RSS

Monthly Archives: March 2022

春彼岸

Horreee…. libur lagi 😃… tapi dingiiiiin ya 😃

Apa teman-teman sudah tahu hari ini hari libur apa?

Dalam bahasa Jepangnya 春分の日 Shunbun no hi, dari kanjinya terlihat kanji HARU yang artinya musim semi. Tadi pagi waktu saya buka FB ada tulisan “welcome spring”, dan memang secara nyata kita bisa merasakan musim semi semakin mendekat, meskipun Shunbun itu sebetulnya bukan AWAL musim semi. Awal musim semi disebut RISSHUN 立春 yaitu 1 hari sesudah Setsubun. Tepatnya Shunbun ini berada di jam 9 pada kalender tahunan 24 bagian musim. Sering dikatakan bahwa pada Shunbun no hi ini panjang malam dan siangnya sama, meskipun sebetulnya kalau diteliti lebih lanjut, siangnya sedikit lebih panjang dari malam. Shunbun no hi ini dalam bahasa Inggris disebut dengan Equinox Day.

Sebetulnya Equinox ada dua, yaitu pada musim semi Shunbun no hi 春分の日 dan pada musim gugur Shubun no hi 秋分の日. Tanggalnya tidak pasti tapi berkisar tanggal 20 atau 21 Maret dan 22 atau 23 September, ditetapkan oleh 国立天文台 (Badan Observasi Astronomi Nasional Jepang) pada awal Februari tahun sebelumnya. Nah, hari Shunbun no hi ini menjadi hari libur nasional itu sebetulnya baru-baru saja, yaitu mulai 1948 (Showa 23) yang ditetapkan dalam dengan UU hari libur Jepang (祝日法) dengan tujuan “berterima kasih kepada alam dan mencintai makhluk hidup”.

Shunbun no Hi sering disebut dengan HIGAN 彼岸, istilah dari agama Buddha. Terutama yang sering kita dengar adalah peribahasa berbunyi “Atsusa Samusamo Higan made”  暑さ寒さも彼岸まで, terutama dalam pembicaraan mengenai cuaca. Panaspun Dinginpun (hanya) sampai Higan. Memang biasanya setelah Higan, dinginnya musim dingin dan panasnya musim panas akan berkurang. (Semoga hari ini menjadi puncak dingin terakhir ya… brrrrr)

Nah, kalau setsubun kita melempar kedelai (bukan keledai ya… kegedean 😃) , waktu Higan, orang Jepang merayakan dengan apa? Higan 彼岸, seperti yang saya tulis di atas adalah istilah dalam agama Buddha. Kanji Higan sendiri baru ditempelkan sesudahnya, tapi kata Higan sering diartikan sebagai “dunia lain atau surga”. Jadi dalam agama Buddha Higan dianggap sebagai masa/waktu untuk mendoakan arwah mereka yang sudah meninggal. Dikatakan waktu, karena jika Higan itu adalah Shunbun no Hi (hari ini tanggal 21 Maret 2022), sebetulnya masa mendoakan itu dimulai sejak 3 hari sebelumnya (18 Maret, disebut Higan-iri) sampai 3 hari sesudahnya (disebut Higan-ake).

Pada waktu ini, keluarga Jepang akan お墓参り ohakamairi “nyekar” mengunjungi makam keluarga, dan mendoakan leluhurnya. Biasanya makam keluarga itu berada dalam kompleks kuil. Begitu datang, ambil ember kayu dan cidukannya, mengisi air dan mulai membasuhi batu nisan. Tidak perlu lagi membersihkan makam dari rumput seperti di Indonesia, karena biasanya sudah bersih. Setelah memberikan air pada batu nisan, menghias makam dengan bunga (biasanya menaruh di jambangan yang ada di kiri-kanan nisan) dan memasang お香 okou (dupa), keluarga akan mengatupkan kedua tangan untuk berdoa.

Selain pergi ke makam, sebetulnya orang Jepang juga mempunyai altar leluhur di rumah masing-masing. Di situ diletakkan sesaji berupa kue manis berbentuk seruni (banyak dijual set kue atau buah khusus untuk Higan), atau Botamochi 牡丹餅 atau kadang juga disebut ohagi お萩. Botamochi dan Ohagi sama bentuk dan rasanya, hanya penamaannya saja yang berbeda. Botamochi untuk Higan musim semi, dan Ohagi untuk Higan musim gugur. Botamochi ini sejenis mochi yang ditutupi dengan tumbukan kacang merah (bisa kasar atau halus). Jadi kalau biasanya pasta kacang merahnya di dalam mochi, untuk Botamochi itu di luar. Rasanya? Enak dan manis 😃 seperti makan nasi ketan 😃

Sebagai penutup tulisan hari ini, saya ingin memperkenalkan satu peribahasa 諺Kotowaza yang memakai kata BOTAMOCHI, yaitu 棚から牡丹餅 (Tana kara botamochi)yang artinya, mendapatkan keuntungan yang tidak terduga-duga. Kalau di peribahasa Indonesianya: “Bagai mendapat durian runtuh”.

Hayoooo…. teman-teman pilih botamochi atau durian? 😃😃😃

Sepertinya kalau benar-benar kejatuhan durian pasti sakit ya? Saya pilih botamochi saja deh, empuk dan enak… apalagi kalau jatuhnya langsung di mulut hehehe.

 
Leave a comment

Posted by on March 21, 2022 in Uncategorized

 

DAGASHI だがし

Dagashi ditulis dalam kanji adalah  駄菓子. Apa itu sebenarnya Dagashi? Kebanyakan dari kita tahu bahwa ada unsur kata KASHI 菓子 yang berarti kue/snack. Lalu DA 駄 ya apa dong? MUDA 無駄 (boros/tidak berguna)?hehehe Kalau MUDA nya bahasa Indonesia itu BENAR sekali, karena yang makan DAGASHI itu biasanya masih muda, atau anak-anak. DAGASHI memang terkenal di antara anak-anak karena harganya murah. Biasanya sekitar 5 sampai 100 yen.

Padahal kalau membuka kamus, ada banyak pengertian DAGASHI, misalnya “Kue yang terbuat dari udang, gandum, awa (Jawawut), hie (sejenis jawawut), kacang dll yang harganya murah”. Nah yang memenuhi kriteria ini sebetulnya namanya Kyododagashi 郷土駄菓子. Ada yang namanya Sendaidagashi, Aizudagashi, Himejidagashi dll. Kalau ingin tahu seperti apa, bisa googling, tapi cukup banyak jenisnya, dan saya lihat itu seperti karinto (kue yang dibalut gula) atau FU (麩菓子snack ringan seperti makan kapas :D) . Kue ini disebut juga dengan zatsugashi karena dibuat dari bahan murah dan gulanya juga murah, bukan gula putih yang lebih mahal.

Lalu ada definisi kedua yaitu 一文菓子(いちもんがし) alias KUE MURAH, satu sekeping (uang). Ya 5 yen, 10 yen, 50 yen atau beberapa keping dari logam-logam itu. Murah atau tidak, bergizi atau tidak, tidak menjadi masalah. Siapa saja yang memakannya akan merasa senang. Apalagi anak-anak masih membutuhkan kalori tambahan, jadi memang dagashi itu menarik.

Dagashi ini mulai populer pada zaman Edo, sebagai kudapan masyarakat. Kalau bangsawan tentu makannya lebih mahal yang memakai bahan lebih mahal seperti beras dan gula (mochi dll). Kemudian setiap zaman memberikan warna dalam variasi kue-kue dagashi ini, bahkan akhirnya segala macam remahan ramen kering, jeli panjang, dan permen karet juga masuk ke dalam kategori dagashi. Kue-kue murah ini dijual di toko khusus bernama Dagashi-ya. Ciri khas kue ini jika di daerah perkotaan, hanya dibuka sesudah sekolah selesai sampai pada bel sore berbunyi. Coba perhatikan apakah di daerah teman-teman masih ada toko seperti rumahan begitu. Waktu saya tinggal di Nerima, ada toko dagashi seperti itu, dan saya juga pernah diajak anak mengunjunginya. Saya ikut merasakan senangnya anak-anak melihat begitu banyak macam kue yang murah. Di situ juga anak-anak bisa belajar berhitung, loh. Apakah cukup uang sakunya jika membeli beberapa kue.

Namun memang dagashiya itu semakin berkurang. Sekarang beberapa dagashi sudah masuk konbini atau di supermarket di pojok khusus yang biasanya ditaruh di rak paling bawah sehingga anak kecil bisa meraihnya. Saya ingat sekali anak saya membeli permen karet dengan gambar Felix the Cat seharga 10 yen di konbini. Jika buka bungkusnya dan mendapat tulisan あたり, kemudian bisa menukarnya dengan permen karet satu lagi.

Foto dari Amazon

Atau jika ibu-ibunya mau memberikan dagashi kepada anak-anak, sekarang bisa membeli satu kotak dagashi campur 駄菓子盛り合わせ (Dagashi moriawase) dengan harga dan isi bervariasi. Saya juga pernah membeli untuk pesta anak-anak. Praktis (便利Benri) sekali.

Mengapa saya tiba-tiba menulis tentang Dagashi, karena saya membaca bahwa hari ini tanggal 12 Maret adalah hari Dagashi だがしの日 (tidak ditulis dengan kanji supaya anak-anak bisa baca). Memang skala kecil, karena ditetapkan oleh sebuah organisasi yang bernama “DAGASHIで世界を笑顔にする会“ secara harfiah artinya “Perkumpulan untuk membuat dunia tersenyum dengan Dagashi” pada tahun 2015. Perkumpulan ini adalah perkumpulan produsen dan mereka yang berhubungan dengan dagashi.

Kenapa dipilih tanggal 12 Maret? Karena hari ini merupakan hari meninggalnya 田道間守(たじまもり) Dajima Mori yang menjadi Dewa Kue di kuil Nakashima Jinja di Hyogo.

Kalau kamu suka Dagashi yang mana?

Kalau saya suka yang namanya Morokko Yoguruモロッコヨーグル, seperti krim manis-manis segar gitu. Kadang pengen cari sih 😀

Morokko Yoguru
 
Leave a comment

Posted by on March 12, 2022 in Uncategorized