RSS

Koukagaku Smog

Tadi sore aku mendapat email dari SD nya Kai yang bertajuk : 光化学スモッグ ( Koukagaku Smog) . Katanya kelurahan kami mengeluarkan peringatan ini, sehingga anak-anak SD kelas 5-6 yang seharusnya ada kelas renang dibatalkan dan disuruh pulang. Juga tambahannya anak-anak sedapat mungkin tidak bermain di luar rumah.

Langsung aku cari apa sih sebetulnya Koukagaku Smog itu. Ternyata bahasa Inggrisnya Photochemical Smog yaitu sebuah fenomena yang terjadi di langit yang terlihat berkabut, kusam akibat terjadinya campuran udara dengan bahan kimia yang mungkin keluar dari pabrik, mobil dsb. Semacam polusi udara sesaat.

Gejala ini banyak terjadi di musim panas, umumnya dari bulan Mei sampai September, meskipun kadang ada juga kasus pada bulan April dan Oktober. Biasanya terjadi pada siang hari, antara pukul 10 sampai pukul 5 sore. Suhu udara biasanya melebihi 25 derajat dan waktu  cuaca cerah. Kalau hujan tidak akan terjadi.Selain itu kondisi udara tidak berangin.

Akibat yang mungkin timbul adalah sakit mata, tenggorokan, kulit memerah, kesemutan di tangan dan kaki, sakit kepala dan muntah. Obatnya? Hanya mandi dan berada di tempat sejuk. Karena itu untuk SD dan SMP biasanya pelajaran olahraga akan dibatalkan.

sumber : https://ja.wikipedia.org/wiki/%E5%85%89%E5%8C%96%E5%AD%A6%E3%82%B9%E3%83%A2%E3%83%83%E3%82%B0

 
Leave a comment

Posted by on July 27, 2015 in Uncategorized

 

Parfait or Sundae

Ternyata hari ini tanggal 28 Juni, di Jepang merupakan hari PARFAIT. Tahu parfait kan? Itu sejenis dessert yang disajikan di restoran-restoran. Dalam gelas tinggi, kadang berisi es krim yang diberi buah-buahan dan/ atau coklat serta whipping cream.

Tapi yang mengherankan, kenapa justru tanggal 28 Juni ini ditentukan sebagai hari Parfait? Ternyata awal mulanya ditetapkan tanggal 28 Juni, karena pada tahun 1950 terjadi permainan baseball yang “perfect” untuk pertama kali.

Loh lalu apa hubungannya dengan Parfait. Ya, nama jenis dessert berasal dair kata “Parfait” yang berarti sempurna. Jadi dianggap dessert ini “sempurna” karena menaruh bermacam sweets dalam satu gelas, tanpa perlu mencampurnya, tapi terasa “sempurna” sebagai pencuci mulut.

Parfait mulai populer di Jepang sejak awal jaman Meiji (1867) dan sebetulnya merupakan tiruan dari Verrine yaitu penganan dari perancis bisa berupa entree, main dish atau dessert, asalkan ditaruh dalam gelas sehingga kita bisa melihat isinya apa. Tapi di Jepang Parfait itu sudah pasti hanya pencuci mulut.

Nah, masalahnya apa bedanya Parfait dan Sundae? Sebetulnya hanya dari asal katanya saja, parfait dari bahasa Perancis sedangkan Sundae dari bahasa Inggris. Dan kalau mau dicari sejarah kata “sundae” lagi ternyata dari kata sunday, yaitu sebuah dessert yang dijual pada hari Minggu. Karena pada hari Minggu (hari sabath) dilarang menjual Lemon Soda, jadi sebagai penggantinya dijuallah jenis dessert “Sundae” ini. Kalau dulunya hanya dijual hari Minggu, kemudian berkembang dijual setiap hari.

sumber dari sini

 
Leave a comment

Posted by on June 28, 2015 in Uncategorized

 

Hari Kue Jepang 和菓子の日

Baru tahu rupanya tanggal 16 Juni itu adalah hari Wagashi atau kue Jepang. Japanese sweets.

Bermula dari tanggal 16 Juni 848, Kaisar Jinmyou mempersembahkan 16 macam kue kepada dewa-dewa supaya sembuh dari sakit dan bisa hidup bahagia. Kebiasaan untuk makan kue Jepang pada tanggal itu ternyata masih terus berlanjut sampai jama Edo (tokugawa).

Pada tahun 1979, Asosiasi Kue Jepang akhirnya menetapkan tanggal 16 Juni sebagai Hari Kue Jepang. Memang kue Jepang ini cantik-cantik dan dibuat menurut musimnya. Meskipun bahan dasarnya kebanyakan sama, bentuk dan hiasan yang dipakai berbeda setiap musim. Dan untuk musim sekarang ini (musim panas) yang cocok adalah Mizu youkan, semacam dodol.

Saya sendiri tidak begitu suka kue Jepang, tapi selalu senang melihat kue-kue ini berjajar di etalase toko. Dan memang minum maccha atau teh hijau bubuk paling cocok sebagai teman kue-kue Jepang yang memang manis. Salah satu kue Jepang yang lumayan aku suka adalah Ichigo Mochi, mochi dengan stroberi di dalamnya. Stroberinya yang agak kecut menutup rasa manis pasta yang terbuat dari kacang merah yang merupakan isi dari mochinya.

Kue Jepang pada musim hujan dan musim panas. Sekitar Juni-Juli. Mizu youkan yang putih di atas. Kelihatan seperti jelly tapi bukan

 
Leave a comment

Posted by on June 17, 2015 in Uncategorized

 

Nanashino Gonbee 名無しの権兵衛

Tadi pagi aku sempat ngobrol sambil pelukan dengan si K, dan mengatakan padanya bahwa aku sudah memasukkan kertas permintaan diskusi dengan guru yang sebetulnya sudah aku serahkan sejak Senin lalu, tapi tidak pakai nama. Ya aku lupa menuliskan nama, sehingga gurunya tidak tahu itu kertas siapa. Lalu Kai berkata, “Nanashi no Gonbee ya!”.

Apa itu? Aku baru pertama kali dengar.

“Ya, itu di kelas semua bilang Nanashino Gonbe 名無しの権兵衛 untuk kertas tanpa nama…. Namanya tidak ada.”

Uw menarik nih. Padahal aku juga sering menemukan kertas test tanpa nama mahasiswa, sehingga biasanya aku mencari kemungkinan punya siapa dari gaya tulisannya. Dan biasanya ketemu sih siapa empunya.

Nanashi no Gonbee ini kalau ditelusuri sejarahnya, konon pada jaman Tokugawa, di daerah Fukugawa ada distrik pelacuran, yang tidak boleh mendatangkan wanita hiburan tanpa persetujuan pemerintah saat itu. Karena ini banyak perempuan yang akhirnya menyamar sebagai laki-laki untuk bisa masuk ke situ, dengan memakai nama GONBEE. Untuk mereka yang baru masuk ada cukup banyak yang tidak mempunyai nama Gonbe, sehingga diberi nama Nanashi no Gonbee 名無しの現べえ (nanashi = tanpa nama, jadi Tanpa Nama Gonbee).

Ada juga kisah yang menyatakan bahwa dulu ada syair dari kuil Hie, yang memuat Nanushi no Gonbee 名主の権兵衛, yang artinya sama dengan tanpa nama, sehingga tulisannya diubah menjadi 名無しの権兵衛.

Tapi kalau melihat nama Gonbee sendiri, dulu sering dipakai untuk nama orang-orang yang berasal dari kampung, yang dianggap rendah sehingga diberi nama Gonbee. Lalu ada yang nama kampungnya tidak diketahui sehingga menjadi Nanashi no Gonbee.

Lucunya waktu mencari sejarah nama ini, aku menemukan di wikipedia Jepang, bahwa nama seperti Nanashino Gonbe itu di bahasa Inggris memakai John Doe untuk lelaki dan Jane Doe untuk perempuan. Jadi kalau ada mayat tak dikenal, untuk sementara dinamakan seperti itu. Kalau jaman sekarang di Jepang, tentu tidak menamakan dengan Gonbee, tapi memakai nama Tarou untuk lelaki dan Hanako untuk perempuan. Misalnya Yamada Tarou dan Yamada Hanako. Bisa dilihat banyak pada contoh penulisan formulir dsb.

Lalu sampailah aku pada laman yang menyatakan nama-nama asal-asalan seperti ini untuk semua negara di dunia. Untuk Malaysia memakai si Anu dan si Polan, sedangkan yang tercantum di kolom untuk Indonesia adalah si Polan, dan teman bloggerku sering pakai si Fulan. Lucunya nama ini mirip dengan nama FULANO yang dipakai di Brazil, Uruguay, Puerto Rico, Spanyol dan Venezuela. (Lihat http://en.wikipedia.org/wiki/John_Q._Public#Variants_in_other_countries). Jadi berarti bahasa Indonesia mengambil dari bahasa Spanyol/Portugal ya.

Catatan: Selain 名無しの権兵衛 (Nanashino Gonbee) juga dipakai 何野 某 (Nanno Nanigashi)

 
Leave a comment

Posted by on June 4, 2015 in Uncategorized

 

老衰死 Mati Tua

Tadi waktu menonton berita di TV, disebutkan bahwa ada seorang terkenal (saya lupa siapa dan profesi apa) yang meninggal karena tua. 老衰死 Rousui-shi. Mati karena tua. Lalu Kai bertanya, “Mati karena tua, matinya bagaimana ya? Kok bisa mati?”

Lalu aku jelaskan, “Ya mati karena tua itu, karena badannya tidak berfungsi lagi. Makanpun tidak bisa dicerna lagi. Fungsi organ tubuhnya menurun drastis, Oma Poel seperti itu. Dia tidak sakit, tapi karena lambungnya tidak berfungsi menjadi lemah. Diinfus juga cairan infusnya tidak bisa diserap tubuh lagi. Seperti kabel listrik, awalnya sedikit yang terputus, lama-lama terbakar lalu mati”

Selain istilah Rousui-shi memang ada banyak macam istilah “mati” di Jepang, yang memang agak sulit diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia/Inggris. Yang paling populer di kalangan karyawan adalah Karoushi 過労死、mati karena penyakit atau mendadak, tapi akibat terlalu lama/banyak bekerja, di bawah tekanan atau kurangnya waktu istirahat. Sepuluh tahun terakhir (2014) didapat data bahwa jumlah kematian akibat terlalu banyak bekerja (overworked) itu sudah mencapai 10 kali lipat. Pada tahun 2013 saja tercatat 196 orang.

Istilah yang paling umum adalah Byoushi 病死 mati karena sakit. 安楽死 Anraku-shi, mati karena eutanasia bagi pasien yang sudah tidak tertolong, atau hidupnya ditopang oleh mesin saja. Secara hukum Jepang masih belum mengakui eutanasia ini.

Dalam kecelakaan atau musiah ada istilah 即死 sokushi. mati di tempat. Chisokushi 窒息死 mati kehabisan oksigen atau sulit bernapas. Biasanya disebut dalam kecelakaan tabrakan kereta api, dalam kondisi ketiban dan sulit bernapas. Toushi 凍死 mati membeku, Asshi 圧死 mati karena tekanan misalnya ketiban rumah. (ada pula istilah shitajiki 下敷き tapi ini belum tentu meninggal. Senshi 戦死 adalah mati di medan perang. 煙死 Enshi mati karena menghirup asap. Ada pula istilah Ihenshi 異変死 yaitu mati yang belum diketahui karena apa (dokter belum bisa menegaskan penyebab kematiannya) sehingga sering disbeut juga di televisi.

不死になるため、必死に生きるしかない。 supaya “abadi” harus “giat berusaha”

 
Leave a comment

Posted by on March 14, 2015 in Uncategorized

 

Tags: , ,

帰国子女

Dulu aku pernah mengajar di sebuah universitas swasta terkenal, Keio University. Waktu itu universitas ini sedang membangun fakultas baru di daerah Kanagawa. Akupun sempat bermain ke sana waktu ada festival universitas, lokasinya jauh tapi bangunannya modern dengan areal tanah yang luas. Tapi yang menarik di situ banyak kuliah berbahasa Inggris. Katanya banyak mahasiswa yang berkuliah di sana adalah KIKOKU SHIJO 帰国子女. Tidak ada padanan kata yang pas dalam bahasa Inggris atau Indonesia, tapi kalau mau diterjemahkan secara harafia 帰国=pulang ke negerinya sendiri dan 子女 anak perempuan. Anak perempuan yang pulang ke negerinya sendiri? Apa itu?

Jadi istilah ini berarti anak-anak yang karena sesuatu hal, misalnya orang tuanya ditugaskan ke luar negeri, bersekolah di luar negeri (baik itu sekolah lokal/ sekolah Jepang atau Internasional), dan waktu usia sekolah kembali ke Jepang. Tidak peduli berapa lama mereka di luar negeri, mereka disebut Kikoku Shijo, anak-anak yang kembali dari luar negeri. Kalau dipikir-pikir ini merupakan sabetsu 差別 pengelompokan, karena mereka dianggap TIDAK menguasai bahan-bahan pengajaran di dalam negeri. Bahasa Jepangnya tidak bagus, seperti ada aksen orang luar negeri dan kadang dianggap jago berbahasa Inggris (padahal belum tentu negara yang ditinggali itu berbahasa Inggris). Karenanya mereka SEPERTI diberikan handicap, diberikan “keringanan” supaya bisa masuk sekolah Jepang, dan lingkungan Jepang bisa maklum dengan kondisi mereka.

Karena mereka juga agak sulit berbaur dengan pendidikan Jepang, ada beberapa sekolah yang mengkhususkan diri atau mempunyai “jatah” kursi yang cukup banyak bagi mereka yang baru pulang dari luar negeri ini. Bagi para Kikoku shijo ini. Ini tercetus waktu kami membicarakan sekolah SMP untuk anak sulung kami. Ada sebuah sekolah yang bagus di dekat rumah, SD dan SMP yang berafiliasi dengan universitas negeri. Kalau mau masuk ke situ harus mengikuti ujian khusus (untuk SD/SMP negeri tidak ada ujian). Jadi waktu kami mendengar ada teman si sulung yang berasal dari SD itu, tapi SMP nya pindah ke negeri bersama Riku, kami heran. Kok sekolah bagus ditinggalkan. Sayang sekali.

Baru kami maklum bahwa memang di SMP itu pelajarannya banyak yang lain dari pelajaran di SMP biasa. Konon banyak berbahasa Inggris, karena banyak Kikoku Shijo yang bersekolah di situ. Oh… kalau memang begitu kami maklum bahwa untuk anak-anak Jepang biasa, yang belum pernah ke luar negeri, bertahan di sekolah itu akan sulit. Sehingga dia kemudian pindah ke sekolah biasa.

Dari pembicaraan kami mengenai Kikoku Shijo itulah, aku merasa aneh kenapa dipakai kanji 子女 yang seakan menunjuk pada gender wanita saja? Ternyata memang Kikoku Shijo itu menunjuk anak perempuan dan untuk anak lelaki ada lagi istilahnya yaitu Kikoku Shitei 帰国子弟. Namun memang karena Kikoku Shijo yang sering dipakai, jadi dipukul rata untuk semua gender, semua anak yang “pulang” dari luar negeri. Padahal kalau cari di wikipedia, ada pula istilah-istilah lain, seperti Kikoku Seito dan Kikokusei. Sekali lagi masyarakat memegang peranan yang kuat dalam penyebaran bahasa, sehingga sebuah kata menjadi rancu dan kuat bercokol dalam penggunaannya.

帰国子女(きこくしじょ)とは、海外での長期滞在生活を経て日本に帰国した学齢期頃の子を指す。「帰国生徒」、「帰国学生」または「帰国生」の呼称も一般的である。男子校においては帰国子弟(きこくしてい)の語が用いられる場合もある。(wikipedia)

 
Leave a comment

Posted by on February 27, 2015 in Uncategorized

 

不登校: Mogok Sekolah

Kata ini pertama kukenal waktu masuk Fakultas Pendidikan di Yokohama University. 登校拒否 (とうこうきょひ) penolakan untuk pergi ke sekolah. Aku sendiri karena anak alim, tidak pernah sekalipun tidak mau pergi ke sekolah. Tapi anakku pernah tidak mau ke sekolah satu hari di kelas 4, karena dia dibully temannya.(Untung selesai dalam satu hari itu saja)

Bully atau いじめ Ijime memang merupakan salah satu sebab seorang anak tidak mau pergi ke sekolah. Jika berkelanjutan maka disebut Futoukou 不登校 ya mogok sekolah itu. Dan aku baru tahu kemarin bahwa Komite Pendidikan Daerah akan menganggap seorang anak itu Futoukou jika dia tidak masuk sekolah genap 30 hari. Setelah 30 hari itu Komite Pendidikan akan mengambil tindakan untuk menanyakan ke orang tua dan si murid sendiri. Selama 30 hari itu, pihak sekolah, terutama wali kelas 担任(たんにん ) yang akan menghubungi si murid/ orang tua murid menanyakan kenapa tidak masuk dsb. Lebih dari 30 hari menjadi masalah masyarakat, dalam hal ini Komite Pendidikan Pemda.

Futoukou = 30 hari absen kuketahui karena ada kasus pembunuhan seorang anak SMP di kawasaki. Dia ditemukan mati kehilangan darah banyak dengan luka sayatan di wajah dan tubuh dan dibiarkan di bantaran sungai. Menurut cctv dia datang ke bantaran sungai bersama 3 orang remaja lainnya, dan tidak kembali bersama 3 orang itu. Dia telanjang, bajunya dibakar di sebuah WC umum di taman dekat stasiun. OK, ini kriminal. Pelakunya bukan teman SMP, dan aku merasa dia sendiri punya masalah. Dia berteman dengan anak-anak SMA dan sepertinya dibully oleh kelompok SMA ini. Hampir dalam setiap masalah aku merasa pasti ada latar belakang yang membuat seseorang terlibat tindak kejahatan. Dan diketahui bahwa anak ini tinggal bersama ibu dan neneknya, tanpa ayah. 😦 Sejak tahun baru dia tidka ke sekolah dan itu berarti absen selama 29 hari sampai hari pembunuhan. Wali kelas hampir setiap hari menelepon rumahnya, dan hanya 14 kali tersambung dijawab ibu si anak atau anaknya sendiri. Kelihatannya ibu si anak juga bingung dengan tindakan si anak yang tidak masuk sekolah. Well, apapun penyebabnya, nyawa manusia hilang karena kejahatan sekelompok orang, dan mereka pelaku kriminal. Semoga pelakunya bisa ditangkap, dan aku percaya kepolisian Jepang bisa cepat menangkap pelaku itu.

 
Leave a comment

Posted by on February 26, 2015 in Uncategorized