RSS

Author Archives: Imelda

About Imelda

Seorang tanpa suku bangsa yang tetap mencintai Indonesia meskipun tinggal di Tokyo. Dosen bahasa Indonesia, penerjemah, editor/proof reader, narator.

Setsubun 節分

Oni wa soto, ehomaki wa kuchi 😀

Hari ini tanggal 3 Februari adalah hari Setsubun 節分. Biasanya jika kita katakan Setsubun orang akan berkata “Oh Oni wa soto” itu ya? Yang lempar kacang kedelai itu ya? Yang bulan Februari ya? Padahal sebetulnya Setsubun itu ada 4 kali dalam setahun. Karena setsubun sebetulnya berarti Kisetsu wo wakeru 季節を分ける, membagi musim. Dan musim dalam setahun itu kan ada empat 春夏秋冬, jadi selayaknya Setsubun juga ada 4. Tapi memang yang terkenal adalah Setsubun menjelang musim semi, sehari sebelum 立春 risshun.

Awalnya memang kebiasaan dari China yang dipakai oleh Kaisar Monmu (736) sebagai upacara mengusir ONI (saya terjemahkan setan saja ya? yang dalam hal ini penyakit karena pergantian musim) di kalangan istana, dan mulai menyebar di masyarakat biasa pada jaman Muromachi (1338-1573). Dahulu ada kebiasaan untuk mengusir ONI ini dengan menaruh HIIRAGIIWASHI柊鰯, yaitu hiasan dari kepala ikan Iwashi yang ditusuk dengan daun Hiiragi (daun yang bersudut tajam). Bau kepala ikan dan sudut tajam daun dipercaya bisa mengusir ONI. Tapi itu dulu!

Sekarang tinggal dua kebiasaan yang dilakukan, yaitu

1. Melempar kacang kedelai ke arah luar. Diharapkan dengan lemparan kedelai ini sang setan (ONI) akan lari dan membawa pergi kesialan dan penyakit bersamanya. Sambil melempar kedelai ke arah luar rumah biasanya kita akan berkata, “Oni wa soto, fuku wa uchi (Setan pergilah, keberuntungan/kebahagiaan datanglah)”. Anak-anak biasanya akan memakai topeng Oni, dan melemparkan kedelainya. Anak-anak juga akan mengambil kacang kedelai (selain yang dilempar) sesuai umurnya untuk dimakan. Jadi kalau umur 9 tahun, mengambil 9 butir kacang untuk dimakan. Dengan makan kacang kedelai ini, diharapkan badan menjadi kuat dan tetap sehat serta tidak terkena masuk angin, penyakit yang umum di musim dingin.

Yang lucunya, saya membaca bahwa di daerah Hokkaido, Jepang utara dan Kyushu selatan, yang dilempar adalah kacang tanah. Alasannya, kacang tanah yang masih berkulit itu sesudah dilempar dapat lebih mudah dikumpulkan dan dimakan (emak tidak mau rugi 😃). Iya sih, kalau mau mengumpulkan kacang kedelai yang sudah dilempar sulit juga dan kotor kan. Biasanya ibu-ibu akhirnya mengumpulkan pakai sapu saja, kemudian langsung dibuang ke tong sampah.

Kadang-kadang di sekolah akan muncul orang berkostum ONI, biru Ao-Oni dan merah Aka-Oni, datang dan menggoda anak-anak. Kemudian anak-anak akan melemparkan kacang ke arah ONI itu. Di penitipan anak atau TK biasanya banyak anak yang takut dan menangis. (wajar ya 😃)

2. Makan sushi gulung malu-malu. Loh kok malu-malu? Sebetulnya sih bukan malu tapi maru. Tapi bagi orang Jepang kan pengucapan “malu” dan “maru” itu sama, jadi ya saya katakan saja malu-malu 😃Maru itu adalah bulat. Terus terang saya pernah bingung melihat nama toko di Shibuya yang hanya bertuliskan OIOI kok dibaca Marui. Ternyata O nya itu Maru = bulat dan I nya ya dibaca i. Memang membaca tulisan di Jepang kadang perlu putar otak untuk bisa mengerti artinya, meskipun kita sudah bisa bahasa Jepang.

Tapi dengan adanya kata maru yang berarti bulat itu juga, bisa membuat orang Jepang yang belajar bahasa Indonesia cepat hafal kata “malu”. Biasanya saya mengajarkan “Maru hadaka de Malu hazukashii” (Telanjang BULAT jadi Malu). Biasanya sih tokcer tuh untuk menghafal kata malu.

OK, kembali ke topik, jadi pada peringatan SETSUBUN ini ada kebiasaan untuk makan sushi bulat-bulat, sushi yang berbentuk gulung, yang memang juga “bulat padat” berisi 7 macam “lauk”. Namanya “Marukaburi” まるかぶり atau “Ehomaki” 恵方まき. Dan ternyata waktu saya mencari informasi, eho berarti lucky direction, arah mujur. Mewakili 7 dewa, yang disebut Shichifukujin七福神, 7 macam “lauk” diisi dalam nasi sushi untuk kemudian dilinting.

Tujuh jenis lauk itu adalah kanpyo (sejenis mentimun yang dikeringkan), ketimun, jamur, rumput laut, unagi (belut) dan abon denpun, telur dadar, atau yang lainnya. Bahkan pasti ada yang pernah lihat di TV ada yang membuat ehomaki berbalut emas senilai 50.000 yen saja! (Mau dong mentahnya hehehe)

Nah, kalau membeli ehomaki di toko, biasanya akan diberikan kertas berisi cara makan sushi gulung ini. Di situ biasanya tertulis arah mujur tahun tersebut (setiap tahun beda), dan untuk tahun 2022 adalah 北北西微北 (hoku hoku seibihoku)  mudahnya arah utara sedikit ke barat,deh. Jadi sambil menghadap ke arah ini kita makan bulat-bulat sampai habis satu batang sushi gulung ini (jangan satu suapan ya… nanti keselek 😃) . Dan sembari makan membatinkan keinginan untuk tahun ini. Misalnya supaya lulus ujian, dapat pacar, sehat dll.

Kebiasaan makan Ehomaki ini termasuk kebiasaan yang baru timbul, sekitar jaman Tokugawa – Meiji dan bisnis memang berperan dalam penyebaran kebiasaan ini, dengan mengatakan : “Kalau makan ehomaki satu tanpa berhenti maka penyakit menjauh dan keberuntungan mendekat, tapi kalau berhenti di tengah-tengah berarti melepaskan keberuntungan”.

Tapi zaman modern sekarang bahkan sudah banyak yang mulai mengganti kebiasaan makan ehomaki dengan bolu gulung, pokoknya bulat digulung-gulung deh. Mungkin kita bisa kenalkan lemper, arem-arem atau gogos sebagai pengganti ehomaki ya? 😃

Bagaimana? Sudah siap dengan kacang kedelai dan ehomaki?Jangan lupa siapkan sapu juga ya 😃.

Advertisement
 
Leave a comment

Posted by on February 3, 2022 in Uncategorized

 

Winter Solstice

Bahasa Jepangnya Touji 冬至 .Tanggal 22 Desember 2021 menurut penanggalan Jepang adalah TOUJI冬至, bahasa Inggrisnya Winter Solstice. Tadi saya lihat teman saya mengatakan di Singapore (Etnis China) merayakan Dōngzhì Festival dan menikmati mochi seperti wedang ronde (jadi pengen deh).

Memang Winter Solstice ini sepertinya dirayakan meriah di Asia Timur ya? Pemikirannya bahwa pada hari ini memang matahari (siang) akan terpendek, tapi berarti mulai hari ini juga matahari semakin panjang, kan? Jadi dianggap sebagai hari kelahiran alam (matahari), sehingga dari zaman dahulu sudah dirayakan besar-besaran.

Nah, kalau Jepang?Jepang hanya mengetahui bahwa “pada hari ini siangnya terpendek dalam setahun” karena posisi matahari di bumi belahan utara berada pada derajat merendah ke arah selatan. (Kalau di gambar berada di sekitar jam 2). Dan mulai Touji ini, berarti kita sudah memasuki FUYU HONBAN冬本番, the real winter! (Siap-siap makin dingin ya 😃 ).

Di Jepang tidak ada perayaan khusus, tapi ada kebiasaan orang Jepang untuk makan labu/waluh pada hari Touji ini, dan berendam air panas dengan Yuzu 柚子 (sejenis jeruk).Tetapi sebetulnya alasan makan labu kuning/waluh itu karena nama labu dalam bahasa Jepang adalah KABOCHA yang di tulis dengan kanjinya 南瓜 atau bisa dibaca dengan なんきんNANKIN, jadi berakhiran huruf N ん. Dipercaya bahwa pada Touji ini baik atau mengundang keberuntungan jika makanan sesuatu yang berakhiran huruf N ん. Alasannya, ん adalah huruf terakhir dalam deretan huruf Jepang. Ini juga ditarik kesamaannya dengan matahari yang mendekati akhir (terpendek), seakan mengucapkan “otsukaresama” kepada matahari. Sehingga menutup tahun dengan matahari terpendek ini, dikaitkan dengan huruf ん. Filosofi orang Jepang yang dalam ya. Berterima kasih pada matahari yang selama ini sudah menerangi kita.

Jadi, sebetulnya boleh dong makan にんじんninjin (wortel), れんこん renkon, だいこんdaikon, ぎんなんginnan, きんかんkinkan, かんてんkanten (agar-agar) danうんどんundon (udon). Bisa dilihat kebanyakan pakai 2 ん kan, jadi lebih bagus lagi deh (y) . Tambah bagus lagi kalau untuk kita, orang Indonesia jika makan RAWON らわぉんdan RENDAN れんだん! Hahaha yeay… orang Indonesia memang selalu beruntung! (saya akan semakin beruntung kalau ada yang kirim rendang nih)

Lanjut dengan cerita si labu yang bernama なんきん Nankin. Banyak orang mengetahui bahwa labu adalah masakan musim dingin, tapi sebenarnya labu itu sebetulnya sayuran musim panas loh. Dibawa dari selatan 南, sehingga namanya pun menjadi 南瓜, uri (timun) selatan. Tapi meskipun sayuran musim panas, labu bisa tahan lama disimpan. Selain filosofi tahan lama, kabocha mengandung vitamin A dan B- karotin, sehingga menyehatkan tubuh. Tubuh yang sehat diperlukan dalam menghadapi suhu yang terus menurun kan? Apalagi pada hari Touji juga dipercaya bahwa matahari sudah mencapai titik terendah itu berarti juga kondisinya lemah. Sambil menunggu matahari baru, perlu untuk menjaga kesehatan. Untuk menghangatkan badan, kita juga diharapkan berendam di air panas yang ditaruh buah Yuzu ゆず湯. Konon Yuzu 柚子 mengandung Vitamin C dan asam citrat yang dapat memperlancar peredaran darah dan mencegah masuk angin. Masukkan 1-2 buah Yuzu dalam bak mandi begitu saja, atau kalau mau lebih tercium harumnya Yuzu, bisa memotong Yuzu menjadi dua dan masukkan ke bak. Tapi memang kulit nya akan mengotori air dalam bak dan menyusahkan waktu membersihkan. Saran saya untuk memudahkan membersihkan bak nantinya, masukkan potongan Yuzu ke dalam saringan sampah dapur atau bekas net buah dan ikat. Setelah selesai tinggal buang saja … poi ポイ―!

Selamat makan wedang ronde, rawon dan rendang ya 😃 …dan semoga teman-teman tetap sehat dalam “bebersih besar-besaran a.k.a. oosoji 大掃除” , menyambut Natal bagi yang beragama kristen, dan menutup tahun 2021.

Tulisan ini pernah dimuat di FB Grup “Wanita Indonesia Berkarya di Jepang” dengan sedikit perubahan.

 
Leave a comment

Posted by on December 21, 2021 in Uncategorized

 

Si Chigo san

Selamatan Shichigosan 753 七五三祝い. Bukan nama orang yang bernama Shichigo loh, tapi ini adalah peringatan yang jatuh pada tanggal 15 November setiap tahunnya terutama untuk keluarga yang punya anak-anak, baik anak lelaki maupun anak perempuan.

Sesuai dengan namanya, shichi 七 = 7, go 五 =5, dan san 三 =3. Pada hari ini mereka yang mempunyai anak perempuan berusia 3 dan 7 tahun, serta anak lelaki berusia 5 tahun (di beberapa tempat ada juga yang merayakan untuk anak lelaki berusia 3 tahun), merayakan “kesehatan” dan perkembangan anak-anak mereka dengan berdoa di Jinja atau Kuil (dan sekarang juga banyak yang merayakannya di gereja Jepang). Dan pada usia-usia inilah anak-anak ini pertama kali memakai baju tradisional Jepang, kimono 着物untuk anak perempuan dan hakama 袴 untuk anak laki-laki.

Kebiasaan ini ternyata baru dimulai pada jaman Tokugawa Tsunayoshi 徳川綱吉tanggal 15 November 1681, untuk mendoakan kesehatan anaknya Tokumatsu 徳松. Kemudian menyebar dari Edo 江戸 ke seluruh negara. Secara mudahnya, kebiasaan shichigosan ini terjadi karena dulu anak-anak berusia dibawah 7 tahun itu banyak yang sakit dan tidak bisa hidup terus. Jadi bagi yang sudah melewati tahun ke 3, ke 5 dan ke 7, orang tua kemudian mengucapkan syukur kepada dewa-dewa atas pertolongan telah melindungi anak-anaknya. Diharapkan setelah usia 7 tahun, anaknya akan tumbuh sehat terus sampai nanti upacara berikutnya pada usia 20 tahun, yaitu hari dewasa Seijin no hi 成人の日, waktu anak-anak itu dinyatakan sebagai orang dewasa.

Kenapa diperingati tanggal 15 November? ya selain dari tanggalnya Tokugawa mendoakan anaknya, juga karena menurut penanggalan kuno, pas tanggal 15 November itu Oni 鬼 (Demon) tidak ngider-ngider cari mangsa 😃, jadi kecuali pernikahan, semua selamatan bisa diadakan pada tanggal tersebut. Baru tahu bahwa ada juga waktu si Oni itu dikerangkeng ya? 😀 Pasti berkat jasa si Momotaro 😃

Tapi yang lucu ada juga yang mengatakan bahwa ditetapkan tanggal 15 itu karena 7 + 5 + 3 jadi 15 😃 Iya juga siiiih! Dasar orang Jepang, bisa aja ya 😃 Nah waktu 753 ini, keluarga membawa anaknya ke kuil dan mendoakan mereka. Tapi cukup banyak yang HANYA berfoto bersama di Photo Studio (termasuk saya untuk dua anak laki-laki). Kalau mau berfoto di Photo Studio yang terkenal harus reserve jauh-jauh hari. Cukup mahal, karena biasanya baju mereka pinjamkan juga (biasanya lengkap dengan make up segala). Belum lagi kalau pergi bersama kakek-nenek…siap-siap saja diambil foto banyak dan “dirayu” untuk membeli semua. Sepertinya semua Photo Studio (semua bisnis sih!) tahu pasti Kakek-nenek ini akan merogoh kocek terdalam DEMI cucunya 😃

Selain berpakaian kimono, anak-anak ini akan membawa kantong persegi dengan gambar burung bangau 鶴 つる atau kura-kura 亀 かめ berisi permen bulat merah-putih bertuliskan kanji 寿 ことぶき. Namanya Chitoseame 千歳飴 chotose itu dari kanji 1000千 dan usia 歳 さい, permen untuk 1000 tahun, dengan maksud anaknya dapat panjang umur. Konon permen itu berdiameter 1,5 cm dan panjangnya sampai 1 meter. Dulu semestinya dirayakan pada usia 7,5,dan 3 ini menurut kazoe doshi数え年, jadi dikurang 1 tahun (karena begitu lahir sudah berusia 1 tahun). Jadi semestinya dirayakan pada waktu anak berusia 6,4 dan 2. Tapi sekarang sudah tidak terlalu ketat sehingga bisa menurut kazoedoshi atau mannenrei満年齢 yang sesuai dengan usia sebenarnya. Sekarang pun tidak perlu pergi ke kuil khusus pada tanggal 15 November, tapi bisa kapan saja mulai bulan Oktober sampai November, memilih hari Sabtu/Minggu yang memungkinkan seluruh keluarga berkumpul bersama.

Sekian tahun yang lalu
 
Leave a comment

Posted by on November 13, 2021 in Uncategorized

 

Ritto 立冬: Awal Musim Dingin

Selamat memasuki musim dingin! Ya mulai hari ini 7 November 2021, sampai dengan tanggal 4 Februari nanti, kita berhak mengatakan kita sedang menjalani musim dingin di Jepang. Menurut kalender, hari ini adalah RITTÕ 立冬 りっとう. Tanda-tandanya air mulai membeku dan tanah mengeras. Pagi dan malam mulai mendingin. Kemudian 4 Februari ini disebut 立春 risshunりっしゅん.

Hari susu coklat panas!

Dan rupanya ada beberapa hari peringatan yang ditetapkan untuk tanggal ini. Ingatkan waktu setsubun bulan Februari kita makan sushi gulung 巻きずし Makizushi?Rupanya hari ini juga mestinya makan itu. Padahal saya tadi ke restoran sushi, tidak tahu bahwa harus makan makizushi. Sayang terlewat deh.

Ada lagi yang menetapkan bahwa tanggal ini adalah hari Yutampo 湯たんぽ. Tahu kan yutampo? Itu adalah alat pemanas sederhana yang berupa jerigen gepeng 😃 Kita harus memasukkan air panas ke dalamnya, untuk kemudian memasukkan yutampo itu dalam futon kita. Kaki bisa hangat, loh. Sebaiknya setiap rumah punya yutampo untuk persiapan jika terjadi gempa bumi dan listrik/gas tidak nyala. Paling tidak bisa menghangatkan badan dengan bantuan yutampo dan selimut. Saya juga punya, dan kadang saya pakai untuk penghangat kaki kalau sedang bekerja.

Lalu kalau lihat gambar yang saya buat, bisa tahu kan satu lagi peringatan yang jatuh pada hari ini, yaitu Hari KOKOA ココアの日, ya susu coklat. Ditetapkan oleh perusahaan pembuat cocoa bubuk, Morinaga seika, untuk mengingatkan bahwa paling enak (dan menghangatkan badan) jika minum cocoa panas pada musim dingin, lo.

Hari peringatan lainnya? Hari Nabe dan sake panas, juga hari tonkatsu (Babi goreng). 😃 Wah makanan semua nih. Memang sih, peringatan-peringatan seperti yutampo dan cocoa itu bisa-bisanya perusahaan saja untuk memopulerkan produknya. Bagaimana apakah teman-teman suka minum cocoa panas? Saya kalau tidak bisa tidur karena lapar kadang-kadang minum cocoa, lo.

 
Leave a comment

Posted by on November 8, 2021 in Uncategorized

 

Hari Budaya

Hari Budaya (Jepang)

Tanggal 3 November setiap tahun diperingati sebagai Hari Budaya/Kebudayaan di Jepang, dan merupakan hari libur nasional. Bunka no hi 文化の日, meskipun hari libur, biasanya di universitas (mahasiswanya) justru sibuk dengan penyelenggaraan festival universitas 大学祭 だいがくさい, atau bahkan masuk kuliah jika Hari Budaya itu tidak jatuh pada hari Sabtu/ Minggu.

Mengapa tanggal 3 November ditentukan sebagai Hari Budaya? Hari ini merupakan salah satu hari libur dari 15 hari libur di Jepang yang ditetapkan pada tahun 1948. Karena dalam UUD Jepang dikatakan bahwa Jepang menjunjung kebebasan, perdamaian dan kebudayaan. Dan biasanya pada hari ini di istana Kaisar diadakan penyerahan Bintang Kebudayaan 文化勲章, diadakan juga acara-acara kebudayaan, bahkan ada beberapa museum menggratiskan tiket masuk.

Bicara mengenai Bintang Kebudayaan, 文化勲章, penghargaan tertinggi dalam bidang Kebudayaan, dan memang yang terpilih adalah orang-orang Jepang yang dinilai berhasil memajukan budaya Jepang. Ada beberapa orang Jepang yang menolak pemberian Bintang tersebut dengan alasan yang sangat merendah. Salah satunya seorang artis drama, Sugimura Yoko 杉村春子menolak dengan alasan, terlalu berat untuknya, dan merasa tidak pantas menjadi wakil dari seniman-seniman yang telah meninggal di masa perang. Kakko ii 格好いい!

Selain dari Bintang Kebudayaan, berdekatan dengan Hari Budaya ini, biasanya pemerintah memberikan penghargaan kunsho untuk orang-orang sipil yang berjasa pada negara. Penghargaan Musim Gugur 秋勲章 あきくんしょう diberikan pada musim gugur, sekitar tanggal 3-7 November dan Penghargaan Musim Semi 春勲章 はるくんしょう pada musim semi sekitar Golden Week.

Untuk penghargaan ini pernah juga orang Indonesia menerimanya. Misalnya untuk tahun 2017, penghargaan diberikan kepada Kamaruddin Abdullah (Darma Persada春勲章) dan Dr. Oloan Pardomuan Siahaan (Darma Persada 秋勲章) oleh Duta Besar Jepang untuk Indonesia.

Tetapi sebenarnya Hari Budaya ini merupakan hari ulang tahun kaisar Meiji 明治天皇 (3 November 1852-30 Juli 1912), bernama asli Mutsuhito, yang merupakan kaisar Jepang ke 122. Sehingga ada pula gerakan yang ingin mengganti nama hari libur ini ke Hari Meiji. Dan ada satu hal yang baru aku ketahui di wikipedia Jepang adalah bahwa Hari Budaya ini BIASANYA cerah.

Pertanyaannya? Kapan Indonesia mempunyai Hari Budaya? Hari Seni? Konon sudah ada yang mengusulkan tgl 23 April yang adalah hari wafatnya Raden Saleh, atau 15 Mei hari kelahiran Affandi sebagai Hari Seni Rupa, tapi tetap menjadi wacana saja. Padahal di dunia ada Hari Seni Internasional pada 15 April, yang diambil dari tanggal dan bulan kelahiran seniman Leonardo da Vinci. Sepertinya sulit sekali Indonesia menetapkan Hari Seni/Budayanya, jika semua pihak (bukan hanya pemerintah loh) belum merasa pentingnya memelihara budaya Indonesia. Hari Bahasa Indonesia memang belum ada, tetapi ada BULAN BAHASA INDONESIA yaitu bulan Oktober setiap tahunnya. Sebulan euy…. Lama dong deh sih 😃

Budaya Jepang apa yang kamu suka?

Saya suka Shokubunka 食文化 a.k.a kuliner yang paling enak hehehe. Soalnya 恥の文化 Budaya Malu itu ada positifnya dan ada negatifnya juga sih…

 
1 Comment

Posted by on November 2, 2021 in Uncategorized

 

Ambilkan Bulan, Bu

Ambilkan bulan, Bu

Yang selalu bersinar di langit

Di langit bulan benderang

Cahyanya sampai ke bintang

Ambilkan bulan, Bu

Untuk menerangi

Tidurku yang lelap

Di malam gelap

(Ciptaan A.T. Mahmud)

Sudah melongok ke angkasa kemarin malam? Tanggal 23 September di Jepang (biasanya memang tanggal 22/23 September setiap tahunnya) adalah Aki Higan 秋彼岸, bahasa Inggrisnya Equinox Day.

Higan 彼岸, adalah istilah dalam agama Buddha. Kanji Higan sendiri baru ditempelkan sesudahnya, tapi kata Higan sering diartikan sebagai “dunia lain atau surga”. Jadi dalam agama Buddha Higan dianggap sebagai masa/waktu untuk mendoakan arwah mereka yang sudah meninggal. Dikatakan waktu, karena jika Higan itu tanggal 23 September 2021), sebetulnya masa mendoakan itu dimulai sejak 3 hari sebelumnya (disebut Higan-iri) sampai 3 hari sesudahnya (disebut Higan-ake). Pada waktu ini, keluarga Jepang akan “nyekar” mengunjungi makam keluarga, dan mendoakan leluhurnya.

Biasanya makam keluarga itu berada dalam kompleks kuil. Begitu datang, ambil ember kayu dan cidukannya, mengisi air dan mulai membasuhi batu nisan. Tidak perlu lagi membersihkan makam dari rumput seperti di Indonesia, karena biasanya sudah bersih. Setelah memberikan air pada batu nisan, menghias makam dengan bunga (biasanya menaruh di jambangan yang ada di kiri-kanan nisan) dan memasang hio (dupa), keluarga akan mengatupkan kedua tangan untuk berdoa. Selain pergi ke makam, sebetulnya orang Jepang juga mempunyai altar leluhur di rumah masing-masing. Di situ diletakkan sesaji berupa kue manis berbentuk seruni (banyak dijual set kue atau buah khusus untuk Higan), atau Botamochi 牡丹餅 atau kadang juga disebut ohagi お萩. Botamochi dan Ohagi sama bentuk dan rasanya, hanya penamaannya saja yang berbeda. Botamochi untuk Higan musim semi, dan Ohagi untuk Higan musim gugur. Botamochi ini sejenis mochi yang ditutupi dengan tumbukan kacang merah (bisa kasar atau halus). Jadi kalau biasanya pasta kacang merahnya di dalam mochi, untuk Botamochi itu di luar. Rasanya? Enak dan manis 😃 seperti makan nasi ketan 😃

Biasanya kalau pergi nyekar pas pada hari Higan, jalanan akan macet dan bunga akan mahal (hhihihi kok seperti di negara kita ya? Eh tapi ini kalau beli di dalam kuilnya kok). Bertepatan dengan AkiHigan, biasanya juga ada yang disebut dengan Tsukimi 月見, harafiahnya “melihat bulan”. Tentu bukan melihat burger dengan telur ceploknya Mac Donald, tapi memang dipakai sebagai waktu untuk menikmati bulan yang memang cantik di musim gugur ini. Ternyata tidak selalu Tsukimi pas bulan purnama, bisa kurang sedikit, atau lebih sedikit. Nama kerennya 中秋の名月(ちゅうしゅうのめいげつ) Chushunomeigetsu, atau yang diingriskan sebagai Mid-Autumn. Kalau di Cina, Singapore, Taiwan banyak yang makan Moon Cake, tapi di Jepang biasanya makan Tsukimi Dango (bukan Tsukimi Burger ya hehehe). Sambil menikmati keindahan bulan, makan dango dan minum teh hijau (atau sake 😃 ).

Chushunomeigetsu ini juga disebut Malam ke 15 十五夜. Nah loh, 15nya dapat dari mana ya? Menurut penanggalan kuno, sebetulnya yang disebut musim gugur itu dari bulan Juli sampai September. Pertengahan musim gugur itu jadinya bulan Agustus, tepatnya tanggal 15 Agustus. Tapi penanggalan sekarang kira-kira terlambat 1 bulan, sehingga yang dinamanya 十五夜 itu adalah pertengahan September, waktu bulan purnama. Tapi ternyata dari survei selama ini, kesempatan kita melihat bulan jelas dan indah itu hanya 67%-an saja. Karena biasanya pada hari ke 15 十五夜 itu hujan. Karena garis curah hujan biasanya berada di atas kepulauan Jepang.

Sudah sejak dulu kala, orang Jepang memuja Bulan. Tapi baru sekitar abad ke 9 (Zaman Heian), bangsawan berkumpul minum sake sambil memandang bulan. Untuk masyarakat biasa, baru mulai zaman Edo (1600-) ikut menikmati bulan seperti kalangan istana. TAPI masyarakat biasa itu lebih memuja bulan dengan Tsukimi karena menjelang panen. Festival panen padi, sehingga mereka berkumpul sambil berharap semoga panen berhasil. Di beberapa daerah mulai memasang orang-orangan yang disebut kakashi 案山子. Pada acara tsukimi biasanya orang Jepang menghias dengan daun susuki yang seperti alang-alang. Rupanya ini menyerupai padi, sehingga dianggap bisa menghalau roh jahat.

Tsukimi dango, yaitu mochi bulat yang putih menyerupai bulan ini disusun menyerupai piramid. Jumlahnya 15 karena Malam yang ke 15. Dan mochi yang teratas dianggap menjadi jembatan dengan dunia lain. Selain tsukimi dango, susuki, biasanya di pertanian menghias dengan panenan ubi, chestnut dan edamame. Tapi terutama satoimo, karena sebetulnya nama lain dari chushunomeigetsu adalah 芋名月 imomeigetsu.

Nah, jika tidak bisa menikmati Malam ke 15, atau Tsukimi hari ini, sebetulnya kita juga bisa menikmati Malam ke 13 十三夜dan ke 10 十日夜. Loh, kan mestinya sudah lewat? Ternyata menurut perhitungan Malam ke 13 itu jatuh pada tanggal 18 Oktober 2021 dan Malam ke 14 jatuh pada tanggal 14 November 2021.

Tetapi memang bulan purnama di musim gugur dan dingin indah ya. Mungkin karena kita (mulai) merasa dingin, melankolis dan romantis. Yang menjadi pertanyaan sekarang, mengapa di bulannya orang Jepang terlihat bayangan kelinci yang sedang membuat mochi? Apakah kita orang Indonesia juga sama melihat ke bulan dan membayangkan kelinci? Berdasarkan survei lagi, ternyata yang melihat di bulan itu ada kelinci hanya di daerah Asia (Jepang, Cina, Korea), sedangkan daerah Eropa misalnya melihat ada bayangan wanita, atau di Arabia melihat singa.

Kenapa kelinci? Di Jepang ada cerita turun temurun bahwa ada kelinci yang tinggal di bulan. Dan ini sebetulnya berasal dari cerita agama Buddha seperti begini:

Dahulu kala kelinci, rubah dan monyet. Suatu hari mereka bertemu seorang kakek tua yang lelah dan kelaparan. Kemudian mereka bertiga mengumpulkan makanan untuk si kakek. Monyet pergi ke gunung dan mengumpulkan buah. Rubah pergi ke sungai dan mengambil ikan. Kelinci mencari dan mencari, tapi tidak mendapat apa-apa. Karena tidak mendapat apa-apa, kelinci kemudian berkata, “Silakan makan saya!”, dan dia terjun ke api, supaya dagingnya bisa dimakan oleh si kakek. Rupanya si kakek adalah Taishakuten, (Shakra, Mahadewa) yang hendak menguji ketiganya. Terharu pada kelinci, Taishakuten mengirim kelinci ke bulan, supaya menjadi teladan semua orang.

Sedih ya… saya juga baru tahu cerita kelinci yang sedalam ini. Tapi kenapa kelinci harus membuat mochi di bulan? Ada versi yang mengatakan bahwa si kelinci membuat mochi untuk si kakek, atau supaya si kelinci tidak akan kelaparan. Tapi yang paling masuk di akal adalah bahwa Festival Mid Autumn itu merayakan panen, yaitu beras. Dan mochi berasal dari beras. Dilambangkanlah beras menjadi mochi dalam legenda turun temurun di masyarakat Jepang. Kita bisa mengakui bahwa Jepang memang membawa unsur-unsur penting kehidupan manusia dalam kebudayaannya, dan menghargai setiap unsur sebagai suatu hadiah dari alam, jika tidak mereka katakan “Tuhan”.

Tulisan ini pernah dimuat di FB Grup “Wanita Indonesia Berkarya di Jepang” dengan sedikit perubahan.

 
Leave a comment

Posted by on September 23, 2021 in Uncategorized

 

Buta Huruf atau Melek Huruf?

Hari ini tanggal 8 September merupakan International Literacy Day, yang ditetapkan pada tahun 1966 oleh UNESCO setelah diadakannya konferensi pemberantasan buta huruf di Teheran, Iran (8- 19 September 1965). Ditetapkan menjadi hari literasi internasional itu supaya menjadi pengingat pentingnya pengentasan buta huruf di dunia.

Dalam bahasa Indonesia International Literacy Day ini diterjemahkan menjadi Hari Literasi Sedunia. Tetapi ada pula yang menerjemahkan menjadi Hari Aksara Internasional. Apakah literasi dan aksara sama?

Menurut KBBI aksara itu sama dengan huruf. Sedangkan penjelasan literasi adalah kemampuan menulis dan membaca, atau penggunaan huruf untuk mempresentasikan bunyi atau kata. Memang, tanpa aksara kita tidak akan dapat baca dan tulis.

Dalam Bahasa Jepang istilah “buta huruf” disebut 文盲 もんもう Monmo TETAPI di Jepang tidak memakai lagi istilah ini. Ingat, kan, masalah Sabetsu yogo 差別用語 yang pernah saya tulis? Kata-kata diskriminatif.  Karena 盲 itu dibaca めくら buta, jadi huruf 盲 itu sendiri menjadi huruf yang diskriminatif.

Waktu saya akan menulis thesis, saya mencari istilah buta huruf, dan tentu menemukan kata Monmo itu. Oleh dosen saya, harus diganti menjadi 識字 しきじ shikiji atau melek huruf. Tentu dia menjelaskan soal sabetsu yogo itu, tapi maklum baru datang ke Jepang, jadi tidak nyantol deh penjelasannya. Nah karena saya mau menulis tentang tingkat buta huruf (文盲率Monmoritsu), saya harus mengganti istilahnya dengan tingkat melek huruf/ literasi (識字率Shikijiritsu) daaaaaan menghitung semua angka kebalikannya tentu. Semua datanya kan angka buta huruf, bukan angka melek huruf :D, repot deh.

Di situ saya juga menyempurnakan skripsi saya tentang Terakoya, dengan angka-angka yang baru saya temukan. Sedikit info mengenai tingkat melek huruf di Jepang, pada saat Restorasi Meiji 1868 saja, sudah tinggi. Ada seorang Inggris yang mengatakan “Setiap saya berjalan ke mana-mana di Jepang, saya melihat orang Jepang membaca!”. Memang banyak faktor yang mendukung tingginya tingkat melek huruf di Jepang, antara lain dengan penyebaran Terakoya di seluruh negeri. Terakoya ini adalah tempat belajar yang hanya mengajarkan yomi kaki soroban 読み書きそろばん baca, tulis, hitung (dengan swipoa/sempoa). Memang sih, pendidikan dasar kan memang hanya 3 ilmu itu, dan ini menjadi penekanan dalam pendidikan di Jepang bahkan sampai sekarang. Selain itu, penyebaran tulisan terjadi dengan adanya kegiatan penulisan kembali dokumen-dokumen sejak lama, bahkan sebelum ada mesin cetak.

Namun, saya juga menyadari bahwa tingkat melek huruf itu tergantung pada negaranya, ya. Kalau memakai standar alfabet, mungkin tingkat literasi orang Jepang akan menurun. Beberapa waktu lalu, saya mengikuti sebuah perkumpulan orang asing (berbahasa Inggris) yang menunjukkan aib orang Jepang yang tidak bisa menulis kata-kata bahasa Inggris dengan benar, atau salah menerjemahkannya dengan foto-foto. Judulnya saja Engrish in Japan. Awalnya sih ikut tertawa melihatnya, tapi lama kelamaan kok seperti dibuat-buat, dibesar-besarkan. Bagaimanapun juga mereka sudah berusaha untuk menerjemahkannya ke dalam bahasa Inggris, kan?

Sama saja dengan orang Indonesia yang tinggal di Jepang tetapi tidak bisa baca tulis. “Buta huruf deh kalau di Jepang!” Ini sering saya dengar. Mungkin sama kalau saya ke Korea atau ke Rusia :D. Saya harapkan orang Indonesia di Jepang, yang sudah pasti akan tinggal lama, untuk belajar paling sedikit bisa baca tulis hiragana, deh. Masih untung lo sekarang banyak huruf romawi (alfabet) di mana-mana. Berlainan dengan 20-30 tahun yang lalu.

Oh ya, saya mau cerita bahwa dalam acara Rumah Budaya Indonesia yang lalu, seorang Jepang memakai aksara Jawa hanacaraka dengan fasih. Saya bukan orang Jawa, sehingga wajar kalau saya tidak bisa. Namun seberapa banyak orang Jawa bisa membaca dan menulis aksara Jawa tersebut? Tingkat melek huruf Jawa pasti kecil, ya? Dan ini berlaku pula untuk semua bahasa yang memiliki tulisan khusus.

Tingkat literasi di Indonesia sekarang menurut data 92,8% Jepang 99%, tapi yang terendah 27% yaitu Sudan Selatan dan 28,1% Afganistan. Kalau mengingat SGD’s maka literasi masih menjadi masalah dunia yang harus dipikirkan semua warga dunia.

Tulisan ini pernah dimuat di FB Grup “Wanita Indonesia Berkarya di Jepang” dengan sedikit perubahan.

 
1 Comment

Posted by on September 8, 2021 in Uncategorized

 

KUJI

KUJI! Siapa yang tahu kanjinya? 

Mungkin banyak yang menebak: 九時 くじJam 9 ya?

Hari ini tanggal 2 September, tgl 9/2 kalau penulisan cara Jepang, jadi mesti berhati-hati kalau meringkas tulisan tanggal ya. Jangan 2/9 karena itu dibaca orang Jepang 9 Februari!

Nah tanggal 9/2 bisa dibaca KUJI (2 ニ itu bisa dibaca : ni, futatsu, dan ji seperti pada nama JIRO yang kanjinya 二郎) . Kuji yang diperingati tanggal 2 September itu adalah KUJI dari TAKARAKUJI 宝くじ, undian berhadiah yang ditetapkan oleh Bank Daiichikangyo (Sekarang Mizuho). Dulu sekali di Indonesia pernah ada yang namanya SDSB (SDSB, Sumbangan Dana Sosial Berhadiah, merupakan kupon berhadiah bagi para pembelinya. Kupon yang mirip voucher ini didalamnya terdapat nomer seri dan angka. Intinya Anda menebak, kalau tebakan Anda benar, Anda dapat hadiah.) yang kemudian dihentikan oleh pemerintah Indonesia tahun 1994, ya karena dianggap sebagai judi.

Saya, sebagai orang Indonesia yang baik (ciee), belum pernah beli undian. Jadi waktu awal kedatangan di Jepang, saya tinggal bersama keluarga Jepang, nenek di keluarga itu minta tolong saya beli 10 lembar takarakuji (@300 yen). Katanya,”Imelda, saya mau beli takarakuji tapi tidak bisa beli sendiri. Ini uang 3000 yen, kamu tolong belikan ya. Mungkin bisa beruntung dapat kalau kamu yang beli”. Jadilah saya membawa uang 3000 yen itu ke loket penjualan takarakuji dong.

Begitu sampai di depan loket:

“Takarakuji Ju mai kudasai” (Minta takarakuji 10 lembar)

“Bara? Renban?”

Nah loh, saya bengong. Bahasa Jepang saya belum sampai situ. Bara? Oh mungkin yang kertasnya ada gambar mawar ya? Renban… mbuh lah, saya Cuma tahu Rembang nya Jepara! Jadilah saya bilang:

“Bara 10 mai”

Begitu pulang, saya diberitahu bahwa lebih baik membeli Renban 連番 (nomornya berurutan) daripada bara バラ (nomor acak), karena Renban itu kesempatan tosen 当選 とうせん terpilihnya lebih besar. Baru tahu bahwa bara itu dari bara-bara (berserakan) 😃 Gimana sih orang Jepang kok singkat-singkat aja! hihihi

Lalu takarakuji yang saya beli bagaimana ceritanya? Saya tidak tahu karena tidak tanya. Tapi sepertinya sih tidak lolos deh. Tapi peristiwa membeli takarakuji itu membuat saya penasaran, uang takarakuji itu untuk apa ya? Ternyata banyak dipakai untuk pembangunan fasilitas umum, termasuk membiayai penanganan pertambahan manula, bencana, taman, pendidikan, kesejahteraan dan lain-lain.

Kemudian saya jadi penasaran dengan kata KUJI, karena tentu bukan kata takarakuji saja yang mengandung kata KUJI ini. Yang paling sering dipakai adalah KUJI wo hiku くじを引く(menarik undian) atau KUJIBIKI. Misalnya pada pemilihan pengurus PTA (Parent Teacher Assosiation) di sekolah. Tidak ada yang mau menjadi pengurus, sehingga harus memilih dengan cara mengundi. Saya pernah menjadi pengurus PTA karena terpilih dengan undian dan tidak bisa menolak deh.

Dan sebetulnya penarikan undian juga bentuknya bisa bermacam-macam. Ada yang dengan menulis nama/nomor di kertas, kemudian diambil satu orang. Ini lazim juga dilakukan di Indonesia. Tapi ada satu cara “pemilihan” itu yang saya rasa menarik, yaitu AMIDAKUJI あみだくじ. Cara pemilihan khas Jepang. (Namanya saja AMIDA sebutan untuk Sang Buddha).

Misalnya untuk memilih pengurus secara seimbang, bilang saja memilih seksi kebersihan, seksi konsumsi dan seksi acara, 3 jenis pekerjaan untuk 3 orang. Kita menuliskan 3 nama di atas, lalu 3 jenis pekerjaan di bawah, lalu antara orang dan pekerjaan dihubungkan dengan garis vertikal, dan masing-masing orang menarik garis horisontal sesukanya. Ntah mengapa, sebanyak apapun garis horisontalnya, pasti setiap orang akan mendapatkan pekerjaan yang berbeda. (Maaf mungkin kurang bisa dimengerti dengan kata-kata dan lebih baik dipraktekkan).

Tapi yang paling menarik adalah kata OMIKUJI 御神籤 pun berasal dari KUJI. Memang sih arti KUJI 籤 (susyahlah kanjinya!) sesungguhnya adalah memilih. Kalau pakai kata mengundi kesannya bagaimana gitu. Bagi yang pernah membeli OMIKUJI di kuil Jepang, pasti tahu ya, kita memasukkan uang, lalu mengocok tabung yang berisi batang bambu bernomor. Lalu kita lihat batang yang keluar dari lubangnya nomor berapa. Kemudian kita ambil kertas dari laci bernomor yang tertera pada batang pilihan kita. Tapi tentu kemungkinan untuk mendapatkan daidaikichi 大大吉 (silakan baca di sini) itu keciiiiiiil sekali (maksudnya amat sangat kecil :D)

Dari sekian banyak KUJI yang saya tuliskan, KUJI yang mana yang sudah pernah coba? Belum semua?

Hmmm mungkin sudah loh, yaitu dengan cara BINGO (dalam bahasa Jepang disebut BINGO KUJI) dan BINGO game ini menarik sekali! Apalagi kalau kartu yang kita bagikan itu masih kosong semua, sehingga bisa tulis angka sesukanya. Saya pernah bawa dan mainkan di keluarga besar saya, dan semua senang. SERU!

amidakuji

Tulisan ini pernah dimuat di FB Grup “Wanita Indonesia Berkarya di Jepang” dengan sedikit perubahan.

 
Leave a comment

Posted by on September 2, 2021 in Uncategorized

 

Mitigasi Bencana

Hari ini tanggal 1 September adalah hari Mitigasi Bencana, Disaster Prevention Day atau bahasa Jepangnya Bousai no Hi 防災の日.  Mengapa ditetapkan tanggal 1 September? Karena pada tanggal ini di tahun 1923 pukul 11:58 siang telah terjadi Gempa bumi besar Kanto yang banyak menelan korban 142.500 korban meninggal/hilang.

Sudah pernahkah teman-teman mengikuti 避難訓練ひなんくんれんhinan kunren latihan-latihan mitigasi bencana? Memang selama pandemi tidak ada, ya. Padahal bencana itu bisa terjadi sewaktu-waktu. Saya ingat waktu mengikuti latihan bencana di sebuah universitas. Saya sebagai dosen, begitu terdengar alarm, harus mengumumkan: “Ayo, berlindung di bawah meja!”. Lalu memerintahkan mahasiswa untuk mengikutiku, menuruni lantai 3 ke tempat pengungsian yang sudah ditetapkan, yaitu lapangan di sebelah gedung 10. Sebagai tanda “terima kasih”  kami menerima nasi dan biskuit tahan lama yang bisa disimpan 6 bulan. Tapi yang sempat membuat saya tertegun waktu mendengar dari kepala pelatihan yang mengatakan bahwa sebetulnya setelah latihan mengungsi ini, ada beberapa acara yang dilakukan di depan kampus, termasuk latihan pemadam kebakaran dan pengungsian dalam ruangan berasap (tahun lalu saya pernah ikut ruangan berasap ini). TETAPI ternyata semua unit pemadam kebakaran yang sedianya dipakai untuk latihan di universitas, dipanggil karena ada kebakaran sungguhan yang cukup besar sehingga semua unit dipanggil. Nah, kan. Bencana bisa terjadi setiap saat.

Biasanya untuk anak SD/SMP ada latihan bersama setiap bulan, bersama guru dan kepala sekolah. Saat itu ibu-ibunya tidak bisa ikut, tapi ada latihan yang namanya 引き渡し訓練 ひきわたしくんれんHikiwatashikunren. Latihan penyerahan anak (dari pihak sekolah) kepada orang tua. Orang tua diharapkan (tidak wajib, sih) menjemput anaknya masing-masing. Saat itu kami orang tua harus menyebutkan nama murid dan hubungan apa (ibu/bapak/nenek/kakek) dengan sang anak. Ini supaya guru tidak menyerahkan pada orang yang salah, atau bisa menjawab jika ditanya anak ini dijemput siapa.

Satu lagi pengalaman saya mengikuti latihan di SMP. Karena saya sekretaris PTA waktu itu, wajib ikut dan membantu sekolah dalam latihan tersebut. Tugas kami adalah memasak nasi Alphaアルファ米 Alfamai. Nasi Alpha ini cukup diberi air panas dan ditunggu 15 menit, jadi! Saya pernah punya ukurannya kecil, ukuran 1 orang. Ternyata ada yang ukuran besar, untuk dapur umum. Satu kantung besar untuk 50-60 orang. Karena kami ada 4 kelompok jadi waktu itu membuat nasi untuk 300 orang! Kantung besar itu diletakkan dalam satu kardus besar. Setelah nasi itu jadi, kami masukkan dalam plastik untuk dibagikan.

Nah, waktu membuat nasi Alpha ini, ada satu yang saya perhatikan. Waktu membuka kardus ada plastik alumunium berisi beras. Dan di dalam kardus itu tersedia pula sarung tangan plastik, plastik untuk pembagian nasi, sendok kecil, karet gelang untuk menutup plastik, dan yang menakjubkan ada juga GUNTING DARI KERTAS. Gunting itu cukup memadai untuk membuka plastik itu. Hebat ya, orang Jepang itu memikirkan semuanya sampai ke detail begitu. Bayangkan kalau dalam bencana mau buka plastik tapi tidak bisa. Sampai ke situ loh dipikirkan, dibayangkan dalam simulasi.

 
Leave a comment

Posted by on September 1, 2021 in Uncategorized

 

OBON お盆

OBON itu apa sih? Kalau lihat tulisan kanjinya お盆 bisa terlihat ada kanji piring 皿. Obon itu adalah nampan tempat meletakkan sesuatu. Nah kenapa masa tanggal 13-16 Agustus ini disebut OBON?

Rupanya merujuk pada sesaji yang diletakkan di piring dan ditaruh di depan altar Buddha. Masa khusus untuk keluarga memanggil arwah keluarga untuk pulang ke rumah (迎え火 mukaebi) , melewati waktu bercengkerama dengan anggota keluarga yang berkumpul dan pada akhirnya pada tanggal 16 mengantar sang arwah untuk pulang (送り火 okuribi).

Dalam menyambut obon ini, bagi yang “berduit” akan memanggil pendeta Buddha untuk datang ke rumah dan berdoa di depan 仏壇 Butsudan (altar buddha tempat bersemayam “jiwa” nenek moyang). Sang Pendeta berpakaian pendeta putih dengan kimono luar berwarna hitam dari bahan jala, dan dilengkapi dengan topi “caping” untuk melindungi kepala. (Saya pernah bertanya kira-kira berapa membayar pendeta datang waktu obon, dan dijawab sekitar 100.000 yen. Hmmm pantas hanya orang kaya yang tinggal di rumah besar saja yang “berani” memanggil pendeta untuk datang).

Dalam masa OBON ini, Butsudan atau altar Buddha di rumah akan dihias dengan lampion khusus, makanan persembahan seperti buah-buahan dan kue manis, selain dupa dan batang incense お香 oko, serta bunga houzuki ほうずきyang aneh karena seperti bunga kertas melembung. Saya baru tahu bahwa namanya di Indonesia adalah ceplukan.

Adapula daerah yang menghanyutkan sesajen ini ke sungai atau laut. Sesajen akan ditaruh dalam sebuah perahu kecil dan dihanyutkan bersamaan dengan lilin. Konon ini mendoakan mereka yang kehilangan nyawanya ditelan air dan ombak. Tetapi ini adalah tradisi yang lambat laun menghilang. Bagi warga jepang modern sekarang OBON disambut gembira karena bisa meliburkan diri dari kesibukan pekerjaan dan terik matahari. Memang pertengahan Agustus itu merupakan puncak panas-panasnya udara di Jepang. 

Bagi yang tidak mempunyai 仏壇 Butsudan (karena bukan anak pertama) maka cukup melakukan ziarah, nyekar ke makam keluarga, yang biasanya terletak di halaman kuil. Dan merupakan pengetahuan umum pula, bahwa makam dan kuil Buddha itu biasanya terletak di tempat yang tinggi, berbukit, dan biasanya masih banyak “hijau” pepohonan.Bagi keluarga yang mempunyai anggota keluarga yang baru meninggal, dan sudah lewat hari ke 49 (四十九日)nya, memperingati Obon pertama yang disebut 初盆 hatsubon atau 新盆 shinbon/niibon.

Di daerah-daerah, keluarga akan menerima kedatangan selain saudara juga teman-teman dekat dari yang baru meninggal, yang membawa sesuatu untuk dipersembahkan. Pada waktu OBON ini juga biasanya diadakan tari bersama yang disebut BON Odori 盆踊り. Dengan membuat lingkaran biasanya dinyanyikan bersama “Tsukiga deta deta, tsuki ga deta ya yoi yoi……” Gerakannya mudah dan saya pernah diajari : hotte hotte mata hotte (hotte= menggali, dengan gerakan menggali kanan-kiri) katsuide katsuide sagatte (katsuide = memikul memikul mundur ), lalu tepuk tangan seperti membersihkan tangan dari pasir. Tentu gerakan BON Odori berbeda di tiap daerah, tapi yang saya pelajari disebut dengan tankobushi 炭坑節 (tari penambangan batu bara) dari daerah Shizuoka. Setiap saya menarikan Bon Odori saya pasti ingat tari Sajojo deh, tarian massal di Indonesia. Tapi sepertinya gerakannya susah ya? Soalnya saya tidak bisa 😃 mending Bon Odori deh.

Oh ya ada satu lagi yang belum saya terangkan di sini, yaitu keberadaan Terong dan Kyuri yang diberi kaki 4, yang kadang kala tidak hanya ditaruh di depan altar, tapi juga di depan rumah. Ini adalah 精霊馬 shoryouma atau kendaraan yang dipakai oleh arwah untuk datang dan pulang. Datang dengan kyuri きゅうり (melambangkan kuda) dan pulang naik terong ナス (melambangkan sapi). Maksudnya datang naik kuda supaya cepat sampai, dan pulangnya pelan-pelan saja naik sapi 😃

Yang lucu ada beberapa orang Jepang yang humoris, membuat ketimunnya bukan berbentuk kuda, tapi kapal terbang. Konon kakeknya yang meninggal adalah pilot pesawat. Atau ada juga yang berbentuk sepeda Harley. Bagaimana OBON teman-teman? Saya sendiri biasanya tidak merayakan Obon dengan keluarga suami. Selain mereka tidak terlalu taat dengan aturan agama Buddha dengan mengadakan upacara di rumah (pelit juga sih ngga mau bayar pendeta Buddha 😃) , pertengahan Agustus si menantu yang orang Indonesia ini biasanya sedang pulang kampung sih 😃 Masak saya panggil arwah sendirian di Jakarta, dengan jangka hihihi (ayoooo siapa yang pernah main jelangkung? Saya takut jadi tidak pernah hihihi).

Oh ya, musim Obon ini juga yang membuat semacam kebiasaan di Jepang untuk memutar film-film horor, dan menggambar monster-monster khas Jepang. Salah satunya adalah Hitotsume Kozou (Pendeta Bermata Satu) yang saya lihat pagi ini di sebuah museum.

Tulisan ini pernah dimuat di FB Grup “Wanita Indonesia Berkarya di Jepang”

 
Leave a comment

Posted by on August 13, 2021 in Uncategorized