RSS

Tanabata

★Dilema Cinta LDR★

Seperti pernah saya tulis, ada peringatan sekku 節句 di Jepang 1-1, 3-3, 5-5, 7-7 dan 9-9. Kali ini saya akan menulis peringatan sekku yang 7- 7 atau tanggal 7 Juli. Memang bukan hari libur, tapi ramai deh di Jepang. Tanggal 7 bulan Juli adalah peringatan Tanabata dengan Festival Tanabata 七夕祭り di mana-mana.

Dan mungkin kalau ada teman-teman yang punya anak TK, bisa melihat ranting-ranting Sasa 笹 atau bambu yang digantungkan kertas-kertas tanzaku 短冊bertuliskan permohonan anak-anak. Tentu saja tidak hanya di sekolah, di mal atau tempat umum lainnya banyak pula yang memasang ranting sasa (bambu) dan menyediakan kertas permohonan untuk dipasang.

Kebiasaan merayakan Tanabata ini memang aslinya dari Cina, yang diperkenalkan di Jepang waktu pemerintahan kaisar wanita Koken pada jaman Nara/Heian. Tapi baru berkembang di seluruh lapisan masyarakat pada Zaman Edo/Tokugawa. Kebetulan waktunya berdekatan dengan Obon yang waktu itu dirayakan sekitar tanggal 15 Juli (sampai sekarang masih ada yang merayakan Obon di bulan Juli). Sehingga perayaan Tanabata di Jepang banyak berubah daripada tanabata aslinya. Tapi kemudian Obon dirayakan bulan Agustus, sehingga pada tanggal bulan Juli memang didominasi perayaan Tanabata. Tapi kalau mau melihat Festival Tanabata yang terkenal di Sendai, mereka mengadakannya justru di bulan Agustus.

Asal usul perayaan Tanabata di Jepang berasal dari Legenda Tanabata yaitu kisah cinta Orihime dengan Hikoboshi. Orihime adalah putri Raja Langit (Tentei) yang pandai menenun. Dikatakan Orihime ini adalah bintang Vega yang merupakan bintang tercerah dalam rasi bintang Lyra. Raja Langit sangat suka tenunan Orihime, sehingga Orihime kerjanya hanya menenun saja. Orihime sedih karena kalau dia hanya menenun saja, bagaimana bisa mendapat jodoh. Nah, sang bapak kemudian mengatur pertemuan dengan Hikoboshi yang merupakan penggembala sapi di seberang Amanogawa (Galaksi Bima Sakti). Hikoboshi ini dianggap sebagai Bintang Altair yang berada di rasi bintang Aquila. Begitu Orihime bertemu Hikoboshi, mereka jatuh cinta dan menikah. Tapi karena itu, Orihime tidak lagi menenun, dan Hikob tidak lagi menggembala (maklum lah pak… kan masih pengantin baru 😃).

Raja Langit kemudian sangat marah dan keduanya dipaksa berpisah. Orihime dan Hikoboshi tinggal dipisahkan sungai Amanogawa (galaksi Bima Sakti) dan hanya diizinkan bertemu setahun sekali di malam hari ke-7 bulan ke-7. Tetapi ternyata meskipun mereka diizinkan bertemu, mereka tidak bisa menyeberangi sungai Amanogawa karena tidak ada jembatan yang menghubungi. Sekawanan burung kasasagi terbang menghampiri Hikoboshi dan Orihime yang sedang bersedih dan berbaris membentuk jembatan yang melintasi sungai Amanogawa supaya Hikoboshi dan Orihime bisa menyeberang dan bertemu. Tapi kalau kebetulan hujan turun, burung-burung itu tidak bisa datang dan membantu mereka menyeberang sungai sehingga harus menunggu setahun lagi ☹ .

Susah memang kalau LDR ya …..Sebelum menutup tulisan, saya prediksi ada yang bertanya : “Pada perayaan Tanabata, ada makanan khususnya tidak?” Saya juga penasaran karena selama ini belum tahu, sehingga saya cari info. Biasanya yang saya tahu ada beberapa Wagashi 和菓子(kue Jepang) yang berhiaskan bintang, atau memakai warna biru yang melambangkan Amanogawa. Tapi ternyata ada makanan khusus yang dimakan pada tanabata yaitu Sōmen 素麵 sejenis mie yang putih tipis. Somen itu bisa dibayangkan seperti aliran sungai Amanogawa kan? Dan ternyata juga tanggal 7 Juli ditetapkan menjadi Hari Somen 😃 (bisnis lagi deh 😃 )Lalu selain somen ternyata ada juga kuenya, yaitu kue yang bernama Sakubei 索餅, kalau lihat fotonya seperti kue kepang manis.

Konon kue ini dulu disajikan sebagai hidangan pada tanggal 7 Juli untuk memperingati anak Kaisar Cina yang meninggal karena sakit pada hari itu. Sebagai tambahan tanggal 7 Juli juga merupakan Hari Yukata, sehingga banyak wanita memakai yukata menghadiri Festival Tanabata. Memang cocok ya.

Bagaimana? Sudah persiapkan wishlist untuk Tanabata? Mesti diingat bahwa wishlist pada Tanabata bukan berupa barang ya, soalnya Tanabatasama ini bukan Sinterklas 😃.

Beberapa tahun lalu saya pernah mencatat sebuah survey ranking wishlist orang Jepang waktu Tanabata yang terbanyak adalah :

1. Supaya semua anggota keluarga tetap sehat
2. Bisa melewati kehidupan yang gembira setiap hari
3. Menang lotere
4. Supaya kehidupan suami-istri awet dan berbahagia
5. Semoga Jepang dan seluruh dunia bisa hidup damai
6. Supaya bisa melakukan pekerjaan dan pelajaran
7. Supaya kondisi ekonomi dunia pulih
8. Supaya gaji naik
9. Supaya dietnya berhasil
10. Supaya tidak terjadi gempa atau bencana lainnya
11. Supaya bisa menemukan pacar yang cocok
12. Supaya bisa tetap menjaga persahabatan dengan teman-teman yang sekarang
13. Supaya bisa memiliki ………. (barang) idaman
14. Supaya bonus gaji bisa naik
15. Supaya bisa sehat dan kuat sehingga dapat bekerja keras
16. Supaya bisa menikah
17. Supaya bisa makan yang enak-enak
18. Supaya tetap awet dengan pacar yang sekarang
19. Supaya lulus ujian
20. Supaya cintaku pada yang bertepuk sebelah tangan bisa terbalaskan.

Aku SEMUA kecuali 3, 11, 16, 18, dan 20 (sudah menikah soalnya hehehe, gawat deh kalau cari lagi yang baru 😃 ).

Soal wishlist sebetulnya ini berasal dari kebiasaan yang berbeda dengan cerita orihime, tapi terjadi pada tgl yang sama. Jadi dulu pada tgl 7 Juli, di Cina ada festival Kikkoden yang merupakan waktu untuk para wanita memohon diberikan kepandaian menenun dan kerajinan lain, juga untuk pria supaya bisa menulis kaligrafi dengan baik. Jadi di sekolah terakoya, mereka menuliskan dengan kaligrafi di kertas yang kemudian digantung. Kemudian kebiasaan menulis keinginan ini diadaptasi dengan menggantungkan permohonan yang ditulis di kertas di pohon Sasa (bambu), karena konon bambu sering dipakai dalam agama Shinto karena bambu itu kuat dan tidak mudah diterbangkan angin.

Disamping itu tgl yang sama, miko (wanita Shinto) biasanya menenun tanabata (kain putih) yang dipersembahkan kepada dewa agar panen berhasil. Jadi kebiiasaan menulis wishlist di Tanzaku itu merupakan campuran dari festival yang berbeda-beda, kemudian menjadi budaya tanabata di Jepang (kebiasaan menulis tanzaku tidak ada di Cina/Korea)Orihime dan Hikoboshi sendiri tidak pernah menulis wishlist sih (yang menulis wishlist ya kita-kita yang berdoa semoga tidak menjadi seperti Orihime an Hikoboshi kan? 😃)

Legenda tanabata bukan hanya milik daerah tertentu tapi seluruh Jepang, meskipun ada kebiasaan daerah tertentu yang diselipkan, sehingga terlihat ada perbedaan pada hiasan-hiasan tanabata di setiap daerah. Perlu diketahui, dalam lagu tanabata sama (yang dinyanyikan pada tanabata festival) terdapat lirik tanzaku (wishlist) lima warna. Warna itu biru (melambangkan daun), merah(melambangan api), kuning (melambangkan tanah), putih (emas/uang) dan hitam (air). Jadi memakai warna unsur yang diperlukan manusia untuk hidup. Lima warna ini di Jepang memang dipakai dalam berbagai kegiatan agama.

 
Leave a comment

Posted by on July 7, 2021 in Uncategorized

 

MUDAN 無断 むだん

Beberapa waktu lalu saya menyelenggarakan semacam seminar bahasa Indonesia. Tidak besar memang, menurut pendaftaran hanya ada 26 orang saja. Nah, seperti sudah saya perkirakan, pasti ada yang tidak muncul pada hari H. Benar saja, ada 4 orang yang tidak hadir. Ini berarti 15% peserta tidak hadir. Dan angka ini besar lo. Hanya ada satu orang yang menghubungi saya meminta maaf karena dia tidak bisa hadir. Yang lainnya? Tidak ada kabar berita. Dan waktu saya lihat namanya, ada satu orang yang SELALU tidak hadir padahal sudah mendaftar. Saya heran pada orang-orang yang tidak bertanggung jawab seperti itu. Mungkin lain kali perlu masuk black list saja, mencontoh grup FB saya : WIBJ yang memberlakukan “penalti” bagi orang yang tidak hadir dalam workshop WIBJ tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Tidak hadir tanpa pemberitahuan dalam bahasa Jepangnya disebut MUDAN 無断 むだん mudan kesseki 無断欠席 むだんけっせき. 無断 mudan itu tanpa izin, kesseki itu tidak hadir dan lawan katanya shusseki 出席 しゅっせき yang berarti hadir. Kalau di kantor ada istilah mudan kekkin 無断欠勤 むだんけっきん。 Kekkin itu artinya tidak masuk (kantor), jadi mudan kekkin itu tidak masuk kantor tanpa pemberitahuan. Hati-hati kalau di kantor, tidak hadir tanpa izin bisa dipecat, lo.

Pemakaian mudan yang lain adalah mudan chuusha 無断駐車 むだんちゅうしゃ, parkir tanpa izin atau parkir sembarangan. Nah kalau ini siap-siap saja membayar ¥5.000 ~¥15.000 (katanya bahkan ada tempat yang ¥50.000 hihihi)

Karena mudan 無断 berarti tanpa izin, cukup banyak kata yang bisa dipadukan, misalnya:

Mudan gaihaku 無断外泊 むだんがいはくmenginap di tempat lain tanpa izin, biasanya dilakukan oleh pasien rawat inap, yang “pulang” tanpa izin.

Mudan shiyo 無断使用 むだんしようpemakaian tanpa izin

Mudan hanbai 無断販売 むだんはんばいpenjualan tanpa izin

Mudan satsuei 無断撮影 むだんさつえい pemotretan tanpa izin

Mudan gaishutsu 無断外出 むだんがいしゅつ pergi tanpa izin

Mudan tokan 無断投函 むだんとうかん memasukkan selebaran tanpa izin ke dalam mail box. Ini sering ditulis di mail box di apartemen. Karena sering selebaran (terutama untuk adult) dimasukkan ke dalam mail box. Ada yang terang-terangan menulis “karena ada anak-anak mohon tidak memasukkan selebaran ke dalam mail box ini”.

Mudan cancel無断キャンセル cancel tanpa memberitahukan. Ini saya baca waktu saya membuat janji untuk vaksin.

Mudan keisai 無断掲載 むだんけいさいpemuatan di majalah/surat kabar tanpa izin

Mudan Shinnyu 無断侵入 むだんしんにゅうmasuk (lingkungan/wilayah) tanpa izin

Nah, yang terakhir yang perlu saya tulis di sini adalah mudan tensai. Mudan tensai 無断転載 むだんてんさい artinya mengopi tanpa izin. Jadi misalnya membagikan tulisan orang di tempatnya sendiri tanpa meminta izin, itu namanya mudan tensai. WIBJ sendiri sudah menetapkan bahwa kalau mau share tulisan seseorang di WIBJ di statusnya sendiri maka harus menuliskan nama penulis dan sumber berita di bagian atas dan bawah. Karena orang Indonesia sering meneruskan tulisan dan mengganti/menghapus nama penulisnya seakan-akan itu tulisannya sendiri.

Ini semua adalah etika dalam hidup bermasyarakat. Kita yang hidup di masyarakat Jepang harus menjaga manner kita sebagai orang asing. Kalau tidak jadi ikut, HARUS memberitahukan sebelumnya. Kalau tidak bisa sebelumnya karena mendadak/genting, harap memberitahukan segera setelah bisa. Ini menyangkut kepercayaan, lo.

Tulisan ini pernah dimuat di FB Grup “Wanita Indonesia Berkarya di Jepang”

 
2 Comments

Posted by on July 5, 2021 in Uncategorized

 

Hari Soft Cream

Kemarin tanggal 3 Juli rupanya adalah hari Soft cream, karena pada tanggal 3 Juli tahun 1951 di Taman Meiji Jinggu diadakan karnaval oleh tentara Sekutu. Nah pada saat itulah dijual soft cream pertama kali di Jepang.

Pernah penasaran tidak? Apa bedanya soft cream dan ice cream? Ice cream itu suhunya di bawah -18 derajat C sedangkan soft cream antara -7 sampai -5 derajat. Karena itu soft cream lebih lembut rasanya, kan? Konon perbedaan suhu itu juga mempengaruhi. Kenapa suhunya beda? Jadi kalau ice cream itu dibuat dipabrik dan untuk sampai ke pelanggan, hari melalui perjalanan panjang. Karena itu perlu suhu yang lebih rendah. Sedangkan soft cream dibuat langsung di depan pelanggan, jadi tidak perlu suhu begitu rendah.

Ternyata tidak selalu hari-hari panas itu menyebabkan soft cream banyak terjual, loh. Konon kalau suhu hari itu terlalu panas, malahan yang laku adalah soft cream rasa ramune, karena rasanya lebih segar. Waktu kecil dulu, saya selalu ingat dibelikan soft cream di apotik Melawai, Kebayoran Baru. Rasanya bisa pilih vanila, coklat atau mix. Saya selalu pilih yang mix. Dan menurut saya rasa soft cream di situ yang paling enak (y). Sayangnya cuma bertahan beberapa tahun saja, mungkin sewa mesinnya mahal, ya?

Sekarang sih, saya sering ingin coba soft cream rasa yang aneh-aneh. Misalnya rasa natto, rasa gyutan (lidah sapi), rasa lavender, atau rasa kecap asin (shoyu). Cuma ingin tahu saja sih 😃

Dan ternyata setelah saya periksa lagi Soft cream itu adalah JAPLISH. Seharusnya bahasa Inggrisnya Soft serve ice cream, kemudian disingkat jadi soft cream 😃

Tulisan ini pernah dimuat di FB Grup “Wanita Indonesia Berkarya di Jepang”

 
Leave a comment

Posted by on July 4, 2021 in Uncategorized

 

Hari Payung

Tanggal 11 Juni dijadikan sebagai hari Payung di Jepang sejak tahun 1989 dengan alasan pada tanggal itu biasanya Jepang sudah masuk musim hujan 梅雨入り. Yang menetapkan adalah sebuah asosiasi yang bernama JUPA (Japan Umbrella Promotion Association, guna lebih memasyarakatkan payung.

Yang dimaksud dengan kasa adalah payung yang kanjinya 傘 bukan 笠 yang memang dibacanya juga sama sebagai kasa. Tapi berupa topi yang langsung dipakai di atas kepala. Kalau tahu cerita kasajizo 笠地蔵 かさじぞうitu adalah kasa yang topi, yang dipakaikan di kepala ojizo sama お地蔵様 patung yang terbuat dari batu.

Lalu yang ingin dipromosikan oleh JUPA itu adalah payung Eropa yogasa  洋傘 ようがさ, bukan wagasa 和傘 わがさ. Padahal payung wagasa ini sudah lama ada di Jepang, dibandingkan yogasa. Kalau melihat lukisan mengenai Genji Monogatari yang ditulis pada akhir zaman Heian (1068~1192) sudah ada wagasa. Jadi sudah bisa dipastikan memang payung wagasa itu sudah lama dipakai di Jepang. Sedangkan payung Eropa itu baru masuk waktu Komodor Matthew Calbraith Perry 1853 datang ke Jepang.

Perbedaan mendasar dari wagasa dan yogasa itu memang terletak pada perbedaan bahan yang dipakai. Wagasa terbuat dari kertas Jepang yang berlapis kertas minyak, sedangkan yogasa terbuat dari bahan kain. Padahal soal ketahanan pada airnya tidak jauh berbeda, tetapi wagasa memang tidak sekuat yogasa, alias cepat robek.

Seiring dengan perkembangan yogasa, atau payung yang sedang kita bahas ini, ada beberapa istilah yang sering dipakai

  1. Jump Kasa ジャンプ傘、menunjuk pada payung yang langsung “melompat” terbuka begitu kita tekan tuas di pegangannya.
  2. Payung lipat, oritatami kasa  折り畳み傘 おりたたみかさ、yaitu payung yang bisa dilipat dua, atau tiga sehingga menjadi kecil dan bisa dimasukkan ke dalam tas. Ternyata payung lipat itu adalah hasil temuan orang Jerman yang bernama Hans Haupt, pada tahun 1928. Sedangkan payung lipat tiga konon mulai beredar tahun 1960.
  3. Vinyl kasa, payung plastikビニール傘 menunjuk pada payung yang terbuat dari plastik transparan. Saya ingat sekali dulu pertama kali datang ke Jepang tahun 1989, ada teman yang membeli payung plastik ini bermacam warna untuk oleh-oleh. Vinyl kasa ini dijual pertama kali tahun 1958 dan terkenal pada olimpiade Tokyo tahun 1964, karena ada orang Amerika yang ingin menjualnya di Amerika, dan tentu saja langsung populer di New York.

Nah, ada satu lagi yang ingin saya tulis yaitu penggunaan kata kasa, yaitu aiaigasa 相合傘あいあいがさ. Aiaigasa adalah pemakaian satu payung untuk berdua, berbeda jenis kelamin. Ini merupakan momen yang romantis deh. Ini juga dipakai untuk pedekate terhadap lawan jenis yang disukai secara tersamar. Memang banyak karya sastra setelah zaman Edo yang menceritakan tentang aiaigasa ini. Dalam film-film remaja biasanya ada gambar aiaigasa ini, berbentuk coret-coretan di dinding atau papan tulis ada tanda payung, hati dan nama laki-laki dan perempuan di bawah gambar payungnya.

Sebagai penutup, saya suka payung yang terakhir saya beli, yaitu payung bertulang 16 (konon ini mengikuti lambang kekaisaran Jepang yaitu kuntum seruni yang sejumlah 16, lo) dan mempunyai lapisan plastik yang bisa menampung air hujan sehingga tidak menetes. Lumayan bisa membantu pelestarian lingkungan dengan menghemat pemakaian plastik payung yang disediakan toko-toko, kan.

Tulisan ini pernah dimuat di FB Grup “Wanita Indonesia Berkarya di Jepang”

 
Leave a comment

Posted by on June 12, 2021 in Uncategorized

 

Festival Bunga 花まつり

Tadinya saya rencana ke KBRI hari Rabu tanggal 27 Mei 2021, tapi kemudian kemarin diingatkan teman, “Eh itu kan hari Waisak. KBRI libur loh”. Untung saja ngobrol, kalau tidak bisa kecele deh. Gakkari がっかり。Waisak adalah hari besar agama Buddha, yang sering kita ketahui sebagai hari lahirnya Buddha, atau Sidharta Gautama. (Dalam ajaran agama Buddha sebetulnya ada 3 hal penting yang dirayakan pada waktu Waisak yaitu kelahiran Buddha, pencapaian penerangan agung sehingga disebut sebagai Buddha dan wafatnya Buddha).

Buddha dalam bahasa Jepang disebut oshakasama お釈迦様 おしゃかしゃま。Agamanya sendiri disebut Bukkyou 仏教 ぶっきょう。Waisak itu berasal dari kata Vesak dari bahasa Sanksekerta. Kalau di Indonesia, biasanya Waisak dirayakan dengan melepaskan lampion sementara umat Buddha akan pergi ke kuil, bertapa untuk merenungkan ajaran Sang Buddha dan berbagi makanan. Kita semua tahu bahwa banyak umat Buddha dari dalam negeri maupun luar negeri biasanya berkumpul di Candi Borobudur. Karena pandemi, acara berkumpul tahun ini ditiadakan.

Nah, yang menjadi pertanyaan, apakah Jepang yang juga menganut agama Buddha tidak merayakan Waisak? Ternyata umat Buddha di Jepang juga merayakan kelahiran Buddha ini dengan nama Hana matsuri 花まつり. Dan tanggalnya sudah pasti yaitu tanggal 8 April, tidak seperti di Indonesia yang berubah-ubah setiap tahun. Bagaimana umat Buddha di Jepang merayakan Hana matsuri?

Tentu di Jepang tidak libur. Perayaan dipusatkan di kuil-kuil terutama di Kyoto dan Nara. Perayaan Hanamatsuri ini konon pertama kali dirayakan di Asuka dera 飛鳥寺di Nara tahun 606. Rupanya mereka membuat seperti kolam kecil dengan patung Buddha kecil di tengahnya, dan dihias dengan bunga-bunga. Umat yang datang menyiramkan air amacha 甘茶 sejenis teh yang terbuat dari ajisai (hydrangea) dari kolam kecil itu ke atas patung Buddha, seakan-akan memandikan bayi. Nah saya pernah melihat seperti kolam kecil ini di depan sebuat supermarket dekat rumah dulu. Saya heran tadinya, lalu membaca keterangan di sampingnya. Rupanya ini Hanamatsuri (dan memang hari itu tanggal 8 April). Timely sekali ya.  Daaan, tentu saja, kebiasaan orang Jepang, sering sekali menaruh (melemparkan uang koin) ke air yang tergenang :D.

Dalam agama Buddha, ada satu kata yang masih sulit saya mengerti, yaitu hotokesama 仏様 ほとけさま。Dalam pengertian saya Hotokesama itu = Buddha. Tapi coba pergi ke pemakaman. Semua orang akan menyebut orang yang sudah meninggal itu dengan hotokesama. Jadi hotokesama juga sama dengan arwah leluhur. Jadi ada baiknya juga teman-teman mengingat tiga hal ini :

  1. Buddha disebut dengan oshakasama
  2. Hanamatsuri itu bukan seperti festival bunga sakura, tapi peringatan kelahiran Buddha dan
  3. Arwah orang meninggal juga disebut dengan hotokesama.

Mempelajari agama memang sulit, tetapi ada baiknya kita mengetahui agama orang lain, karena agama pun bagian dari budaya.

Tulisan ini pernah dimuat di FB Grup “Wanita Indonesia Berkarya di Jepang”

 
Leave a comment

Posted by on May 27, 2021 in Uncategorized

 

HARI ANAK こどもの日

Tanggal 5 Mei adalah hari khusus untuk anak laki-laki, yang berasal dari perhitungan kalender Cina Kuno yang disebut dengan sekku 節句. Hari libur ini merupakan serangkaian hari libur di akhir April dan awal Mei yang disebut Golden Week (Minggu Emas) di Jepang.

Berdasarkan hukum, Hari Anak-anak diperingati sejak tahun 1948 dan ditetapkan dengan undang-undang hari libur Jepang (Shukujitsu-hō祝日法) untuk “menghormati kepribadian anak, merencanakan kebahagiaan anak sambil berterima kasih kepada ibu.”

Kira-kira sebulan sebelum hari ini, di tiap rumah yang mempunyai anak laki-laki akan menghias rumahnya dengan bendera berbentuk ikan koi, yang disebut Koi Nobori鯉のぼり. Semakin kaya keluarga itu, semakin besar dan bagus bendera yang dipasang. Dan biasanya kakek-nenek lebih antusias merayakan upacara anak laki-laki ini dibanding dengan keluarga muda zaman sekarang. Koinobori ini adalah perlambang atau simbol hari anak laki-laki.

Mengapa bendera ikan Koi yang dipakai sebagai lambang hari anak-anak ini? Mengapa bukan layang-layang berbentuk naga atau mungkin samurai? Mengapa ikan KOI? mengapa bukan ikan-ikan yang lain, misalnya hiu atau salmon? 😃

Setelah saya cari ternyata Koi merupakan ikan yang tangguh dan bisa hidup di mana-mana, kolam maupun genangan air berlumpur. Dahulu ada air terjun di China yang arusnya bergitu kencang. Konon jika ada ikan yang berhasil melawan arus dan sampai di puncaknya akan berubah menjadi naga. Dan satu-satunya ikan yang berhasil melawan arus dan sampai ke puncaknya hanya seekor Koi. Dia kemudian berubah menjadi naga. Jadi Koi dipilih sebagai simbol hari anak-anak juga dimaksudkan supaya anak-anak laki-laki dapat TETAP TANGGUH melawan kehidupan yang keras dan maju terus.

Tapi kalau lihat dari sejarahnya, sebetulnya koinobori baru dipakai pada jaman Tokugawa di kalangan rakyat biasa. Dulunya untuk peringatan hari anak-anak untuk kalangan samurai dipakai bendera dengan lambang keluarga atau umbul-umbul. Nah, kalangan rakyat biasa yang tidak mempunyai lambang keluarga kemudian memakai simbol Koi sebagai bendera sebagai “saingannya” kaum samurai.

Awalnya bendera Koi ini terbuat dari kertas Jepang, dan baru pada tahun 1955 memakai bendera dari kain sintetis. Nah, lalu ada pertanyaan lagi dari seorang teman: “ikan koi tahan ya Mbak di musim dingin..?apa kolamnya pakai’ heater?”

Tentu saja ikan Koi tahan dingin, karena asal mereka memang dari negara 4 musim dan di alam tidak ada heater bukan? Ikan Koi yang terkenal di Jepang dari jenis Nishikigoi錦鯉, berasal dari daerah Niigata. Daerah yang terkenal sebagai “Negara Salju” Yukiguni. Tidak mungkin ikan Koi ini satu per satu dipindahkan ke kolam berheater kan? 😃 Lagi pula meskipun permukaan kolam membeku, air di dalam kolam tidak akan membeku, atau tidak semua tempat airnya membeku (seperti yang dialiri air terjun pasti tidak membeku). Karena tahan dingin ini juga mungkin ikan Koi terkenal dengan kekuatannya. Jadilah dia koinobori, simbol bagi pertumbuhan dan perkembangan anak laki-laki menjadi manusia yang tangguh dan kuat.

Zaman dahulu, untuk merayakan hari anak laki-laki ini, keluarga akan membelikan replika baju samurai yoroi鎧, topi/helm samurai kabuto 兜, dan sebagai tambahan patung anak laki-laki kuat dalam dongeng Kintaro. Semakin besar, semakin lengkap menunjukkan kekayaan keluarga itu. Dan memang harga satu set perlengkapan ini tidak main-main, loh. Satu kabuto helm samurai saja, saya lihat berlabelkan harga 250.000 yen di sebuah departemen store terkenal. Baru kabuto, belum yoroi (yang biasanya jarang dipunyai). Tapi sekarang karena keluarga muda banyak yang tinggal di apartemen, tidak ada tempat untuk meletakkan perhiasan seperti itu, sehingga semakin kecil semakin bagus (meskipun harganya belum tentu semakin murah hehehe).

Nah untuk makanan, pada hari Anak ini biasanya disediakan Kashiwa mochi 柏餅. Mochinya sebetulnya biasa saja, ada yang putih, merah muda, hijau (yomogi) dengan isi pasta kacang merah. Tapi istimewanya mochi yang dibungkus dengan daun Kashiwa, yang bentuknya khas, dan daunnya biasanya tidak dimakan. Mengapa harus dibungkus dengan daun Kashiwa (Daimyo Oak)? Sebetulnya ini juga perlambang, karena daun Kashiwa itu terkenal tidak rontok di musim gugur. Biasanya pohon-pohon merontokkan daun di musim gugur, kemudian di musim semi daun baru tumbuh. Tapi khusus Kashiwa daun tua akan terus menempel pada batang pohon sampai daun baru tumbuh. Ada waktu daun lama dan baru tumbuh bersama, dan itu diharapkan terjadi juga pada laki-laki. Supaya tidak mati sebelum anaknya cukup besar. Atau sebagai pengertian lain, BISA MENYIAPKAN GENERASI PENERUS DULU SEBELUM LENGSER. Karena itu di halaman rumah Bushi (kaum samurai) 武士 pasti ditanam pohon Kashiwa ini. Jadi kashiwa mochi juga perlambang harapan kepada anak laki-laki agar tetap kuat dan umur panjang.

Terakhir, pada hari anak ini, biasanya setiap keluarga akan menyediakan Shobu yu 菖蒲湯, dengan menaruh batang shobu pada air panas di bak ofuro, katanya supaya anak lelaki menjadi kuat. Karena malas menyediakan di rumah, dulubiasanya saya suruh anak-anak saya pergi dengan papanya ke sento 銭湯 pemandian umum dekat rumah, karena disediakan shobu yu di sana. Untuk anak laki-laki biasanya ada potongan harga khusus pada hari anak-anak. Sekarang kami sudah tinggal di rumah sendiri, dan tidak ada pemandian umum dekat rumah. Lagipula mereka sudah tidak mau dirayakan lagi. “Aku kan bukan anak-anak lagi….. 😀 “

Kashiwa mochi

 
Leave a comment

Posted by on May 4, 2021 in Uncategorized

 

Hari Buku Dunia dan Hak Cipta

Hari ini tanggal 23 April merupakan World Book (and copyright) Day. Bahasa Jepangnya 世界図書・著作権デー sekai tosho chosakuken day. Kok bukan hon?

Sebetulnya kata BUKU atau Book itu dalam Bahasa Jepang bisa disebut sebagai HON 本 ini yang umum diketahui semua orang. Lalu ada istilah 図書 Tosho , yang sering dipakai dengan gabungan kata lain seperti Toshokan 図書館 (perpustakaan) toshoshitsu 図書室 (perpustakaan tapi bukan gedung, hanya ruangan saja)dan Toshokado 図書カード (book gift card).

Istilah Shoseki 書籍 sering dipakai sebagai pengganti Tosho, karena Tosho umumnya sudah lebih diketahui sebagai kesatuan Toshokan. Karena itu jika mengatakan “Pengiriman Buku” lebih dipakai shoseki yuso 書籍郵送 bukan tosho yuso 図書郵送 atau waktu mengetik kata kunci “Pencarian Buku” tidak menuliskan Tosho kensaku 図書検索 tapi Shoseki kensaku 書籍検索, karena nanti yang keluar banyak adalah daftar Perpustakaan bukan buku.

Dan yang terakhir adalah shomotsu 書物 sebuah istilah yang baku dan jarang dipakai dalam percakapan biasa. Misalnya dalam dokumen “Sejarah buku” maka dituliskan Shomotsu no rekishi 書物の歴史. Jadi 4 istilah ini 本、図書、書籍 dan 書物 kalau diterjemahkan ya menjadi BUKU saja, tapi orang Jepang membedakan masing-masing dalam pemakaiannya. (Ribet ya 😀 )

Saya ingin memperkenalkan jenis buku di Jepang yang disebut sebagai bunkobon 文庫本. Semua bunkobon berukuran sama yaitu A6, 105mm×148mm. Dipelopori oleh penerbit Iwanami Bunko, bagian dari sebuah penerbit Iwanami Shoten, termasuk penerbit lama di Jepang (berdiri th 1913). Iwanami Bunko menerbitkan buku-buku dengan ukuran sama A6 ini untuk mempopulerkan buku klasik yang pernah diterbitkan dengan harga murah kepada masyarakat umum pada tahun 1927.

Tapi sesudah perang (1945) beberapa penerbit juga meramaikan penerbitan bunkobon ini. Buku bunkobon ini bisa disebut sama dengan paperback dalam bahasa Inggris (ukurannya sedikit lain), tapi bunkobon ini mempunyai cover pelindung tambahan yang tidak terdapat dalam paperback di negara lain.

Ada satu kebiasaan dalam penerbitan buku di Jepang yaitu “ban buku” hon no obi 本の帯 (obi sebenarnya artinya ikat pinggang – stagen yang dipasang di pinggang), yang dipasang diatas cover pelindung buku. Dalam obi ini dituliskan pesan sponsor, kata-kata memikat untuk memilih buku itu. Atau bisa juga berupa promosi dari film yang berkaitan dengan buku tersebut (seperti pamflet/flyer kecil). Atau obi tersebut bisa diberi warna, sesuai dengan kategori bukunya. Misalnya warna kuning adalah kategori sastra Jepang kuno, warna biru kategori science/pemikiran, warna hijau sastra Jepang, warna pink sastra luar negeri, dan warna putih social science.

Bagi saya, obi ini sangat mengganggu waktu membaca, sehingga biasanya saya buang…. Dan dimarahi oleh suami saya. Katanya kalau nanti buku itu mau dijual dan tidak ada obinya, harganya bisa jatuh (lebih murah). Padahal… ntah kapan juga mau jualnya hehehe.

Kalau di Jepang ada obi, di Indonesia saya perhatikan sekarang ada kebiasaan menyelipkan shiori しおり pembatas buku yang senada dengan cover bukunya. Kalau di Jepang memang tidak ada shiori, tapi di beberapa buku ada pita pembatas.

Keberadaan bunkobon ini juga yang membuat rak buku di Jepang bisa terlihat teratur. Besarnya sama, dan bisa dibuat lemari khusus yang kedalamannya tidak perlu terlalu dalam (16 cm). Juga jarak antara papan juga sudah pasti. Tentu saja kalau semua bukunya bunkobon.

Selain bunkobon, masih ada ukuran-ukuran lain yang lebih besar yaitu TANKOBON 単行本. Tankobon ini biasanya lebih besar dan lebih beragam ukurannya. Sesuai dengan Namanya, Tankobon itu diterbitkan satu-satu, tidak berseri/berjilid-jilid. Jadi kalau pergi ke toko buku dan melihat ke pojok “Buku baru”, itulah tankobon. Tentu saja karena baru, harganya tidak semurah bunkobon, tapi karena “fresh from the oven” tentu kita dapat membacanya pada waktu baru diterbitkan atau waktu sedang populer-populernya.

Sebagai penutup, saya baru tahu bahwa ternyata menurut Unesco (1964), yang dinamakan buku itu harus berjumlah 49 halaman lebih (isinya). Kalau hanya 5 halaman sampai 49 halaman itu disebut dengan buklet. 😀

Tulisan ini pernah dimuat di FB Grup “Wanita Indonesia Berkarya di Jepang”

 
Leave a comment

Posted by on April 23, 2021 in Uncategorized

 

Textbook 教科書

Hari ini tanggal 10 April merupakan hari peringatan Textbook atau Buku Pelajaran di Jepang. Dalam bahasa Jepang disebut KYOKASHO 教科書.

Sebetulnya peringatan Hari Buku Pelajaran (untuk SD-SMP-SMA) ini baru ditentukan tahun 2010, dan dipilih tanggal 10 April hanya karena penulisan penanggalan Jepang 4/10 dibaca Yoi Tosho (Buku yang bagus).

Karena penasaran saya mencari informasi mengenai Buku Pelajaran di Jepang. Memang saya tahu bahwa buku pelajaran kyokasho di Jepang itu gratis, dibayar dengan pajak masyarakat. Kyokasho gratis ini dimulai sejak tahun 1963.

Setiap awal tahun pelajaran yang dimulai bulan April, murid mendapatkan satu set buku pelajaran sesuai dengan mata pelajaran. Kalau di buku-buku cetak yang dijual, biasanya di bagian belakang akan tertulis harga berapa Yen. Tapi di buku pelajaran tidak ada harga, kalaupun ada tertulis nol. Nah, pernah kejadian anak saya menghilangkan buku pelajarannya, saat itu saya memberitahukan kepada gurunya dan gurunya akan memberitahukan bisa membeli di mana. Karena tidak semua toko buku menjual buku pelajaran tersebut. Tetapi meskipun harus bayar, rata-rata harga kyokasho itu hanya 407 yen.

Di seluruh negeri Jepang hanya ada 2935 toko buku yang menyediakan buku pelajaran, dan ada 53 perusahaan yang menyediakan buku pelajaran. Tidak sembarang perusahaan bisa menerbitkan buku pelajaran. Butuh waktu 4 tahun untuk sampai bisa menerbitkan buku. 2 tahun untuk penulisan dan editing, 1 tahun untuk penilaian dari kementrian pendidikan dan 1 tahun untuk pencetakan dan pendistribusian. Tapi kyokasho juga direvisi setiap 4 tahun. Setiap ada revisi biasanya halaman buku akan bertambah. Semakin berat, sehingga ada keluhan juga bahwa beban anak-anak (tas ransel) semakin lama semakin berat.

Kemudian, tidak semua sekolah memakai satu kyokasho dari satu perusahaan. Komite sekolah di daerah dan kepala sekolah yang menentukan sekolahnya memakai kyokasho perusahaan A, misalnya. Apakah khawatir isinya lain? Tidak mungkin lain, karena sudah ada panduan dari kementrian yang harus ditaati dalam penulisan. Komposisi atau layout bisa lain sedikit tapi isi dan tujuannya sama. Ini saya ketahui juga waktu anak saya pindah sekolah pertengahan kelas 5. Buku yang dipakai di kelas 5 di Tokyo, lain dengan yang dipakai di Saitama.

Lalu buat apa ada hari peringatan kyokasho? Dirayakan dengan perlombaan membuat poster, mengingatkan warga bahwa kyokasho itu penting. Dari kyokasho-lah seorang anak mendapatkan ilmunya. Apalagi kyokasho itu dibuat dengan pajak masyarakat, jadi perlu dihargai. Ada pula maskot dari kyokasho yang dinamakan shiru-shiru (shiru artinya mengetahui).

maskot Shiru shiru http://www.textbook.or.jp/special/memorial/index.html

 
Leave a comment

Posted by on April 10, 2021 in Uncategorized

 

Patung Buddha 大仏

Kalau jalan-jalan ke Jepang, belum afdal rasanya kalau belum pergi ke Kuil Buddha apalagi mencari Patung Buddha di dalamnya. Ada beberapa patung Buddha besar (Daibutsu) di Jepang dan kalau mencari yang TERBESAR, pasti akan keluar nama 牛久大仏 Ushiku Daibutsu di Ibaraki, setinggi 120 m (dibangun tahun 1995). TAPI, kalau kita mencari yang terkuno dan paling bersejarah, sudah pasti Daibutsu di Nara dalam kuil Todaiji (15 meter). Pasti merupakan destinasi wisata nomor satu yang harus dikunjungi di daerah Kansai.

Saya menulis tentang Patung Buddha ini karena hari ini tanggal 9 April merupakan Hari Daibutsu. Hari peringatan Patung Buddha besar, karena pada tanggal 9 April tahun 752 itu pertama kalinya dilakukan upacara “pembukaan/penyucian” secara agama yang dihadiri Kaisar saat itu.

Daibutsu di Kuil Todaiji, Nara (Nov 2017, koleksi pribadi)

Saya teringat waktu awal-awal kedatangan di Jepang, saya bertemu seorang arsitek yang berkata, “mel, kamu tahu bahwa kuil Todaiji dan Borobudur itu dibangun hampir bersamaan? Todaiji itu bangunan kayu (tertua) dan Borobudur itu terbuat dari batu. Itu menunjukkan kejayaan agama Buddha saat itu”.

Ho ho, memang saya ingat bahwa Borobudur dibangun saat zaman Syailendra, tapi tepatnya kapan ya?

 Tidak ada catatan yang memberikan keterangan kapan dan siapa pendiri Candi Borobudur. Meskipun demikian, para ahli arkeologi telah berpendapat bahwa masa pembangunan Candi Borobudur diduga dari ± tahun 775 M sampai dengan  ± 832 M. (dari sini).

Borobudur (Agustus 2015, koleksi pribadi)

Memang benar hampir sama, ya?

Ngomong-ngomong, di masa pandemi ini, kami diaspora yang berada di Luar Negeri bersatu dalam grup #KangenIndonesia dan saling memberikan foto dan diskusi menarik supaya begitu perbatasan dibuka, kami bisa pulang dan berwisata ke Indonesia. Foto Borobudur juga salah satunya.

Tapi kami juga sedih mendengar musibah yang terjadi di Nusa Tenggara Timur, dan diaspora pun berusaha untuk membantu saudara-saudara kami di NTT. Semoga Tuhan melindungi NTT ❤

 
Leave a comment

Posted by on April 9, 2021 in Uncategorized

 

Aka no tanin 赤の他人

Tanin 他人= orang lain, Aka 赤= merah. Orang lainnya warna merah? Aka no tanin 赤の他人adalah ungkapan yang dipakai untuk merujuk pada orang lain yang tidak ada hubungannya sama sekali. Kebetulan tadi pagi saya menonton drama dan ada adegan yang menggambarkan seorang anak yang dirawat oleh “orang lain” tapi sangat dibela/disayang. “Kenapa kamu membela saya yang bukan siapa-siapanya kamu?” Saya kan aka no tanin.Yang menjadi pertanyaan sekarang, kenapa mesti pakai kata AKA赤 ? Kan cukup dengan tanin 他人 saja yang artinya memang orang lain? Kenapa mesti kanji MERAH 赤?

Ternyata dulu memang pakai aka yang kanjinya 明い =明らかに あきらかに artinya jelas-jelas. Jelas-jelas orang lain. Baru kemudian kanji 明 itu berganti menjadi kanji 赤 yang berarti merah. Tentu saja membingungkan ya?Dan ternyata selain 赤の他人、ada beberapa istilah yang memakai kanji 赤 ini yaitu 「真っ赤なうそ」 dibaca Makkana uso, berarti jelas-jelas bohong. 「赤っ恥」dibaca akkapaji jelas-jelas memalukan「赤裸々」dibaca sekirara jelas-jelas telanjang. Jadi memang yang sekarang ditulis dengan kanji merah itu awalnya dari あきらかに。

Tentu saja teman-teman tahu bahwa bayi disebut 赤ちゃん Akachan ya? Atau kadang juga disebut dengan Akago 赤子 atau Akanbo 赤ん坊. Akachan ini memakai kanji merah, karena memang bayi yang baru lahir kan berwarna merah. Jadi penjelasannya lain dengan si Aka no tanin.

Ada beberapa kata dengan kanji 赤 aka yang ingin saya tuliskan di sini, dan pasti ada yang sudah tahu beberapa atau semua. Perlu diketahui juga, banyak nama barang (misalnya 赤ワイン= aka wine = anggur merah) atau binatang (misalnya 赤とんぼ Aka tonbo = capung merha)、yang memang berwarna merah sehingga memakai kanji 赤aka ini. Selain itu kanji 赤 juga bisa dibaca sebagai seki. Kali ini seki tidak saya bahas.

Dalam keseharian kita mengenal 赤信号 あかしんごう akashingo = lampu merah (lampu lalu lintas) , 赤帽 あかぼう akabou = topi merah tapi juga menjadi nama perusahaan pindahan, 赤組 あかぐみ akagumi = grup merah yang pasti ada dalam festival olah raga sekolah. 赤点 あかてん akaten = nilai merah yang membuat emak-emak marah-marah 😃 dan kalau 赤字 あかじ akaji =merugi membuat bapak-bapak yang marah-marah 😃

Memang masih banyak ya kata-kata dengan kanji 赤 ini, tapi sebagai penutup saya ingin memperkenalkan kata 赤い糸 あかいいと akaiito harafiahnya benang merah, tapi biasanya ini dipakai sebagai simbol jodoh. Lengkapnya 運命の赤い糸 unmeino akaiito. Kalau sudah jodoh pasti bertemu, 運命の赤い糸に結ばれる unmei no akaiito ni musubareru. Karena itu kalau menonton film-film Jepang (ingat film Kimi no na) kadang kita menemukan pasangan yang memakai benang merah di jari kelingking kiri ya? Dulu di Jepang tidak ada cincin kawin, jadi pakainya benang merah. Tapi ini juga melambangkan “perjanjian”. Ceritanya panjang, tapi singkat cerita istilah yubikiri 指切り waktu berjanji (anak-anak sering berkata yubikiri sambil mengaitkan jari kelingking) itu juga berasal dari urusan jodoh dan percintaan ini.

Jadi jangan anggap enteng si kelingking loh, karena tanpa kelingking, jodoh tidak datang hehehe.

Tulisan ini dibuat untuk pojok Bahasa dan Budaya Jepang di FB Grup “Wanita Indonesia Berkarya di Jepang”

#wibjnihongo#wibjbudayajepang

 
Leave a comment

Posted by on April 8, 2021 in Uncategorized