RSS

HARI ANAK こどもの日

Tanggal 5 Mei adalah hari khusus untuk anak laki-laki, yang berasal dari perhitungan kalender Cina Kuno yang disebut dengan sekku 節句. Hari libur ini merupakan serangkaian hari libur di akhir April dan awal Mei yang disebut Golden Week (Minggu Emas) di Jepang.

Berdasarkan hukum, Hari Anak-anak diperingati sejak tahun 1948 dan ditetapkan dengan undang-undang hari libur Jepang (Shukujitsu-hō祝日法) untuk “menghormati kepribadian anak, merencanakan kebahagiaan anak sambil berterima kasih kepada ibu.”

Kira-kira sebulan sebelum hari ini, di tiap rumah yang mempunyai anak laki-laki akan menghias rumahnya dengan bendera berbentuk ikan koi, yang disebut Koi Nobori鯉のぼり. Semakin kaya keluarga itu, semakin besar dan bagus bendera yang dipasang. Dan biasanya kakek-nenek lebih antusias merayakan upacara anak laki-laki ini dibanding dengan keluarga muda zaman sekarang. Koinobori ini adalah perlambang atau simbol hari anak laki-laki.

Mengapa bendera ikan Koi yang dipakai sebagai lambang hari anak-anak ini? Mengapa bukan layang-layang berbentuk naga atau mungkin samurai? Mengapa ikan KOI? mengapa bukan ikan-ikan yang lain, misalnya hiu atau salmon? 😃

Setelah saya cari ternyata Koi merupakan ikan yang tangguh dan bisa hidup di mana-mana, kolam maupun genangan air berlumpur. Dahulu ada air terjun di China yang arusnya bergitu kencang. Konon jika ada ikan yang berhasil melawan arus dan sampai di puncaknya akan berubah menjadi naga. Dan satu-satunya ikan yang berhasil melawan arus dan sampai ke puncaknya hanya seekor Koi. Dia kemudian berubah menjadi naga. Jadi Koi dipilih sebagai simbol hari anak-anak juga dimaksudkan supaya anak-anak laki-laki dapat TETAP TANGGUH melawan kehidupan yang keras dan maju terus.

Tapi kalau lihat dari sejarahnya, sebetulnya koinobori baru dipakai pada jaman Tokugawa di kalangan rakyat biasa. Dulunya untuk peringatan hari anak-anak untuk kalangan samurai dipakai bendera dengan lambang keluarga atau umbul-umbul. Nah, kalangan rakyat biasa yang tidak mempunyai lambang keluarga kemudian memakai simbol Koi sebagai bendera sebagai “saingannya” kaum samurai.

Awalnya bendera Koi ini terbuat dari kertas Jepang, dan baru pada tahun 1955 memakai bendera dari kain sintetis. Nah, lalu ada pertanyaan lagi dari seorang teman: “ikan koi tahan ya Mbak di musim dingin..?apa kolamnya pakai’ heater?”

Tentu saja ikan Koi tahan dingin, karena asal mereka memang dari negara 4 musim dan di alam tidak ada heater bukan? Ikan Koi yang terkenal di Jepang dari jenis Nishikigoi錦鯉, berasal dari daerah Niigata. Daerah yang terkenal sebagai “Negara Salju” Yukiguni. Tidak mungkin ikan Koi ini satu per satu dipindahkan ke kolam berheater kan? 😃 Lagi pula meskipun permukaan kolam membeku, air di dalam kolam tidak akan membeku, atau tidak semua tempat airnya membeku (seperti yang dialiri air terjun pasti tidak membeku). Karena tahan dingin ini juga mungkin ikan Koi terkenal dengan kekuatannya. Jadilah dia koinobori, simbol bagi pertumbuhan dan perkembangan anak laki-laki menjadi manusia yang tangguh dan kuat.

Zaman dahulu, untuk merayakan hari anak laki-laki ini, keluarga akan membelikan replika baju samurai yoroi鎧, topi/helm samurai kabuto 兜, dan sebagai tambahan patung anak laki-laki kuat dalam dongeng Kintaro. Semakin besar, semakin lengkap menunjukkan kekayaan keluarga itu. Dan memang harga satu set perlengkapan ini tidak main-main, loh. Satu kabuto helm samurai saja, saya lihat berlabelkan harga 250.000 yen di sebuah departemen store terkenal. Baru kabuto, belum yoroi (yang biasanya jarang dipunyai). Tapi sekarang karena keluarga muda banyak yang tinggal di apartemen, tidak ada tempat untuk meletakkan perhiasan seperti itu, sehingga semakin kecil semakin bagus (meskipun harganya belum tentu semakin murah hehehe).

Nah untuk makanan, pada hari Anak ini biasanya disediakan Kashiwa mochi 柏餅. Mochinya sebetulnya biasa saja, ada yang putih, merah muda, hijau (yomogi) dengan isi pasta kacang merah. Tapi istimewanya mochi yang dibungkus dengan daun Kashiwa, yang bentuknya khas, dan daunnya biasanya tidak dimakan. Mengapa harus dibungkus dengan daun Kashiwa (Daimyo Oak)? Sebetulnya ini juga perlambang, karena daun Kashiwa itu terkenal tidak rontok di musim gugur. Biasanya pohon-pohon merontokkan daun di musim gugur, kemudian di musim semi daun baru tumbuh. Tapi khusus Kashiwa daun tua akan terus menempel pada batang pohon sampai daun baru tumbuh. Ada waktu daun lama dan baru tumbuh bersama, dan itu diharapkan terjadi juga pada laki-laki. Supaya tidak mati sebelum anaknya cukup besar. Atau sebagai pengertian lain, BISA MENYIAPKAN GENERASI PENERUS DULU SEBELUM LENGSER. Karena itu di halaman rumah Bushi (kaum samurai) 武士 pasti ditanam pohon Kashiwa ini. Jadi kashiwa mochi juga perlambang harapan kepada anak laki-laki agar tetap kuat dan umur panjang.

Terakhir, pada hari anak ini, biasanya setiap keluarga akan menyediakan Shobu yu 菖蒲湯, dengan menaruh batang shobu pada air panas di bak ofuro, katanya supaya anak lelaki menjadi kuat. Karena malas menyediakan di rumah, dulubiasanya saya suruh anak-anak saya pergi dengan papanya ke sento 銭湯 pemandian umum dekat rumah, karena disediakan shobu yu di sana. Untuk anak laki-laki biasanya ada potongan harga khusus pada hari anak-anak. Sekarang kami sudah tinggal di rumah sendiri, dan tidak ada pemandian umum dekat rumah. Lagipula mereka sudah tidak mau dirayakan lagi. “Aku kan bukan anak-anak lagi….. 😀 “

Kashiwa mochi

 
Leave a comment

Posted by on May 4, 2021 in Uncategorized

 

Hari Buku Dunia dan Hak Cipta

Hari ini tanggal 23 April merupakan World Book (and copyright) Day. Bahasa Jepangnya 世界図書・著作権デー sekai tosho chosakuken day. Kok bukan hon?

Sebetulnya kata BUKU atau Book itu dalam Bahasa Jepang bisa disebut sebagai HON 本 ini yang umum diketahui semua orang. Lalu ada istilah 図書 Tosho , yang sering dipakai dengan gabungan kata lain seperti Toshokan 図書館 (perpustakaan) toshoshitsu 図書室 (perpustakaan tapi bukan gedung, hanya ruangan saja)dan Toshokado 図書カード (book gift card).

Istilah Shoseki 書籍 sering dipakai sebagai pengganti Tosho, karena Tosho umumnya sudah lebih diketahui sebagai kesatuan Toshokan. Karena itu jika mengatakan “Pengiriman Buku” lebih dipakai shoseki yuso 書籍郵送 bukan tosho yuso 図書郵送 atau waktu mengetik kata kunci “Pencarian Buku” tidak menuliskan Tosho kensaku 図書検索 tapi Shoseki kensaku 書籍検索, karena nanti yang keluar banyak adalah daftar Perpustakaan bukan buku.

Dan yang terakhir adalah shomotsu 書物 sebuah istilah yang baku dan jarang dipakai dalam percakapan biasa. Misalnya dalam dokumen “Sejarah buku” maka dituliskan Shomotsu no rekishi 書物の歴史. Jadi 4 istilah ini 本、図書、書籍 dan 書物 kalau diterjemahkan ya menjadi BUKU saja, tapi orang Jepang membedakan masing-masing dalam pemakaiannya. (Ribet ya 😀 )

Saya ingin memperkenalkan jenis buku di Jepang yang disebut sebagai bunkobon 文庫本. Semua bunkobon berukuran sama yaitu A6, 105mm×148mm. Dipelopori oleh penerbit Iwanami Bunko, bagian dari sebuah penerbit Iwanami Shoten, termasuk penerbit lama di Jepang (berdiri th 1913). Iwanami Bunko menerbitkan buku-buku dengan ukuran sama A6 ini untuk mempopulerkan buku klasik yang pernah diterbitkan dengan harga murah kepada masyarakat umum pada tahun 1927.

Tapi sesudah perang (1945) beberapa penerbit juga meramaikan penerbitan bunkobon ini. Buku bunkobon ini bisa disebut sama dengan paperback dalam bahasa Inggris (ukurannya sedikit lain), tapi bunkobon ini mempunyai cover pelindung tambahan yang tidak terdapat dalam paperback di negara lain.

Ada satu kebiasaan dalam penerbitan buku di Jepang yaitu “ban buku” hon no obi 本の帯 (obi sebenarnya artinya ikat pinggang – stagen yang dipasang di pinggang), yang dipasang diatas cover pelindung buku. Dalam obi ini dituliskan pesan sponsor, kata-kata memikat untuk memilih buku itu. Atau bisa juga berupa promosi dari film yang berkaitan dengan buku tersebut (seperti pamflet/flyer kecil). Atau obi tersebut bisa diberi warna, sesuai dengan kategori bukunya. Misalnya warna kuning adalah kategori sastra Jepang kuno, warna biru kategori science/pemikiran, warna hijau sastra Jepang, warna pink sastra luar negeri, dan warna putih social science.

Bagi saya, obi ini sangat mengganggu waktu membaca, sehingga biasanya saya buang…. Dan dimarahi oleh suami saya. Katanya kalau nanti buku itu mau dijual dan tidak ada obinya, harganya bisa jatuh (lebih murah). Padahal… ntah kapan juga mau jualnya hehehe.

Kalau di Jepang ada obi, di Indonesia saya perhatikan sekarang ada kebiasaan menyelipkan shiori しおり pembatas buku yang senada dengan cover bukunya. Kalau di Jepang memang tidak ada shiori, tapi di beberapa buku ada pita pembatas.

Keberadaan bunkobon ini juga yang membuat rak buku di Jepang bisa terlihat teratur. Besarnya sama, dan bisa dibuat lemari khusus yang kedalamannya tidak perlu terlalu dalam (16 cm). Juga jarak antara papan juga sudah pasti. Tentu saja kalau semua bukunya bunkobon.

Selain bunkobon, masih ada ukuran-ukuran lain yang lebih besar yaitu TANKOBON 単行本. Tankobon ini biasanya lebih besar dan lebih beragam ukurannya. Sesuai dengan Namanya, Tankobon itu diterbitkan satu-satu, tidak berseri/berjilid-jilid. Jadi kalau pergi ke toko buku dan melihat ke pojok “Buku baru”, itulah tankobon. Tentu saja karena baru, harganya tidak semurah bunkobon, tapi karena “fresh from the oven” tentu kita dapat membacanya pada waktu baru diterbitkan atau waktu sedang populer-populernya.

Sebagai penutup, saya baru tahu bahwa ternyata menurut Unesco (1964), yang dinamakan buku itu harus berjumlah 49 halaman lebih (isinya). Kalau hanya 5 halaman sampai 49 halaman itu disebut dengan buklet. 😀

Tulisan ini pernah dimuat di FB Grup “Wanita Indonesia Berkarya di Jepang”

 
Leave a comment

Posted by on April 23, 2021 in Uncategorized

 

Textbook 教科書

Hari ini tanggal 10 April merupakan hari peringatan Textbook atau Buku Pelajaran di Jepang. Dalam bahasa Jepang disebut KYOKASHO 教科書.

Sebetulnya peringatan Hari Buku Pelajaran (untuk SD-SMP-SMA) ini baru ditentukan tahun 2010, dan dipilih tanggal 10 April hanya karena penulisan penanggalan Jepang 4/10 dibaca Yoi Tosho (Buku yang bagus).

Karena penasaran saya mencari informasi mengenai Buku Pelajaran di Jepang. Memang saya tahu bahwa buku pelajaran kyokasho di Jepang itu gratis, dibayar dengan pajak masyarakat. Kyokasho gratis ini dimulai sejak tahun 1963.

Setiap awal tahun pelajaran yang dimulai bulan April, murid mendapatkan satu set buku pelajaran sesuai dengan mata pelajaran. Kalau di buku-buku cetak yang dijual, biasanya di bagian belakang akan tertulis harga berapa Yen. Tapi di buku pelajaran tidak ada harga, kalaupun ada tertulis nol. Nah, pernah kejadian anak saya menghilangkan buku pelajarannya, saat itu saya memberitahukan kepada gurunya dan gurunya akan memberitahukan bisa membeli di mana. Karena tidak semua toko buku menjual buku pelajaran tersebut. Tetapi meskipun harus bayar, rata-rata harga kyokasho itu hanya 407 yen.

Di seluruh negeri Jepang hanya ada 2935 toko buku yang menyediakan buku pelajaran, dan ada 53 perusahaan yang menyediakan buku pelajaran. Tidak sembarang perusahaan bisa menerbitkan buku pelajaran. Butuh waktu 4 tahun untuk sampai bisa menerbitkan buku. 2 tahun untuk penulisan dan editing, 1 tahun untuk penilaian dari kementrian pendidikan dan 1 tahun untuk pencetakan dan pendistribusian. Tapi kyokasho juga direvisi setiap 4 tahun. Setiap ada revisi biasanya halaman buku akan bertambah. Semakin berat, sehingga ada keluhan juga bahwa beban anak-anak (tas ransel) semakin lama semakin berat.

Kemudian, tidak semua sekolah memakai satu kyokasho dari satu perusahaan. Komite sekolah di daerah dan kepala sekolah yang menentukan sekolahnya memakai kyokasho perusahaan A, misalnya. Apakah khawatir isinya lain? Tidak mungkin lain, karena sudah ada panduan dari kementrian yang harus ditaati dalam penulisan. Komposisi atau layout bisa lain sedikit tapi isi dan tujuannya sama. Ini saya ketahui juga waktu anak saya pindah sekolah pertengahan kelas 5. Buku yang dipakai di kelas 5 di Tokyo, lain dengan yang dipakai di Saitama.

Lalu buat apa ada hari peringatan kyokasho? Dirayakan dengan perlombaan membuat poster, mengingatkan warga bahwa kyokasho itu penting. Dari kyokasho-lah seorang anak mendapatkan ilmunya. Apalagi kyokasho itu dibuat dengan pajak masyarakat, jadi perlu dihargai. Ada pula maskot dari kyokasho yang dinamakan shiru-shiru (shiru artinya mengetahui).

maskot Shiru shiru http://www.textbook.or.jp/special/memorial/index.html

 
Leave a comment

Posted by on April 10, 2021 in Uncategorized

 

Patung Buddha 大仏

Kalau jalan-jalan ke Jepang, belum afdal rasanya kalau belum pergi ke Kuil Buddha apalagi mencari Patung Buddha di dalamnya. Ada beberapa patung Buddha besar (Daibutsu) di Jepang dan kalau mencari yang TERBESAR, pasti akan keluar nama 牛久大仏 Ushiku Daibutsu di Ibaraki, setinggi 120 m (dibangun tahun 1995). TAPI, kalau kita mencari yang terkuno dan paling bersejarah, sudah pasti Daibutsu di Nara dalam kuil Todaiji (15 meter). Pasti merupakan destinasi wisata nomor satu yang harus dikunjungi di daerah Kansai.

Saya menulis tentang Patung Buddha ini karena hari ini tanggal 9 April merupakan Hari Daibutsu. Hari peringatan Patung Buddha besar, karena pada tanggal 9 April tahun 752 itu pertama kalinya dilakukan upacara “pembukaan/penyucian” secara agama yang dihadiri Kaisar saat itu.

Daibutsu di Kuil Todaiji, Nara (Nov 2017, koleksi pribadi)

Saya teringat waktu awal-awal kedatangan di Jepang, saya bertemu seorang arsitek yang berkata, “mel, kamu tahu bahwa kuil Todaiji dan Borobudur itu dibangun hampir bersamaan? Todaiji itu bangunan kayu (tertua) dan Borobudur itu terbuat dari batu. Itu menunjukkan kejayaan agama Buddha saat itu”.

Ho ho, memang saya ingat bahwa Borobudur dibangun saat zaman Syailendra, tapi tepatnya kapan ya?

 Tidak ada catatan yang memberikan keterangan kapan dan siapa pendiri Candi Borobudur. Meskipun demikian, para ahli arkeologi telah berpendapat bahwa masa pembangunan Candi Borobudur diduga dari ± tahun 775 M sampai dengan  ± 832 M. (dari sini).

Borobudur (Agustus 2015, koleksi pribadi)

Memang benar hampir sama, ya?

Ngomong-ngomong, di masa pandemi ini, kami diaspora yang berada di Luar Negeri bersatu dalam grup #KangenIndonesia dan saling memberikan foto dan diskusi menarik supaya begitu perbatasan dibuka, kami bisa pulang dan berwisata ke Indonesia. Foto Borobudur juga salah satunya.

Tapi kami juga sedih mendengar musibah yang terjadi di Nusa Tenggara Timur, dan diaspora pun berusaha untuk membantu saudara-saudara kami di NTT. Semoga Tuhan melindungi NTT ❤

 
Leave a comment

Posted by on April 9, 2021 in Uncategorized

 

Aka no tanin 赤の他人

Tanin 他人= orang lain, Aka 赤= merah. Orang lainnya warna merah? Aka no tanin 赤の他人adalah ungkapan yang dipakai untuk merujuk pada orang lain yang tidak ada hubungannya sama sekali. Kebetulan tadi pagi saya menonton drama dan ada adegan yang menggambarkan seorang anak yang dirawat oleh “orang lain” tapi sangat dibela/disayang. “Kenapa kamu membela saya yang bukan siapa-siapanya kamu?” Saya kan aka no tanin.Yang menjadi pertanyaan sekarang, kenapa mesti pakai kata AKA赤 ? Kan cukup dengan tanin 他人 saja yang artinya memang orang lain? Kenapa mesti kanji MERAH 赤?

Ternyata dulu memang pakai aka yang kanjinya 明い =明らかに あきらかに artinya jelas-jelas. Jelas-jelas orang lain. Baru kemudian kanji 明 itu berganti menjadi kanji 赤 yang berarti merah. Tentu saja membingungkan ya?Dan ternyata selain 赤の他人、ada beberapa istilah yang memakai kanji 赤 ini yaitu 「真っ赤なうそ」 dibaca Makkana uso, berarti jelas-jelas bohong. 「赤っ恥」dibaca akkapaji jelas-jelas memalukan「赤裸々」dibaca sekirara jelas-jelas telanjang. Jadi memang yang sekarang ditulis dengan kanji merah itu awalnya dari あきらかに。

Tentu saja teman-teman tahu bahwa bayi disebut 赤ちゃん Akachan ya? Atau kadang juga disebut dengan Akago 赤子 atau Akanbo 赤ん坊. Akachan ini memakai kanji merah, karena memang bayi yang baru lahir kan berwarna merah. Jadi penjelasannya lain dengan si Aka no tanin.

Ada beberapa kata dengan kanji 赤 aka yang ingin saya tuliskan di sini, dan pasti ada yang sudah tahu beberapa atau semua. Perlu diketahui juga, banyak nama barang (misalnya 赤ワイン= aka wine = anggur merah) atau binatang (misalnya 赤とんぼ Aka tonbo = capung merha)、yang memang berwarna merah sehingga memakai kanji 赤aka ini. Selain itu kanji 赤 juga bisa dibaca sebagai seki. Kali ini seki tidak saya bahas.

Dalam keseharian kita mengenal 赤信号 あかしんごう akashingo = lampu merah (lampu lalu lintas) , 赤帽 あかぼう akabou = topi merah tapi juga menjadi nama perusahaan pindahan, 赤組 あかぐみ akagumi = grup merah yang pasti ada dalam festival olah raga sekolah. 赤点 あかてん akaten = nilai merah yang membuat emak-emak marah-marah 😃 dan kalau 赤字 あかじ akaji =merugi membuat bapak-bapak yang marah-marah 😃

Memang masih banyak ya kata-kata dengan kanji 赤 ini, tapi sebagai penutup saya ingin memperkenalkan kata 赤い糸 あかいいと akaiito harafiahnya benang merah, tapi biasanya ini dipakai sebagai simbol jodoh. Lengkapnya 運命の赤い糸 unmeino akaiito. Kalau sudah jodoh pasti bertemu, 運命の赤い糸に結ばれる unmei no akaiito ni musubareru. Karena itu kalau menonton film-film Jepang (ingat film Kimi no na) kadang kita menemukan pasangan yang memakai benang merah di jari kelingking kiri ya? Dulu di Jepang tidak ada cincin kawin, jadi pakainya benang merah. Tapi ini juga melambangkan “perjanjian”. Ceritanya panjang, tapi singkat cerita istilah yubikiri 指切り waktu berjanji (anak-anak sering berkata yubikiri sambil mengaitkan jari kelingking) itu juga berasal dari urusan jodoh dan percintaan ini.

Jadi jangan anggap enteng si kelingking loh, karena tanpa kelingking, jodoh tidak datang hehehe.

Tulisan ini dibuat untuk pojok Bahasa dan Budaya Jepang di FB Grup “Wanita Indonesia Berkarya di Jepang”

#wibjnihongo#wibjbudayajepang

 
Leave a comment

Posted by on April 8, 2021 in Uncategorized

 

Tenji Burokku 点字ブロック

Saya rasa semua orang yang pernah ke Jepang tahu dan bahkan pernah menginjak garis berwarna kuning di jalan atau di stasiun. Namanya Tenji Block 点字ブロック, yang kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi Braille Block (ubin pemandu tunanetra) . Memang huruf braille itu dalam Bahasa Jepang disebut tenji 点字、harafiahnya huruf titik.

Tahukah Anda bahwa tenji block yang sudah dipakai di 150 negara di dunia itu berasal dari Jepang? Seorang pengelola penginapan di Okayama bernama Miyake Seiichi memikirkan bagaimana caranya supaya temannya yang tidak bisa melihat dapat berjalan dengan aman. Dan tanggal 18 Maret 1967, tenji block dipasang pada jalan untuk pejalan kaki dekat sekolah tunanetra di Okayama. Kemudian pemerintah daerah Tokyo melihat kegunaan tenji blok dan memasangnya di Tokyo, dan akhirnya menyebar ke seluruh Jepang, dan ke seluruh dunia.

Awalnya bentuknya bermacam-macam, dan menjawab keinginan tunanetra untuk membuat bentuk yang seragam, baru pada tahun 2001 ditetapkan standar Jepang JIS. Sedangkan untuk standar internasional ditetapkan tahun 2012 yang berdasarkan pada standar Jepang untuk dipakai di seluruh dunia.

Tenji block memang sangat membantu tunanetra waktu berjalan. Namun seiring perkembangan pemakaian di berbagai tempat, timbul juga masalah yang perlu dipikirkan. Misalnya keberadaan tenji block ini justru mengganggu orang tua yang kakinya lemah dan mudah terantuk, atau kursi roda/ kereta bayi yang mudah tersangkut di sela titik-titik itu. Atau sekarang juga banyak tenji blok yang warnanya tidak kuning, tapi menyatu dengan warna dari jalanan. Ini cukup mengganggu mereka yang buta warna atau lemah penglihatannya. Masalah lagi yaitu banyak orang yang meletakkan barang, atau memarkirkan sepeda/mobilnya di atas tenji block sehingga menyebabkan kecelakaan bagi penggunanya.

Pada hari peringatan tenji blok tangal 18 Maret ini, kita diingatkan lagi pentingnya menjaga kenyamanan warga yang memang membutuhkannya dengan tidak merusaknya.

 
Leave a comment

Posted by on March 18, 2021 in Uncategorized

 

Hina Matsuri ひな祭り

Selamat Hari Anak Perempuan!

Pasti teman-teman yang punya anak perempuan sudah tahu tentang Hina Matsuri ya. Berhubung anak saya laki-laki, saya sebetulnya kurang paham tentang perayaan yang satu ini. Tapi saya coba bahas sedikit.

Sebetulnya Hina Matsuri yang dirayakan tanggal 3 Maret itu, merupakan salah satu dari 5 Sekku 五節句, 5 tanggal yang sama angkanya ぞろ目. Ini merupakan adaptasi dari Cina dengan membagi satu tahun menjadi 5 bagian atau 5 `garis`, masing-masing dengan ciri khasnya dan di kekaisaran dahulu diadakan upacara-upacara pada tanggal tersebut. Tanggal 7 bulan 1 disebut Jinjitsu no sekku人日の節句, tanggal 3 bulan 3 Joushi no sekku上巳の節句, tanggal 5 bulan 5 Tango no sekku端午の節句, tanggal 7 bulan 7 Sichiseki no sekku 七夕の節句dan 9 bulan 9 Chouyou no sekku 重陽の節句. Dari 5 tanggal di atas, kita masih mengenali tanggal 7 Januari sebagai hari untuk makan bubur 7 ‘rumput’ nanakusagayu, tanggal 3 Maret Hina Matsuri, tanggal 5 Mei Kodomo no hi, dan 7 Juli Tanabata. Hanya tanggal 9 September saja yang jarang diingat padahal hari ini, dahulu, dirayakan dengan minum sake dengan bunga seruni (kiku) yang diapungkan di atasanya. Tapi dari ke 5 tanggal itu, hanya tanggal 5 Mei saja yang ditetapkan sebagai hari libur nasional yang disebut Kodomo no hi.

Kalau dikatakan sebagai sekku, tanggal 3 Maret itu juga sering disebut dengan Momo no sekku, karena bunga-bunga Plum mulai bermekaran. Karena itu kalau melihat hiasan Hina Kazari, pasti ada ranting dengan bunga plum yang berwarna merah muda, Boneka Hina ひな人形, yang biasanya berupa pasangan Kaisar dan Permaisuri, yang jika lengkap akan dihias dengan dayang-dayang dan menteri sampai membuat 7 tingkatan dengan alas berwarna merah. Keluarga yang kaya tentu berlomba-lomba membeli (dan memasang) hiasan Hina Matsuri ini selengkap mungkin, dan semahal mungkin.

Hina ningyo dari beberapa generasi yang dipamerkan oleh keluarga pembuat sake di Hidaka, Saitama.

Di televisi pernah saya melihat ada yang harganya 7 juta yen! Aduhhh… untung saya tidak mempunyai anak perempuan hehehe. Kalau ditelusuri sejarahnya boneka Hina ini berawal dari keluarga bangsawan jaman Heian (794~ ) yaitu permainan untuk anak perempuan. Dulu disebut Hiina asobi, permainan boneka kertas, yang kemudian dihanyutkan ke sungai, Nagashi hina 流し雛bkarena dianggap boneka itu sebagai pengganti anak-anak perempuan untuk menolak bala. Supaya segala penyakit dan kemalangan bisa hanyut menjauhi si anak. Baru setelah jaman Edo (1603~) boneka Hina ini dihias di dalam rumah.

Boneka Hina ini menjadi salah satu barang seserahan waktu anak perempuan menikah. Jadi merupakan ‘warisan’ turun-temurun dari keluarga perempuan kepada anak-cucu perempuannya. Tapi selain boneka Hina ini, jangan lupa bahwa ada beberapa hiasan-hiasan lain yang biasanya ikut meramaikan altar tempat menghias perangkat boneka itu.

1. Hina Arare, makanan seperti kerupuk (ada yang berisi kacang) berbentuk bulat lonjong terbuat dari tepung beras. Warna putih melambangkan salju, hijau melambangkan calon pohon dan merah muda melambangkan kehidupan.
2. Hishi Mochi, mochi berbentuk wajik berlapis, biasanya terdiri dari 3 warna, pink, putih dan hijau. Mochi ini juga dipakai untuk menolak bala, dan menambah kekuatan. Kalau diteliti lebih lanjut, bahan-bahan pembuatnya biasanya dari tumbuhan yang mempunyai khasiat khusus. Yang menarik, ada penjelasan bahwa bentuk wajik itu sebetulnya melambangkan jantung!
3. Chirashi Sushi, nasi yang diberi cuka dan diatasnya diberi bermacam potongan jamur, kanpyo, ikan mentah, telur ikan ikura dan lain-lain.
4. Hamaguri, kerang yang dimasukkan dalam sup bening.dan lain-lain.

Bagaimana teman-teman yang mempunyai anak perempuan? Apakah sudah membuat chirashi sushi? Sudah menghias boneka hina? Oh ya sebetulnya boneka Hina ini konon mulai dikeluarkan dari kotak dan dihias mulai Februari, dan begitu hina matsuri selesai harus langsung disimpan lagi loh. Jadi jangan dihias terus sepanjang tahun. Katanya kalau dibiarkan terus, anak perempuannya bisa-bisa tidak dapat jodoh (tidak menikah) 😃. (Ini bisa jadi alasan para jombloer wanita bahwa orang tuanya “lupa” menyimpan hina ningyounya ya 😃) Satu lagi Hina kanjinya 雛、kanji yang sama dengan Hinadori 雛鳥 piyik ayam (anak ayam) … sama-sama kawaii yaaaa hehehe

Tulisan ini dibuat untuk pojok Bahasa dan Budaya Jepang di FB Grup “Wanita Indonesia Berkarya di Jepang”

#wibjnihongo#wibjbudayajepang

 
Leave a comment

Posted by on March 3, 2021 in Uncategorized

 

にゃーにゃーにゃー Hari Kucing

Kalau teman-teman perhatikan mungkin sudah tahu ya bahwa hari ini tanggal 22 Februari adalah Hari Kucing. Pas hari ini berderet angka 2 kan? 22-2 ni-ni-ni dan ini dibaca sebagai nya-nya-nya. にゃーにゃーにゃー. Memang sih bisanya orang Jepang saja dengan membaca 2 sebagai nya- (maksa juga yah 😃) . Dan nya-nya itu adalah suara kucing, merupakan onomatope (penggambaran suara) yang kalau dalam bahasa Indonesia adalah Meong, atau Miaw untuk bahasa Inggris.

Cukup banyak orang Jepang yang memelihara kucing sebagai hewan piaraan mereka. Jumlah kucing yang dipelihara pada tahun 2020 adalah 9.644.000 ekor. (964万4千頭ekor dalam bahasa Jepang 頭=とう atau arti harafiahnya kepala)Kalau dibandingkan dengan anjing, memang kucing lebih banyak. Anjing yang dipelihara sebanyak 8.489.000 ekor (848万9千頭).

Tapi kalau melihat sebuah survei seberapa banyak orang memelihara binatang dari seluruh dunia, yang terbanyak adalah Argentina, Meksiko 80% dan Brazil 75% penduduknya memelihara binatang. Ketiganya di Amerika Selatan, dna diketahui juga bahwa negara Asia sedikit yang memelihara binatang. Jepang termasuk 3 negara Asia yang terendah yaitu hanya 37%. Dan lucunya kalau melihat jenis binatang yang dipelihara 17% adalah anjing 犬 14% kucing 猫 9% ikan 魚 dan 2% burung鳥. Perlu diingat waktu menghitung hewan piaraan kalau anjing dan kucing itu dengan 頭 to, maka untuk ikan adalah 一尾 び bi dan untuk burung  一羽 わ wa. Sebutan yang berbeda untuk binatang itu benar-benar menyusahkan kita yang belajar bahasa Jepang ya 😃

Kalau ada Hari Kucing pada tanggal 22 Februari, apakah ada Hari Anjing? Tentu ada, yaitu tanggal 1 November. Kalau ditulis kan 1-11 dan dibaca wan wan wan, yang merupakan bunyi anjing di Jepang (ngga galak seperti di Indonesia ya 😃). Lalu apakah ada Hari Ikan? ADA! Yaitu tanggal 10 Oktober 10-10… Kenapa tanggal ini? Karena 10-10 dibaca toto. Ikan = toto? Ternyata toto adalah bahasa anak-anak 幼児語 ようじご yojigo untuk ikan!Lalu ada hari Burung? 鳥の日? Ada, tanggal 28 setiap bulan (menurut Paman Kentucky hihih). Tapi itu NIWATORI にわとり。Kalau untuk binatang piaraan biasanya インコinko (Parkit) atau オウム omu (Kakatua), dan diperingati setiap tanggal 15 Juni. Ini juga penjelasannya hanya berdasarkan bunyi saja.

Teman-teman pelihara apa? Saya punya kame 亀 kura-kura yang saya pelihara (tepatnya anakku yang MAU pelihara, dan mamanya yang KASIH makan 😃). Dan iseng saya cari, ternyata ada loh hari Kura-kura yaitu tanggal 23 Mei hehehe.

Tulisan ini dibuat untuk pojok Bahasa dan Budaya Jepang di FB Grup “Wanita Indonesia Berkarya di Jepang”

#wibjnihongo#wibjbudayajepang#にゃーにゃーにゃー#222#HariKucing

 
Leave a comment

Posted by on February 23, 2021 in Uncategorized

 

母語 or 母国語

Saya rasa teman-teman sudah pernah mendengar kata 母国語 ぼこくご Bokokugo, ya? Kalau ditanya oleh orang Jepang, 「母国語は何ですか」Bahasa aslinya apa? Pasti akan teman-teman jawab 「インドネシア語」Bahasa Indonesia. Itu benar, tapi sebetulnya ada lagi satu istilah yaitu 母語 ぼご Bogo, atau kalau diterjemahkan menjadi bahasa ibu, mother tongue. Lah, jadi bokokugo dan bogo itu sama?

Untuk negara Jepang memang sama. Mereka mengenal satu bahasa saja, yaitu bahasa Jepang sebagai bahasa ibunya. 母語dan 母国語nya sama. Tapi untuk negara Indonesia, bagi orang Jawa, bahasa ibunya adalah bahasa Jawa. Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi negara, 公用語 こうようご Kouyougo yang tentu berbeda dari bahasa Jawa, tapi dipakai untuk segala keperluan formal. Karena itu sudah menjadi pengetahuan umum bahwa orang Indonesia itu sebenarnya bilingual, bahkan mungkin trilingual.

Kembali ke topik, saya menulis tentang bahasa ibu karena sebetulnya hari ini tanggal 21 Februari adalah Hari Bahasa Ibu Internasional. PBB menetapkan tanggal ini sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional sebagai pengakuan terhadap Hari Gerakan Bahasa yang dirayakan di Bangladesh. Resolusi bahasa ini disarankan oleh Rafiqul Islam, seorang Bangli yang tinggal di Vancouver, Kanada. Ia menulis surat kepada Kofi Annan pada tanggal 9 Januari 1998, yang meminta PBB untuk mengambil langkah untuk menyelamatkan bahasa dunia dari kepunahan dengan mendeklarasikan Hari Bahasa Ibu Internasional (International Mother Language Day). Akhirnya dipilihlah tanggal 21 Februari sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional karena pada tanggal tersebut, Bangladesh mengalami pembunuhan mahasiswa dalam demo memperjuangkan bahasa Bangli di Dhaka pada tahun 1952.

Ada sekitar 7 miliar orang di bumi dan ada sekitar 7000 bahasa, Tapi hanya 23 bahasa yang digunakan oleh lebih dari setengah populasi dunia. Bahasa yang paling banyak digunakan oleh individu adalah bahasa China. Bahasa yang paling banyak digunakan oleh negara adalah bahasa Arab dan Spanyol. Negara yang paling banyak bahasanya: Papua New Guinea diikuti oleh Indonesia. Bahasa yang paling luas penyebarannya secara geografis adalah Inggris dan Spanyol.

Yang menarik waktu saya mencari angka-angka pastinya, berdasarkan tulisan tahun 2005 dan 2015, urutan jumlah penutur bahasa Jawa berada di urutan 12 dan 11. Tapi waktu melihat daftar terbaru tahun 2020, tidak lagi tertulis bahasa Jawa tetapi bahasa Indonesia di urutan nomor 10! Saya tidak sempat mencari lembaga survey mana yang melakukan penghitungan, tapi dari situ saja, saya sempat berpikir memang ada kemungkinan bahasa Jawa akan hilang, jika anak-anak tidak diajari oleh orang tuanya.

Sebagai informasi jumlah bahasa daerah di Indonesia ada 718 bahasa (data dari Badan Bahasa). Diketahui pula bahwa dari tahun 2011-2019 saja, ada 11 bahasa daerah yang sudah punah, yaitu 9 bahasa dari Maluku dan 2 dari Papua. Isu bahasa ibu ini menjadi penting ketika bahasa-bahasa lokal di dunia mulai banyak yang punah. UNESCO memperkirakan sekitar 3.000 bahasa lokal akan punah di akhir abad ini. Hanya separuh dari jumlah bahasa yang dituturkan oleh penduduk dunia saat ini yang masih akan eksis pada tahun 2100 nanti.

Apa bahasa ibu teman-teman?

Bahasa ibunya ibuku sih bahasa Belanda, tapi bahasa ibu saya sendiri bahasa Indonesia 😃 Saya masih bisa mengerti bahasa Manado dan bahasa Jawa, karena ibu saya bisa juga kedua bahasa ini. Terus terang, saya iri kepada mereka yang mempunyai bahasa ibu bahasa daerah. Jaga jangan sampai punah ya.

Tulisan ini dibuat untuk pojok Bahasa dan Budaya Jepang di FB Grup “Wanita Indonesia Berkarya di Jepang”

sumber: wikipedia, mext.go.jp, badan bahasa

 
Leave a comment

Posted by on February 22, 2021 in Uncategorized

 

Cokelat Giri-giri

Happy Valentine yaaaaa!

Di seluruh dunia hanya di Jepang saja yang mempunyai kebiasaan memberikan cokelat pada hari Valentine. Di luar negeri (Eropa – Amerika) siapa saja, tidak terbatas pria maupun wanita, bisa memberikan sesuatu kepada teman/kekasihnya.

Kadang saya juga risih kalau menerima ucapan Happy Valentine dari teman (sejenis) bertuliskan “Be My Valentine”, pikirku eits kok “jadilah pacarku?” Padahal mungkin artinya “maukah kamu menjadi sahabat karibku”.

Anyway, saya tidak akan menulis tentang apa itu Valentine lagi, tapi tentang kebiasaan memberikan cokelat di Jepang, yang konon terpengaruh dari luar negeri juga.

Awalnya perusahaan cokelat Cadbury pada tahun 1868 membuat cokelat dengan bungkus berbentuk hati untuk diberikan sebagai hadiah pada hari Valentine. Konon cokelat ini sampai juga di Jepang, tapi tidak begitu diterima. Baru kemudian tahun 1936, perusahaan Morosoft memperkenalkan lagi “kebiasaan” memberikan cokelat, terutama di kalangan wanita usia belasan saat itu. Setelah itu mulailah perusahaan cokelat/sweets lain ikut memulai kebiasaan hari Valentine yang diapresiasikan sebagai “hari bagi wanita memberikan cokelat kepada pria”. Baru tahun 1970-an menyebar di kalangan siswa (SD sampai SMA) untuk saling memberikan cokelat, dan tahun 1980-an menyebar juga di kalangan ibu rumah tangga. Jadi, cokelat valentine di Jepang ini memang merupakan dampak komersialisasi moment-moment tertentu.

Nah, kemudian perusahaan Ishimuramanseido memulai kebiasaan “menjawab” cokelat valentine ini pada tanggal 14 Maret 1977 dengan Marshmallow! Marshmallow, permen, biskuit…. kemudian sekarang menjadi lingerie, atau perhiasan. Karena bahan dasar pembuatan marshmallow dan permen ini adalah gula, dan gula itu putih, jadilah dinamakan White Day.

Kembali lagi pada coklat Valentine, pasti teman-teman yang sudah lama di Jepang, pernah mendengar Giri Choko 義理チョコ. Istilah ini berkembang sejak cokelat bukan lagi menjadi Honmei Choko本命チョコ,yaitu cokelat sebagai pernyataan cinta, tapi cokelat yang diberikan hanya karena “giri”. Nah! GIRI itu apa? Sulit dijelaskan dengan satu kata karena artinya juga bisa berubah sesuai dengan kalimatnya. Tapi definisi Giri yang umum adalah: moral untuk berhubungan dalam masyarakat. Etika yang sewajarnya dilakukan dalam kehidupan. Sesuatu yang wajib dilakukan dalam berhubungan dengan manusia atau masyarakat. Wajib itu belum berarti “dari hati” loh! … karena itu dulu banyak orang yang tidak mau memberikan sesuatu kepada orang lain karena takut orang yang mereka berikan mempunyai “giri” yaitu harus membalas budi si pemberi. Sulit juga menerangkan kata giri ini yang mendasari kehidupan orang Jepang.Tapi mungkin dengan ilustrasi Giri Choko itu, bisa mengerti pemakaian kata giri ya.

Untuk Honmei choko si perempuan yang memberikan cokelat kepada laki-laki untuk menyatakan “cinta” nya. Dan nanti tanggal 14 Maret – White Day – giliran si laki-laki memberikan sesuatu sebagai balasan kepada si perempuan, sebagai arti menerima cintanya. TAPIIIII Mungkin kalau kasih kepada satu cowok saja, malu dan takut ketahuan, jadi semua cowok diberikan saja cokelat, dengan harga yang berbeda (lebih murah). Nah GIRI CHOKO deh. Coklat “terpaksa” atau coklat pamrih hehehe.

Katanya kalau harganya di atas 1500 yen itu berarti itu lambang cinta sejati hahaha. Lalu cowo sekantor yang menerima giri choko, jadi TERPAKSA mengembalikan pada White Day. Utang (budi), balas (budi), utang lagi, balas lagi….

Kapan berhentinya ya? Hehehe

Nah, saya itu kadang suka lupa menyiapkan cokelat-cokelat pada hari valentine. Selalu beli GIRI-GIRI yaitu pada tanggal 14 Februari malam! Giri-giri itu artinya MEPET. Jadi cokelatku bukan coklat pamrih atau terpaksa tapi cokelat mepet! Kalau keterlaluan ya belinya tanggal 15 supaya dapat korting deh 😃. Nah ini jadi cokelat “kedaluwarsa” deh 😃

Tulisan ini pernah dimuat dalam pojok Bahasa dan Budaya Jepang di FB Grup “Wanita Indonesia Berkarya di Jepang”

Jadi sekarang teman-teman sudah tahu ya penggunaan kata Giri dan giri-giri. Lalu sebagai penutup, saya mau memperkenalkan lagi “istilah” khusus di hari valentine ini, yaitu : Tomo-choco 友チョコ cokelat yang diberikan sesama teman (biasanya antar wanita), Gyaku-choco 逆チョコ coklat yang diberikan oleh pria sebagai pernyataan cinta kepada wanita, My-choco マイチョコ cokelat beli sendiri untuk dikonsumsi sendiri (seriiiing hahahaha), dan yang terakhir FAMI-choco ファミチョコ cokelat untuk keluarga (ini saya setuju! 😃) Eh iya, ketinggalan satu lagi ITA-choco 板チョコ alias cokelat batangan, yang murah meriah. Kalau ini tidak usah tunggu VALENTINE ya 😉

#wibjnihongo#wibjbudayajepang

 
Leave a comment

Posted by on February 14, 2021 in Uncategorized