan aku terpikir, mungkin dia tunagrahita! Karena kalau dia tahu aku tidak bisa bahasa isyarat, dia pasti bisa menulis sesuatu di kertas untuk komunikasi. Ntah lah… semoga saja dia punya teman “bicara”, seorang ibu yang manis! Dan aku berdoa untuk mereka yang kebetulan terlahir sebagai tunagrahita malam ini. Tuhan lindungilah mereka… dari yang jahat, dan dari godaan melakukan yang jahat. Dan berikanlah orangtua mereka kekuatan lahir batin. Amin

catatan:

Jenis tunagrahita (dari wikipedia)

Lemah pikiran (Feeble Minded)
Terbelakang mental (Mentally Retarded)
Bodoh atau dungu (Idiot)
Pandir (Imbecile)
Tolol (Moron)
Oligofrenia (Oligophrenia)
Mampu Didik (Educable)
Mampu Latih (Trainable)
Ketergantungan penuh (Totally Dependent) atau butuh rawat
Mental Subnormal
Defisit Mental
Defisit Kognitif
Cacat Mental
Defisiensi Mental
Gangguan Intelektual
ternyata di Jepang ada Yayasan untuk tunagrahita: http://ja.wikipedia.org/wiki/%E6%97%A5%E6%9C%AC%E7%9F%A5%E7%9A%84%E9%9A%9C%E5%AE%B3%E8%80%85%E7%A6%8F%E7%A5%89%E5%8D%94%E4%BC%9A

dan pendirinya: Ishii Ryouichi, dengan sekolahnya bernama Takinogawa Gakuen
http://ja.wikipedia.org/wiki/%E6%BB%9D%E4%B9%83%E5%B7%9D%E5%AD%A6%E5%9C%92

 
Leave a comment

Posted by on September 27, 2014 in Uncategorized

 

Polemik Ibu Bekerja

Beberapa saat lalu ada (timbul lagi) polemik tentang ibu bekerja vs ibu tidak bekerja di sosmed Indonesia, mana yang baik untuk pendidikan anak. Menurutku polemik itu berkembang kembali oleh ibu-ibu “baru” dan polemik ini akan terus ada sampai timbul waktunya di Indonesia pun semua ibu HARUS bekerja demi menunjang perekonomian keluarga. Seharusnya setiap ibu memikirkan kondisi dirinya sendiri  dan kebutuhan keluarga, sambil tak lupa mementingkan pendidikan sang anak.

Di Jepang sendiri, baru kemarin (16 Sept 2014) aku membaca hasil survey bahwa ibu yang sedang merawat anak (ibu dari anak usia sekolah -wajib sekolah – SD- SMP)  sejumlah 74,2 % merupakan “pekerja”. Ini merupakan hasil survey untuk bulan Juli 2014, yang menunjukkan bahwa dari ibu-ibu yang punya anak usia sekolah (ibu sendiri berusia 25-44tahun), 70 persen bekerja di luar rumah. Hanya 30% yang DIAM DI RUMAH (diam tentu diam yang aktif, karena memang di Jepang tidak ada pembantu, tidak seperti di Indonesia yang masih bisa menggaji pembantu) , dengan kata lain hanya 30% yang 100% ibu rumah tangga.

Yang patut dipikirkan sebetulnya bukan bekerja atau tidaknya, tapi BAGAIMANA menggunakan waktunya untuk berinteraksi dengan anak. Itu saja kok. Tidak bekerja tapi menjadi kaum sosialita, yang punya pembantu sampai 5 orang dan tidak pernah mengadakan interaksi bermutu dengan anaknya ya sama saja, meskipun latar belakang pendidikannya S3 pun, tidak akan ada artinya bagi anaknya.

IMG_2134

Our quality time: baking cake together ~~

子育て世代74%「労働力」…求人増で最高水準

読売新聞2014年9月15日(月)11:56

 働く子育て世代の女性が増えている。

25~44歳の女性のうち、現在働いている人と求職中の人の合計が全体に占める割合を示す「労働力率」は7月末で74・2%となり、単月ベースでこれまでで最も高い水準になった。

働いている人の割合を示す「就業率」も71・0%と前年同月から0・2ポイント上昇した。結婚・出産後も仕事を続ける女性が徐々に増えているうえ、景気回復による求人増と時給の上昇に伴い、パートなどで再び働き始めるケースが増えているとみられる。

総務省の労働力調査を世代別に分析してわかった。7月の労働力率の74・2%は、前月より0・2ポイント、前年同月より1・7ポイント上昇しており、過去の統計と比較できる1968年以降で最高だった。安倍政権の経済政策「アベノミクス」が始まる前の09~11年は70%前後で推移しており、4ポイント近く上昇している。

就業者と求職者を合わせた7月末の労働力人口は全体で6604万人で、前年同月に比べて38万人増えた。男性は定年退職者の増加を反映して11万人減る一方、女性は49万人増えている。このうち、25~44歳の女性は7万人増の1195万人と、上昇傾向を示す。

 
5 Comments

Posted by on September 17, 2014 in Uncategorized

 

Hadiah untuk Lansia

Hari ini hari (menghormati) lansia. Ada kebiasaan di Jepang bahwa pemerintah daerahnya memberikan hadiah kepada lansia di kotanya. Ada yang memberikan handuk atau sabun, tapi ada daerah yang memberikan hadiah berupa uang (dan cukup besar). Sedangkan untuk kakek-nenek sendiri, biasanya agak sulit mencari hadiah yang disukai para lansia.

Untuk itu ada survey yang menanyakan pada lansia, apa yang mereka sukai, atau ingin dapati waktu hari peringatan lansia itu.

 gambar

Dari survey didapatkan bahwa nomor satu mereka ingin/.suka jika mendapatkan kartu dari para cucu.

Yang kedua: makan bersama sekeluarga besar.

Ketiga: Foto frame berisi foto cucu

Keempat : Gambar kakek-nenek yang dibuat oleh para cucu

kelima : Wisata

selanjutnya: kue, alkohol, album foto, karcis untuk pijat, bunga segar, gelas pasangan, bunga kering, kaca pembesar, alat bantu dengar, dan tongkat.

Ternyata memang apa saja dari cucu itu paling berharga bagi mereka. Hari ini kami tidak bisa pergi menemui kakek-nenek R dan K karena papanya kerja. Jadi aku menyuruh R menelepon saja. Bagiku sendiri paling asyik kalau pergi makan bersama.

Semoga minggu depan bisa bertemu deh.

 
Leave a comment

Posted by on September 15, 2014 in Uncategorized

 

Kamu 100 tahun, saya 99 tahun

Terjemahan bebas dari sebuah peribahasa yang aku dengar tadi dalam seri “Sazae”.

お前百までわしゃ九十九まで

Omae hyaku made, washa kyujukyu made

Di sini Omae menunjuk pada suami (konon bahasa hormat memanggil suami), sedangkan washa merupakan singkatan dari watakushi (washi) yang artinya saya. Peribahasa ini disebutkan oleh seorang istri yang diasumsikan sudah lama menikah. “Suami 100 tahun, saya 99 tahun”. Merupakan sebuah harapan agar mereka berdua bisa menjadi tua bersama, dan bisa mati bersama. Mengungkapkan juga bahwa dia tidak bisa hidup tanpa suami, dan takut kesepian.

Mungkin peribahasa ini ditunjukkan pada seri Sazae karena besok, 15 September merupakan hari penghormatan untuk orang tua, Keiro no hi 敬老の日.

Padahal sekarang jumlah penduduk Jepang yang berusia di atas 100 tahun sudah mencapai 58.820 orang. Dengan jumlah wanita mencapai 87,1%. Dalam acara TV kemarin sekilas disebutkan bahwa dari 2200 orang ada 1 orang yang berusia di atas 100 tahun. WAH!!

Dan kalau dilihat perbandingan jumlah per penduduk 100.000 ribu maka daerah Shimane adalah yang terbanyak. Wanita yang tertua di Jepang berusia 116 tahun yang berdomisili di Osaka.Sedangkan untuk pria berusia 111 tahun yang tinggal di Saitama. Sedangkan usia harapan hidup wanita Jepang sekarang (data 2013) adalah 86,61 dan pria Jepang 80.21.

Usia bapak mertuaku 73 tahun dan ibu mertuaku 71 tahun. Papaku 75 tahun. Menurut orang Jepang, mereka MASIH MUDA!

Eeee tapi dalam kasus aku: kalau dia 100 tahun, akunya 102 tahun hihihi

全国の100歳以上の高齢者が過去最多の5万8820人に上ることが12日、「敬老の日」を前にした厚生労働省の調査で分かった。女性が87.1%を占め、初めて5万人を超えた。前年から4423人増え、44年連続の増加。都道府県別の人口10万人当たりの人数は島根が2年連続で1位だった。

住民基本台帳を基に、9月15日時点で100歳以上となる高齢者数を都道府県を通じて1日現在で集計した。2014年度中に100歳になった人と、なる予定の人の合計は2万9357人。

厚労省は「医療技術の進歩や高齢者の健康状態の改善が影響している」と分析。急速に進む高齢化が改めて裏付けられた形だ。

100歳以上の高齢者の内訳は女性が5万1234人、男性が7586人。今年度中に100歳になった人と、なる予定の人では女性が2万5千人、男性が4357人。

国内最高齢は、女性が大阪市東住吉区の大川ミサヲさんで116歳。男性はさいたま市中央区の百井盛さんで、111歳だった。いずれも2年連続の最高齢。100歳以上の人数を都道府県別にみると、東京が5028人で最多。神奈川3123人、大阪3088人と続いた。

人口10万人当たりの人数は、西日本で多く東日本で少ない「西高東低」の傾向が続いており、今回も上位10県のうち9県を中国地方以西が占めた。一方、下位は首都圏や大阪、愛知など大都市が目立ち、若い世代の転入の影響がうかがえる。全国平均は46.21人で、前年から3.55人増えた。

100歳以上の人数は調査が始まった1963年が153人だったが、98年に1万人を超え、2012年に5万人を突破した。近年は1年に3千~4千人台のペースで増えており、今後も増加が見込まれる。

日本人の平均寿命(13年)は男性80.21歳、女性86.61歳。http://www.nikkei.com/article/DGXLASDG12H0C_S4A910C1CR0000/

 
Leave a comment

Posted by on September 14, 2014 in Uncategorized