RSS

Buta Huruf atau Melek Huruf?

08 Sep

Hari ini tanggal 8 September merupakan International Literacy Day, yang ditetapkan pada tahun 1966 oleh UNESCO setelah diadakannya konferensi pemberantasan buta huruf di Teheran, Iran (8- 19 September 1965). Ditetapkan menjadi hari literasi internasional itu supaya menjadi pengingat pentingnya pengentasan buta huruf di dunia.

Dalam bahasa Indonesia International Literacy Day ini diterjemahkan menjadi Hari Literasi Sedunia. Tetapi ada pula yang menerjemahkan menjadi Hari Aksara Internasional. Apakah literasi dan aksara sama?

Menurut KBBI aksara itu sama dengan huruf. Sedangkan penjelasan literasi adalah kemampuan menulis dan membaca, atau penggunaan huruf untuk mempresentasikan bunyi atau kata. Memang, tanpa aksara kita tidak akan dapat baca dan tulis.

Dalam Bahasa Jepang istilah “buta huruf” disebut 文盲 もんもう Monmo TETAPI di Jepang tidak memakai lagi istilah ini. Ingat, kan, masalah Sabetsu yogo 差別用語 yang pernah saya tulis? Kata-kata diskriminatif.  Karena 盲 itu dibaca めくら buta, jadi huruf 盲 itu sendiri menjadi huruf yang diskriminatif.

Waktu saya akan menulis thesis, saya mencari istilah buta huruf, dan tentu menemukan kata Monmo itu. Oleh dosen saya, harus diganti menjadi 識字 しきじ shikiji atau melek huruf. Tentu dia menjelaskan soal sabetsu yogo itu, tapi maklum baru datang ke Jepang, jadi tidak nyantol deh penjelasannya. Nah karena saya mau menulis tentang tingkat buta huruf (文盲率Monmoritsu), saya harus mengganti istilahnya dengan tingkat melek huruf/ literasi (識字率Shikijiritsu) daaaaaan menghitung semua angka kebalikannya tentu. Semua datanya kan angka buta huruf, bukan angka melek huruf :D, repot deh.

Di situ saya juga menyempurnakan skripsi saya tentang Terakoya, dengan angka-angka yang baru saya temukan. Sedikit info mengenai tingkat melek huruf di Jepang, pada saat Restorasi Meiji 1868 saja, sudah tinggi. Ada seorang Inggris yang mengatakan “Setiap saya berjalan ke mana-mana di Jepang, saya melihat orang Jepang membaca!”. Memang banyak faktor yang mendukung tingginya tingkat melek huruf di Jepang, antara lain dengan penyebaran Terakoya di seluruh negeri. Terakoya ini adalah tempat belajar yang hanya mengajarkan yomi kaki soroban 読み書きそろばん baca, tulis, hitung (dengan swipoa/sempoa). Memang sih, pendidikan dasar kan memang hanya 3 ilmu itu, dan ini menjadi penekanan dalam pendidikan di Jepang bahkan sampai sekarang. Selain itu, penyebaran tulisan terjadi dengan adanya kegiatan penulisan kembali dokumen-dokumen sejak lama, bahkan sebelum ada mesin cetak.

Namun, saya juga menyadari bahwa tingkat melek huruf itu tergantung pada negaranya, ya. Kalau memakai standar alfabet, mungkin tingkat literasi orang Jepang akan menurun. Beberapa waktu lalu, saya mengikuti sebuah perkumpulan orang asing (berbahasa Inggris) yang menunjukkan aib orang Jepang yang tidak bisa menulis kata-kata bahasa Inggris dengan benar, atau salah menerjemahkannya dengan foto-foto. Judulnya saja Engrish in Japan. Awalnya sih ikut tertawa melihatnya, tapi lama kelamaan kok seperti dibuat-buat, dibesar-besarkan. Bagaimanapun juga mereka sudah berusaha untuk menerjemahkannya ke dalam bahasa Inggris, kan?

Sama saja dengan orang Indonesia yang tinggal di Jepang tetapi tidak bisa baca tulis. “Buta huruf deh kalau di Jepang!” Ini sering saya dengar. Mungkin sama kalau saya ke Korea atau ke Rusia :D. Saya harapkan orang Indonesia di Jepang, yang sudah pasti akan tinggal lama, untuk belajar paling sedikit bisa baca tulis hiragana, deh. Masih untung lo sekarang banyak huruf romawi (alfabet) di mana-mana. Berlainan dengan 20-30 tahun yang lalu.

Oh ya, saya mau cerita bahwa dalam acara Rumah Budaya Indonesia yang lalu, seorang Jepang memakai aksara Jawa hanacaraka dengan fasih. Saya bukan orang Jawa, sehingga wajar kalau saya tidak bisa. Namun seberapa banyak orang Jawa bisa membaca dan menulis aksara Jawa tersebut? Tingkat melek huruf Jawa pasti kecil, ya? Dan ini berlaku pula untuk semua bahasa yang memiliki tulisan khusus.

Tingkat literasi di Indonesia sekarang menurut data 92,8% Jepang 99%, tapi yang terendah 27% yaitu Sudan Selatan dan 28,1% Afganistan. Kalau mengingat SGD’s maka literasi masih menjadi masalah dunia yang harus dipikirkan semua warga dunia.

Tulisan ini pernah dimuat di FB Grup “Wanita Indonesia Berkarya di Jepang” dengan sedikit perubahan.

 
1 Comment

Posted by on September 8, 2021 in Uncategorized

 

One response to “Buta Huruf atau Melek Huruf?

  1. pinkuonna

    September 9, 2021 at 8:27 am

    Kalau saya ngajar bahasa Jepang, pasti “memaksakan” murid untuk belajar paling tidak hiragana dan katakana walaupun kadang-kadang ada yang malas juga, karena murid-muridnya kebanyakan memang ingin bekerja atau tinggal di Jepang di masa yang akan datang. Supaya tidak “buta huruf” kalau sudah sampai di Jepang 😊

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: