RSS

Monthly Archives: January 2021

ENRYO NO KATAMARI 遠慮の塊

enryo no katamari

Kalau mau maksa menerjemahkan enryo no katamari ini, secara harafiah adalah “kumpulan keseganan”. Hmm pasti pinto konai ne (pasti tidak mengerti ya) :D.

Begini, tadi saya pergi bersama keluarga ke sebuah restoran. Kami memesan kentang goreng, dan pada waktu terakhir di atas piring hanya tertinggal satu kentang goreng. Semua lihat-lihatan. “Mama aja!”… “Nggak usah, kamu aja!”

Kondisi seperti ini, 一つ残しhitotsu nokoshi sisakan satu yang terakhir. Nah kalau kondisi ini di keluarga, pasti adalah yang mau makan terakhir. TAPI, jika kondisi ini waktu pergi dengan teman-teman kantor JEPANG, mereka pasti akan tunjuk-tunjukan, dan akhirnya tidak ada yang makan. Semua serba salah. Lebih baik tinggalkan satu daripada dianggap tidak sopan.

Nah kemudian di daerah Kansai (tahu sendiri orang Kansai kan lebih gradak-gruduk daripada orang Kanto hehehe), mereka akan mengatakan “遠慮の塊もらいますEnryo no katamari moraimasu”, secara nuansanya  “Kalian semua segan, jadi saya saja yang makan”

Enryo 遠慮 itu segan/sopan sedangkan katamari 塊itu sebongkah, sekumpulan. Katamari misalnya bisa dipakai waktu mau beli daging yang belum dipotong-potong. Niku no burokku

(block) atau niku no katamari.

Kata 遠慮 Enryo memang sering dipakai di Jepang sekarang misalnya, 「マスクなしの入店はご遠慮くださいmasuku nashi no nyuutenwa goenryokudasai. Maksudnya melarang masuk ke dalam toko tanpa memakai masker, tapi dengan kata-kata yang sopan. Jadi kalau mendengar sesuatu dan di akhir kalimat ada “ご遠慮くださいgoenryokudasai“ maksudnya sih jangan melakukan hal itu. Ingat-ingat ya 😀

Tapi kadang kadang kita juga mendengar, “遠慮しないで、言ってくださいねEnryo shinaide, yuttekudasai ne” Jangan segan-segan (malu-malu), bilang saja ya. Dengan tingkatan bahasa yang lebih sopan, misalnya memakai istilah 遠慮せずに、おっしゃってください。Enryo sezuni, osshattekudasai. Dan lain-lain. Artinya sih sama saja.

Jika kita mau menolak sesuatu dengan sopan, kita bisa memakai kata 遠慮しますenryoshimasu。Atau lebih sopannya 遠慮させていただきます enryosaseteitadakimasu

Tulisan ini pernah dimuat dalam pojok Bahasa dan Budaya Jepang di FB Grup “Wanita Indonesia Berkarya di Jepang”

Tapi kalau memang kita mengiyakan atau menerima tawaran dari orang lain, biasanya kita akan menjawab dengan “遠慮なくいただきますenryo naku itadakimasu”. Misalnya ada teman yang mau memberikan kita kado tas gucci yang mahal itu, jangan asal terima ya. Pura-pura bilang “aduh kok mahal sekali …. watashini wa mottainai tidak pantas untuk saya”… Kalau si dia bilang, “tidak apa-apa terima saja”, baru kita katakan ….. “Hai, enryo naku itadakimasu” :D. Ungkapan ini, kadang saya ganti dengan お言葉に甘えてokotobaniamaete….. artinya kira-kira “Saya lakukan sesuai perkataanmu deh”.

Jangan sampai kita dicap orang Jepang 遠慮のない人 enryo no nai hito, orang yang tidak tahu malu 😀 Kan, lebih baik mendengar, “Eh si Imelda 遠慮深い人だ enryobukai hito (orang yang penyegan) daripada 遠慮のない人だ enryo no nai hito (orang yang tak tahu malu)”

Saya harap penjelasan saya hari ini bisa dimengerti dan bisa dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari ya. Pemakaiannya agak sulit memang, tapi kalau memperhatikan percakapan orang Jepang, pasti bisa menangkap nuansanya.

#wibjnihongo #wibjbudayajepang

#enryonokatamari #enryo #segan #遠慮

 
1 Comment

Posted by on January 24, 2021 in Uncategorized

 

7 Januari

Hari ini di Jepang dinamakan Jinjitsu 人日, yang setelah aku cari berasal dari Cina. Konon tanggal 1 Januari itu harinya ayam/burung, tanggal 2 harinya anjing, tanggal 3 harinya inoshishi atau babi hutan (babi), tanggal 4 harinya domba, tanggal 5 harinya sapi, tanggal 6 harinya kuda. Jadi pada tanggal yang dimaksud tidak boleh membunuh binatang-binatang ini.

Kemudian pada tanggal 7 adalah harinya manusia. Tentu saja tidak boleh membunuh manusia kan tidak tergantung tanggal. Tapi yang dimaksud pada tanggal 7 tidak boleh menjatuhkan hukuman pada penjahat (waaah enak bener ya penjahatnya hehehe)

Tapi ada juga kebiasaan dari Jaman Heian (794-1185) untuk makan 7 jenis tanaman yang dimasukkan kedalam bubur yang disebut Nanakusagayu七草粥. Bubur 7 sayur yang sehat  ini dianggap bisa memperbaiki pencernaan setelah makan macam-macam yang enak (dan kolesterol tinggi) seperti osechi おせちdi masa pergantian tahun.

Hari ini juga kuku dipotong pertama kali di awal tahun, setelah merendamnya di air rendaman sayur untuk bubur. Bubur itu konon juga dapat mencegah penyakit yang akan datang pada tahun yang baru ini. DeMiyashita pernah coba Nanakusagayu asli, rasanya agak pahit, sehingga kami lebih mengganti Nanakusagayu dengan Bubur Manado (Tinutuan) + ikan asin dan sambal.

Tulisan ini pernah dimuat dalam pojok Bahasa dan Budaya Jepang di FB Grup “Wanita Indonesia Berkarya di Jepang”

Lalu apa hubungannya bubur 7 rumput ini dengan 1000Yen? Yang pasti kalau belanja “rumput-rumput” ini tidak sampai 1000 yen ya.

Hari ini juga merupakan hari peringatan 1000 yen, karena pertama kali dikeluarkan uang kertas 1000 yen tanggal 7 Januari 1950 (sebelumnya tahun 1945 ada 1000 yen tapi hanya bertahan 1 tahun, akibat inflasi sesudah PD2). Seribu yen itu bergambarkan Shotoku Taishi, pangeran Jepang pada zaman Asuka, pembuat peraturan pertama Junanajokenpo 十七条憲法di Jepang. Setelah Shotoko Taishi, gambar yang tercantum dalam uang kertas 1000 yen adalah Ito Hirobumi, Natsume Soseki, Noguchi Hideo dan nanti tahun 2024 akan dicetak gambar Kitazato Shibasaburo. Kenalkah dengan tokoh-tokoh ini? 😀

Dan perlu diketahui uang Jepang meskipun sudah berganti gambar dan dihentikan percetakannya, tetap masih bisa dipakai. Tidak seperti Indonesia.

Nah, Kalau dikasih uang 1000 yen, dan harus dipakai sekarang juga, kamu mau beli apa? 😀

#wibjnihongo #wibjbudayajepang

#七草粥 #bubur7rumput #seribuyen

 
Leave a comment

Posted by on January 7, 2021 in Uncategorized