RSS

Ambilkan Bulan, Bu

Ambilkan bulan, Bu

Yang selalu bersinar di langit

Di langit bulan benderang

Cahyanya sampai ke bintang

Ambilkan bulan, Bu

Untuk menerangi

Tidurku yang lelap

Di malam gelap

(Ciptaan A.T. Mahmud)

Sudah melongok ke angkasa kemarin malam? Tanggal 23 September di Jepang (biasanya memang tanggal 22/23 September setiap tahunnya) adalah Aki Higan 秋彼岸, bahasa Inggrisnya Equinox Day.

Higan 彼岸, adalah istilah dalam agama Buddha. Kanji Higan sendiri baru ditempelkan sesudahnya, tapi kata Higan sering diartikan sebagai “dunia lain atau surga”. Jadi dalam agama Buddha Higan dianggap sebagai masa/waktu untuk mendoakan arwah mereka yang sudah meninggal. Dikatakan waktu, karena jika Higan itu tanggal 23 September 2021), sebetulnya masa mendoakan itu dimulai sejak 3 hari sebelumnya (disebut Higan-iri) sampai 3 hari sesudahnya (disebut Higan-ake). Pada waktu ini, keluarga Jepang akan “nyekar” mengunjungi makam keluarga, dan mendoakan leluhurnya.

Biasanya makam keluarga itu berada dalam kompleks kuil. Begitu datang, ambil ember kayu dan cidukannya, mengisi air dan mulai membasuhi batu nisan. Tidak perlu lagi membersihkan makam dari rumput seperti di Indonesia, karena biasanya sudah bersih. Setelah memberikan air pada batu nisan, menghias makam dengan bunga (biasanya menaruh di jambangan yang ada di kiri-kanan nisan) dan memasang hio (dupa), keluarga akan mengatupkan kedua tangan untuk berdoa. Selain pergi ke makam, sebetulnya orang Jepang juga mempunyai altar leluhur di rumah masing-masing. Di situ diletakkan sesaji berupa kue manis berbentuk seruni (banyak dijual set kue atau buah khusus untuk Higan), atau Botamochi 牡丹餅 atau kadang juga disebut ohagi お萩. Botamochi dan Ohagi sama bentuk dan rasanya, hanya penamaannya saja yang berbeda. Botamochi untuk Higan musim semi, dan Ohagi untuk Higan musim gugur. Botamochi ini sejenis mochi yang ditutupi dengan tumbukan kacang merah (bisa kasar atau halus). Jadi kalau biasanya pasta kacang merahnya di dalam mochi, untuk Botamochi itu di luar. Rasanya? Enak dan manis 😃 seperti makan nasi ketan 😃

Biasanya kalau pergi nyekar pas pada hari Higan, jalanan akan macet dan bunga akan mahal (hhihihi kok seperti di negara kita ya? Eh tapi ini kalau beli di dalam kuilnya kok). Bertepatan dengan AkiHigan, biasanya juga ada yang disebut dengan Tsukimi 月見, harafiahnya “melihat bulan”. Tentu bukan melihat burger dengan telur ceploknya Mac Donald, tapi memang dipakai sebagai waktu untuk menikmati bulan yang memang cantik di musim gugur ini. Ternyata tidak selalu Tsukimi pas bulan purnama, bisa kurang sedikit, atau lebih sedikit. Nama kerennya 中秋の名月(ちゅうしゅうのめいげつ) Chushunomeigetsu, atau yang diingriskan sebagai Mid-Autumn. Kalau di Cina, Singapore, Taiwan banyak yang makan Moon Cake, tapi di Jepang biasanya makan Tsukimi Dango (bukan Tsukimi Burger ya hehehe). Sambil menikmati keindahan bulan, makan dango dan minum teh hijau (atau sake 😃 ).

Chushunomeigetsu ini juga disebut Malam ke 15 十五夜. Nah loh, 15nya dapat dari mana ya? Menurut penanggalan kuno, sebetulnya yang disebut musim gugur itu dari bulan Juli sampai September. Pertengahan musim gugur itu jadinya bulan Agustus, tepatnya tanggal 15 Agustus. Tapi penanggalan sekarang kira-kira terlambat 1 bulan, sehingga yang dinamanya 十五夜 itu adalah pertengahan September, waktu bulan purnama. Tapi ternyata dari survei selama ini, kesempatan kita melihat bulan jelas dan indah itu hanya 67%-an saja. Karena biasanya pada hari ke 15 十五夜 itu hujan. Karena garis curah hujan biasanya berada di atas kepulauan Jepang.

Sudah sejak dulu kala, orang Jepang memuja Bulan. Tapi baru sekitar abad ke 9 (Zaman Heian), bangsawan berkumpul minum sake sambil memandang bulan. Untuk masyarakat biasa, baru mulai zaman Edo (1600-) ikut menikmati bulan seperti kalangan istana. TAPI masyarakat biasa itu lebih memuja bulan dengan Tsukimi karena menjelang panen. Festival panen padi, sehingga mereka berkumpul sambil berharap semoga panen berhasil. Di beberapa daerah mulai memasang orang-orangan yang disebut kakashi 案山子. Pada acara tsukimi biasanya orang Jepang menghias dengan daun susuki yang seperti alang-alang. Rupanya ini menyerupai padi, sehingga dianggap bisa menghalau roh jahat.

Tsukimi dango, yaitu mochi bulat yang putih menyerupai bulan ini disusun menyerupai piramid. Jumlahnya 15 karena Malam yang ke 15. Dan mochi yang teratas dianggap menjadi jembatan dengan dunia lain. Selain tsukimi dango, susuki, biasanya di pertanian menghias dengan panenan ubi, chestnut dan edamame. Tapi terutama satoimo, karena sebetulnya nama lain dari chushunomeigetsu adalah 芋名月 imomeigetsu.

Nah, jika tidak bisa menikmati Malam ke 15, atau Tsukimi hari ini, sebetulnya kita juga bisa menikmati Malam ke 13 十三夜dan ke 10 十日夜. Loh, kan mestinya sudah lewat? Ternyata menurut perhitungan Malam ke 13 itu jatuh pada tanggal 18 Oktober 2021 dan Malam ke 14 jatuh pada tanggal 14 November 2021.

Tetapi memang bulan purnama di musim gugur dan dingin indah ya. Mungkin karena kita (mulai) merasa dingin, melankolis dan romantis. Yang menjadi pertanyaan sekarang, mengapa di bulannya orang Jepang terlihat bayangan kelinci yang sedang membuat mochi? Apakah kita orang Indonesia juga sama melihat ke bulan dan membayangkan kelinci? Berdasarkan survei lagi, ternyata yang melihat di bulan itu ada kelinci hanya di daerah Asia (Jepang, Cina, Korea), sedangkan daerah Eropa misalnya melihat ada bayangan wanita, atau di Arabia melihat singa.

Kenapa kelinci? Di Jepang ada cerita turun temurun bahwa ada kelinci yang tinggal di bulan. Dan ini sebetulnya berasal dari cerita agama Buddha seperti begini:

Dahulu kala kelinci, rubah dan monyet. Suatu hari mereka bertemu seorang kakek tua yang lelah dan kelaparan. Kemudian mereka bertiga mengumpulkan makanan untuk si kakek. Monyet pergi ke gunung dan mengumpulkan buah. Rubah pergi ke sungai dan mengambil ikan. Kelinci mencari dan mencari, tapi tidak mendapat apa-apa. Karena tidak mendapat apa-apa, kelinci kemudian berkata, “Silakan makan saya!”, dan dia terjun ke api, supaya dagingnya bisa dimakan oleh si kakek. Rupanya si kakek adalah Taishakuten, (Shakra, Mahadewa) yang hendak menguji ketiganya. Terharu pada kelinci, Taishakuten mengirim kelinci ke bulan, supaya menjadi teladan semua orang.

Sedih ya… saya juga baru tahu cerita kelinci yang sedalam ini. Tapi kenapa kelinci harus membuat mochi di bulan? Ada versi yang mengatakan bahwa si kelinci membuat mochi untuk si kakek, atau supaya si kelinci tidak akan kelaparan. Tapi yang paling masuk di akal adalah bahwa Festival Mid Autumn itu merayakan panen, yaitu beras. Dan mochi berasal dari beras. Dilambangkanlah beras menjadi mochi dalam legenda turun temurun di masyarakat Jepang. Kita bisa mengakui bahwa Jepang memang membawa unsur-unsur penting kehidupan manusia dalam kebudayaannya, dan menghargai setiap unsur sebagai suatu hadiah dari alam, jika tidak mereka katakan “Tuhan”.

Tulisan ini pernah dimuat di FB Grup “Wanita Indonesia Berkarya di Jepang” dengan sedikit perubahan.

 
Leave a comment

Posted by on September 23, 2021 in Uncategorized

 

Buta Huruf atau Melek Huruf?

Hari ini tanggal 8 September merupakan International Literacy Day, yang ditetapkan pada tahun 1966 oleh UNESCO setelah diadakannya konferensi pemberantasan buta huruf di Teheran, Iran (8- 19 September 1965). Ditetapkan menjadi hari literasi internasional itu supaya menjadi pengingat pentingnya pengentasan buta huruf di dunia.

Dalam bahasa Indonesia International Literacy Day ini diterjemahkan menjadi Hari Literasi Sedunia. Tetapi ada pula yang menerjemahkan menjadi Hari Aksara Internasional. Apakah literasi dan aksara sama?

Menurut KBBI aksara itu sama dengan huruf. Sedangkan penjelasan literasi adalah kemampuan menulis dan membaca, atau penggunaan huruf untuk mempresentasikan bunyi atau kata. Memang, tanpa aksara kita tidak akan dapat baca dan tulis.

Dalam Bahasa Jepang istilah “buta huruf” disebut 文盲 もんもう Monmo TETAPI di Jepang tidak memakai lagi istilah ini. Ingat, kan, masalah Sabetsu yogo 差別用語 yang pernah saya tulis? Kata-kata diskriminatif.  Karena 盲 itu dibaca めくら buta, jadi huruf 盲 itu sendiri menjadi huruf yang diskriminatif.

Waktu saya akan menulis thesis, saya mencari istilah buta huruf, dan tentu menemukan kata Monmo itu. Oleh dosen saya, harus diganti menjadi 識字 しきじ shikiji atau melek huruf. Tentu dia menjelaskan soal sabetsu yogo itu, tapi maklum baru datang ke Jepang, jadi tidak nyantol deh penjelasannya. Nah karena saya mau menulis tentang tingkat buta huruf (文盲率Monmoritsu), saya harus mengganti istilahnya dengan tingkat melek huruf/ literasi (識字率Shikijiritsu) daaaaaan menghitung semua angka kebalikannya tentu. Semua datanya kan angka buta huruf, bukan angka melek huruf :D, repot deh.

Di situ saya juga menyempurnakan skripsi saya tentang Terakoya, dengan angka-angka yang baru saya temukan. Sedikit info mengenai tingkat melek huruf di Jepang, pada saat Restorasi Meiji 1868 saja, sudah tinggi. Ada seorang Inggris yang mengatakan “Setiap saya berjalan ke mana-mana di Jepang, saya melihat orang Jepang membaca!”. Memang banyak faktor yang mendukung tingginya tingkat melek huruf di Jepang, antara lain dengan penyebaran Terakoya di seluruh negeri. Terakoya ini adalah tempat belajar yang hanya mengajarkan yomi kaki soroban 読み書きそろばん baca, tulis, hitung (dengan swipoa/sempoa). Memang sih, pendidikan dasar kan memang hanya 3 ilmu itu, dan ini menjadi penekanan dalam pendidikan di Jepang bahkan sampai sekarang. Selain itu, penyebaran tulisan terjadi dengan adanya kegiatan penulisan kembali dokumen-dokumen sejak lama, bahkan sebelum ada mesin cetak.

Namun, saya juga menyadari bahwa tingkat melek huruf itu tergantung pada negaranya, ya. Kalau memakai standar alfabet, mungkin tingkat literasi orang Jepang akan menurun. Beberapa waktu lalu, saya mengikuti sebuah perkumpulan orang asing (berbahasa Inggris) yang menunjukkan aib orang Jepang yang tidak bisa menulis kata-kata bahasa Inggris dengan benar, atau salah menerjemahkannya dengan foto-foto. Judulnya saja Engrish in Japan. Awalnya sih ikut tertawa melihatnya, tapi lama kelamaan kok seperti dibuat-buat, dibesar-besarkan. Bagaimanapun juga mereka sudah berusaha untuk menerjemahkannya ke dalam bahasa Inggris, kan?

Sama saja dengan orang Indonesia yang tinggal di Jepang tetapi tidak bisa baca tulis. “Buta huruf deh kalau di Jepang!” Ini sering saya dengar. Mungkin sama kalau saya ke Korea atau ke Rusia :D. Saya harapkan orang Indonesia di Jepang, yang sudah pasti akan tinggal lama, untuk belajar paling sedikit bisa baca tulis hiragana, deh. Masih untung lo sekarang banyak huruf romawi (alfabet) di mana-mana. Berlainan dengan 20-30 tahun yang lalu.

Oh ya, saya mau cerita bahwa dalam acara Rumah Budaya Indonesia yang lalu, seorang Jepang memakai aksara Jawa hanacaraka dengan fasih. Saya bukan orang Jawa, sehingga wajar kalau saya tidak bisa. Namun seberapa banyak orang Jawa bisa membaca dan menulis aksara Jawa tersebut? Tingkat melek huruf Jawa pasti kecil, ya? Dan ini berlaku pula untuk semua bahasa yang memiliki tulisan khusus.

Tingkat literasi di Indonesia sekarang menurut data 92,8% Jepang 99%, tapi yang terendah 27% yaitu Sudan Selatan dan 28,1% Afganistan. Kalau mengingat SGD’s maka literasi masih menjadi masalah dunia yang harus dipikirkan semua warga dunia.

Tulisan ini pernah dimuat di FB Grup “Wanita Indonesia Berkarya di Jepang” dengan sedikit perubahan.

 
1 Comment

Posted by on September 8, 2021 in Uncategorized

 

KUJI

KUJI! Siapa yang tahu kanjinya? 

Mungkin banyak yang menebak: 九時 くじJam 9 ya?

Hari ini tanggal 2 September, tgl 9/2 kalau penulisan cara Jepang, jadi mesti berhati-hati kalau meringkas tulisan tanggal ya. Jangan 2/9 karena itu dibaca orang Jepang 9 Februari!

Nah tanggal 9/2 bisa dibaca KUJI (2 ニ itu bisa dibaca : ni, futatsu, dan ji seperti pada nama JIRO yang kanjinya 二郎) . Kuji yang diperingati tanggal 2 September itu adalah KUJI dari TAKARAKUJI 宝くじ, undian berhadiah yang ditetapkan oleh Bank Daiichikangyo (Sekarang Mizuho). Dulu sekali di Indonesia pernah ada yang namanya SDSB (SDSB, Sumbangan Dana Sosial Berhadiah, merupakan kupon berhadiah bagi para pembelinya. Kupon yang mirip voucher ini didalamnya terdapat nomer seri dan angka. Intinya Anda menebak, kalau tebakan Anda benar, Anda dapat hadiah.) yang kemudian dihentikan oleh pemerintah Indonesia tahun 1994, ya karena dianggap sebagai judi.

Saya, sebagai orang Indonesia yang baik (ciee), belum pernah beli undian. Jadi waktu awal kedatangan di Jepang, saya tinggal bersama keluarga Jepang, nenek di keluarga itu minta tolong saya beli 10 lembar takarakuji (@300 yen). Katanya,”Imelda, saya mau beli takarakuji tapi tidak bisa beli sendiri. Ini uang 3000 yen, kamu tolong belikan ya. Mungkin bisa beruntung dapat kalau kamu yang beli”. Jadilah saya membawa uang 3000 yen itu ke loket penjualan takarakuji dong.

Begitu sampai di depan loket:

“Takarakuji Ju mai kudasai” (Minta takarakuji 10 lembar)

“Bara? Renban?”

Nah loh, saya bengong. Bahasa Jepang saya belum sampai situ. Bara? Oh mungkin yang kertasnya ada gambar mawar ya? Renban… mbuh lah, saya Cuma tahu Rembang nya Jepara! Jadilah saya bilang:

“Bara 10 mai”

Begitu pulang, saya diberitahu bahwa lebih baik membeli Renban 連番 (nomornya berurutan) daripada bara バラ (nomor acak), karena Renban itu kesempatan tosen 当選 とうせん terpilihnya lebih besar. Baru tahu bahwa bara itu dari bara-bara (berserakan) 😃 Gimana sih orang Jepang kok singkat-singkat aja! hihihi

Lalu takarakuji yang saya beli bagaimana ceritanya? Saya tidak tahu karena tidak tanya. Tapi sepertinya sih tidak lolos deh. Tapi peristiwa membeli takarakuji itu membuat saya penasaran, uang takarakuji itu untuk apa ya? Ternyata banyak dipakai untuk pembangunan fasilitas umum, termasuk membiayai penanganan pertambahan manula, bencana, taman, pendidikan, kesejahteraan dan lain-lain.

Kemudian saya jadi penasaran dengan kata KUJI, karena tentu bukan kata takarakuji saja yang mengandung kata KUJI ini. Yang paling sering dipakai adalah KUJI wo hiku くじを引く(menarik undian) atau KUJIBIKI. Misalnya pada pemilihan pengurus PTA (Parent Teacher Assosiation) di sekolah. Tidak ada yang mau menjadi pengurus, sehingga harus memilih dengan cara mengundi. Saya pernah menjadi pengurus PTA karena terpilih dengan undian dan tidak bisa menolak deh.

Dan sebetulnya penarikan undian juga bentuknya bisa bermacam-macam. Ada yang dengan menulis nama/nomor di kertas, kemudian diambil satu orang. Ini lazim juga dilakukan di Indonesia. Tapi ada satu cara “pemilihan” itu yang saya rasa menarik, yaitu AMIDAKUJI あみだくじ. Cara pemilihan khas Jepang. (Namanya saja AMIDA sebutan untuk Sang Buddha).

Misalnya untuk memilih pengurus secara seimbang, bilang saja memilih seksi kebersihan, seksi konsumsi dan seksi acara, 3 jenis pekerjaan untuk 3 orang. Kita menuliskan 3 nama di atas, lalu 3 jenis pekerjaan di bawah, lalu antara orang dan pekerjaan dihubungkan dengan garis vertikal, dan masing-masing orang menarik garis horisontal sesukanya. Ntah mengapa, sebanyak apapun garis horisontalnya, pasti setiap orang akan mendapatkan pekerjaan yang berbeda. (Maaf mungkin kurang bisa dimengerti dengan kata-kata dan lebih baik dipraktekkan).

Tapi yang paling menarik adalah kata OMIKUJI 御神籤 pun berasal dari KUJI. Memang sih arti KUJI 籤 (susyahlah kanjinya!) sesungguhnya adalah memilih. Kalau pakai kata mengundi kesannya bagaimana gitu. Bagi yang pernah membeli OMIKUJI di kuil Jepang, pasti tahu ya, kita memasukkan uang, lalu mengocok tabung yang berisi batang bambu bernomor. Lalu kita lihat batang yang keluar dari lubangnya nomor berapa. Kemudian kita ambil kertas dari laci bernomor yang tertera pada batang pilihan kita. Tapi tentu kemungkinan untuk mendapatkan daidaikichi 大大吉 (silakan baca di sini) itu keciiiiiiil sekali (maksudnya amat sangat kecil :D)

Dari sekian banyak KUJI yang saya tuliskan, KUJI yang mana yang sudah pernah coba? Belum semua?

Hmmm mungkin sudah loh, yaitu dengan cara BINGO (dalam bahasa Jepang disebut BINGO KUJI) dan BINGO game ini menarik sekali! Apalagi kalau kartu yang kita bagikan itu masih kosong semua, sehingga bisa tulis angka sesukanya. Saya pernah bawa dan mainkan di keluarga besar saya, dan semua senang. SERU!

amidakuji

Tulisan ini pernah dimuat di FB Grup “Wanita Indonesia Berkarya di Jepang” dengan sedikit perubahan.

 
Leave a comment

Posted by on September 2, 2021 in Uncategorized

 

Mitigasi Bencana

Hari ini tanggal 1 September adalah hari Mitigasi Bencana, Disaster Prevention Day atau bahasa Jepangnya Bousai no Hi 防災の日.  Mengapa ditetapkan tanggal 1 September? Karena pada tanggal ini di tahun 1923 pukul 11:58 siang telah terjadi Gempa bumi besar Kanto yang banyak menelan korban 142.500 korban meninggal/hilang.

Sudah pernahkah teman-teman mengikuti 避難訓練ひなんくんれんhinan kunren latihan-latihan mitigasi bencana? Memang selama pandemi tidak ada, ya. Padahal bencana itu bisa terjadi sewaktu-waktu. Saya ingat waktu mengikuti latihan bencana di sebuah universitas. Saya sebagai dosen, begitu terdengar alarm, harus mengumumkan: “Ayo, berlindung di bawah meja!”. Lalu memerintahkan mahasiswa untuk mengikutiku, menuruni lantai 3 ke tempat pengungsian yang sudah ditetapkan, yaitu lapangan di sebelah gedung 10. Sebagai tanda “terima kasih”  kami menerima nasi dan biskuit tahan lama yang bisa disimpan 6 bulan. Tapi yang sempat membuat saya tertegun waktu mendengar dari kepala pelatihan yang mengatakan bahwa sebetulnya setelah latihan mengungsi ini, ada beberapa acara yang dilakukan di depan kampus, termasuk latihan pemadam kebakaran dan pengungsian dalam ruangan berasap (tahun lalu saya pernah ikut ruangan berasap ini). TETAPI ternyata semua unit pemadam kebakaran yang sedianya dipakai untuk latihan di universitas, dipanggil karena ada kebakaran sungguhan yang cukup besar sehingga semua unit dipanggil. Nah, kan. Bencana bisa terjadi setiap saat.

Biasanya untuk anak SD/SMP ada latihan bersama setiap bulan, bersama guru dan kepala sekolah. Saat itu ibu-ibunya tidak bisa ikut, tapi ada latihan yang namanya 引き渡し訓練 ひきわたしくんれんHikiwatashikunren. Latihan penyerahan anak (dari pihak sekolah) kepada orang tua. Orang tua diharapkan (tidak wajib, sih) menjemput anaknya masing-masing. Saat itu kami orang tua harus menyebutkan nama murid dan hubungan apa (ibu/bapak/nenek/kakek) dengan sang anak. Ini supaya guru tidak menyerahkan pada orang yang salah, atau bisa menjawab jika ditanya anak ini dijemput siapa.

Satu lagi pengalaman saya mengikuti latihan di SMP. Karena saya sekretaris PTA waktu itu, wajib ikut dan membantu sekolah dalam latihan tersebut. Tugas kami adalah memasak nasi Alphaアルファ米 Alfamai. Nasi Alpha ini cukup diberi air panas dan ditunggu 15 menit, jadi! Saya pernah punya ukurannya kecil, ukuran 1 orang. Ternyata ada yang ukuran besar, untuk dapur umum. Satu kantung besar untuk 50-60 orang. Karena kami ada 4 kelompok jadi waktu itu membuat nasi untuk 300 orang! Kantung besar itu diletakkan dalam satu kardus besar. Setelah nasi itu jadi, kami masukkan dalam plastik untuk dibagikan.

Nah, waktu membuat nasi Alpha ini, ada satu yang saya perhatikan. Waktu membuka kardus ada plastik alumunium berisi beras. Dan di dalam kardus itu tersedia pula sarung tangan plastik, plastik untuk pembagian nasi, sendok kecil, karet gelang untuk menutup plastik, dan yang menakjubkan ada juga GUNTING DARI KERTAS. Gunting itu cukup memadai untuk membuka plastik itu. Hebat ya, orang Jepang itu memikirkan semuanya sampai ke detail begitu. Bayangkan kalau dalam bencana mau buka plastik tapi tidak bisa. Sampai ke situ loh dipikirkan, dibayangkan dalam simulasi.

 
Leave a comment

Posted by on September 1, 2021 in Uncategorized

 

OBON お盆

OBON itu apa sih? Kalau lihat tulisan kanjinya お盆 bisa terlihat ada kanji piring 皿. Obon itu adalah nampan tempat meletakkan sesuatu. Nah kenapa masa tanggal 13-16 Agustus ini disebut OBON?

Rupanya merujuk pada sesaji yang diletakkan di piring dan ditaruh di depan altar Buddha. Masa khusus untuk keluarga memanggil arwah keluarga untuk pulang ke rumah (迎え火 mukaebi) , melewati waktu bercengkerama dengan anggota keluarga yang berkumpul dan pada akhirnya pada tanggal 16 mengantar sang arwah untuk pulang (送り火 okuribi).

Dalam menyambut obon ini, bagi yang “berduit” akan memanggil pendeta Buddha untuk datang ke rumah dan berdoa di depan 仏壇 Butsudan (altar buddha tempat bersemayam “jiwa” nenek moyang). Sang Pendeta berpakaian pendeta putih dengan kimono luar berwarna hitam dari bahan jala, dan dilengkapi dengan topi “caping” untuk melindungi kepala. (Saya pernah bertanya kira-kira berapa membayar pendeta datang waktu obon, dan dijawab sekitar 100.000 yen. Hmmm pantas hanya orang kaya yang tinggal di rumah besar saja yang “berani” memanggil pendeta untuk datang).

Dalam masa OBON ini, Butsudan atau altar Buddha di rumah akan dihias dengan lampion khusus, makanan persembahan seperti buah-buahan dan kue manis, selain dupa dan batang incense お香 oko, serta bunga houzuki ほうずきyang aneh karena seperti bunga kertas melembung. Saya baru tahu bahwa namanya di Indonesia adalah ceplukan.

Adapula daerah yang menghanyutkan sesajen ini ke sungai atau laut. Sesajen akan ditaruh dalam sebuah perahu kecil dan dihanyutkan bersamaan dengan lilin. Konon ini mendoakan mereka yang kehilangan nyawanya ditelan air dan ombak. Tetapi ini adalah tradisi yang lambat laun menghilang. Bagi warga jepang modern sekarang OBON disambut gembira karena bisa meliburkan diri dari kesibukan pekerjaan dan terik matahari. Memang pertengahan Agustus itu merupakan puncak panas-panasnya udara di Jepang. 

Bagi yang tidak mempunyai 仏壇 Butsudan (karena bukan anak pertama) maka cukup melakukan ziarah, nyekar ke makam keluarga, yang biasanya terletak di halaman kuil. Dan merupakan pengetahuan umum pula, bahwa makam dan kuil Buddha itu biasanya terletak di tempat yang tinggi, berbukit, dan biasanya masih banyak “hijau” pepohonan.Bagi keluarga yang mempunyai anggota keluarga yang baru meninggal, dan sudah lewat hari ke 49 (四十九日)nya, memperingati Obon pertama yang disebut 初盆 hatsubon atau 新盆 shinbon/niibon.

Di daerah-daerah, keluarga akan menerima kedatangan selain saudara juga teman-teman dekat dari yang baru meninggal, yang membawa sesuatu untuk dipersembahkan. Pada waktu OBON ini juga biasanya diadakan tari bersama yang disebut BON Odori 盆踊り. Dengan membuat lingkaran biasanya dinyanyikan bersama “Tsukiga deta deta, tsuki ga deta ya yoi yoi……” Gerakannya mudah dan saya pernah diajari : hotte hotte mata hotte (hotte= menggali, dengan gerakan menggali kanan-kiri) katsuide katsuide sagatte (katsuide = memikul memikul mundur ), lalu tepuk tangan seperti membersihkan tangan dari pasir. Tentu gerakan BON Odori berbeda di tiap daerah, tapi yang saya pelajari disebut dengan tankobushi 炭坑節 (tari penambangan batu bara) dari daerah Shizuoka. Setiap saya menarikan Bon Odori saya pasti ingat tari Sajojo deh, tarian massal di Indonesia. Tapi sepertinya gerakannya susah ya? Soalnya saya tidak bisa 😃 mending Bon Odori deh.

Oh ya ada satu lagi yang belum saya terangkan di sini, yaitu keberadaan Terong dan Kyuri yang diberi kaki 4, yang kadang kala tidak hanya ditaruh di depan altar, tapi juga di depan rumah. Ini adalah 精霊馬 shoryouma atau kendaraan yang dipakai oleh arwah untuk datang dan pulang. Datang dengan kyuri きゅうり (melambangkan kuda) dan pulang naik terong ナス (melambangkan sapi). Maksudnya datang naik kuda supaya cepat sampai, dan pulangnya pelan-pelan saja naik sapi 😃

Yang lucu ada beberapa orang Jepang yang humoris, membuat ketimunnya bukan berbentuk kuda, tapi kapal terbang. Konon kakeknya yang meninggal adalah pilot pesawat. Atau ada juga yang berbentuk sepeda Harley. Bagaimana OBON teman-teman? Saya sendiri biasanya tidak merayakan Obon dengan keluarga suami. Selain mereka tidak terlalu taat dengan aturan agama Buddha dengan mengadakan upacara di rumah (pelit juga sih ngga mau bayar pendeta Buddha 😃) , pertengahan Agustus si menantu yang orang Indonesia ini biasanya sedang pulang kampung sih 😃 Masak saya panggil arwah sendirian di Jakarta, dengan jangka hihihi (ayoooo siapa yang pernah main jelangkung? Saya takut jadi tidak pernah hihihi).

Oh ya, musim Obon ini juga yang membuat semacam kebiasaan di Jepang untuk memutar film-film horor, dan menggambar monster-monster khas Jepang. Salah satunya adalah Hitotsume Kozou (Pendeta Bermata Satu) yang saya lihat pagi ini di sebuah museum.

Tulisan ini pernah dimuat di FB Grup “Wanita Indonesia Berkarya di Jepang”

 
Leave a comment

Posted by on August 13, 2021 in Uncategorized

 

Hari Gunung

Jika kita melihat kalender bulan Agustus, pasti tanggal 11 Agustus berwarna merah dan merupakan hari libur resmi di Jepang. Hari itu adalah hari Gunung, tetapi khusus untuk tahun ini dipindah ke tanggal 8 Agustus, karena ada olimpiade. Dan Hari Gunung ini sebetulnya merupakan hari libur baru, yaitu sejak tahun 2016.

Memang sepertinya Jepang sedang berusaha memperbanyak hari libur untuk mengerem atau memperpendek hari kerja orang Jepang (meskipun dipantek hari libur setengah tahun pun orang Jepang akan tetap bekerja di hari libur 😃 ), antara lain dengan memutuskan Happy Monday (menggeser hari libur ke hari Senin sehingga bisa libur berturut-turut dan dengan menambah hari libur. Meskipun penetapan Yama no hi 山の日 ini dilakukan setelah 20 tahun berlalu sejak penetapan Hari Laut pada bulan Juli.

Selain daripada tujuan penetapan yang “membuat warga lebih menyadari keberadaan gunung dan menghargainya”, sebetulnya tidak ada latar belakang sejarah yang mendukung, seperti saudaranya si Hari Laut. Dengan tidak ada latar sejarahnya ini memang yang membuktikan bahwa pemerintah “mencari-cari” kesempatan untuk meliburkan warganya di bulan Agustus.

Dalam penggodokan penentuan tanggal untuk diperingati sebagai Yama no hi, awalnya ditentukan tanggal 12 Agustus. Tapi pada tanggal itu pada tahun 1985, telah terjadi kecelakaan jatuhnya pesawat 墜落事故 JAL dengan nomor penerbangan 123 di daerah Osutakano one (Prefektur Gunma) yang menelan korban 520 orang. Kecelakaan ini merupakan kecelakaan terparah dalam bidang penerbangan. Jadi, rasanya tidak etis untuk merayakan Hari Gunung pada tanggal 12. Sedangkan jika diundur ke tanggal 13, juga tidak bisa karena biasanya pada tanggal 13-14-15 Jepang merayakan Obon (meskipun bukan tanggal merah, biasanya orang Jepang pulang kampung pada hari-hari ini). Jadilah Hari Gunung dirayakan pada tanggal 11 Agustus, dan menjadi hari libur yang ke 16 dalam satu tahun di Jepang.

Saya sendiri memang belum pernah mendaki Gunung Fuji. Orang asing biasanya menyebutkan Gunung Fuji adalah Fujiyama, sedangkan orang Jepang menyebutnya dengan Fujisan. Mengapa? Sebetulnya memang kanji 山 itu bisa dibaca “yama”, dan bisa dibaca “san” (atau “zan”), jadi tidak salah sih kalau disebut dengan Fujiyama. Tapi orang Jepang menyebutkan Fujisan itu konon karena lebih menghormati gunung Fuji, layaknya menghormati manusia yang juga dipanggil dengan -san.

Tapi sebenarnya ada berapa banyak gunung sih di Jepang? Sebetulnya Jepang itu selain bisa disebut sebagai “negara kepulauan”, juga bisa disebut dengan “negara gunung”. Karena jumlah gunungnya sebanyak 16.667 gunung (menurut peta dengan skala 1:25.000)! Dan ini masih ada yang tidak tercantum namanya, sehingga mungkin lebih banyak lagi jumlahnya. Gunung yang tertinggi di Jepang tentu adalah Fujisan (3776mdpl) , sedangkan gunung yang terendah, yang tercantum dalam peta skala 1:2.00 itu setinggi 5 meter yang terletak di Osaka dan bernama Tenpouzan 天保山.

Saking banyaknya gunung di Jepang, Fukuta Kyuya, seorang novelis dan pendaki gunung memilih 100 gunung populer di Jepang 日本百名山, dan biasanya menjadi panduan atau target pendaki gunung di Jepang. Boleh berbangga, bapak mertua saya sudah menyelesaikan pendakian 100 gunung populer di Jepang pada usia 74 tahun. Sayangnya sekarang beliau harus mengurus istrinya yang sakit sehingga tidak bisa memenuhi target 200 gunung populer di Jepang.

Saya sendiri sebetulnya takut ketinggian, sehingga takut mendaki. Tapi paling sedikit ada 2 gunung yang saya ingat pernah saya daki yaitu Nokogiriyama 鋸山 (330mdpl) di Chiba dan Hachijoji-shiroyama八王子城山 (446mdpl) di Tokyo. Untuk berikutnya mau coba Takaosan 高尾山 (599mdpl)…. entah kapan 😀

So, mungkin berikutnya saya akan pergi mendaki gunung Tenpouzan 天保山 di Osaka yang hanya 5 meter saja, ya? Tapi kalau saya mungkin lebih baik pergi ke Daikanyama, atau Aoyama atau Yamanote saja deh hehehe karena kalau ke Osaka berat di ongkos :D. (ketiga nama ini meskipun memakai kata yama bukan gunung tetapi nama tempat pertokoan di Tokyo dan nama jalur kereta di Tokyo)

Tenpouzan diambil dari wikipedia

 
Leave a comment

Posted by on August 7, 2021 in Uncategorized

 

Hari Taksi

Kadang jika hujan atau bawaan banyak, waktu anak-anak masih kecil, saya sering naik taksi. Karena rumah saya waktu itu cukup jauh dari stasiun dan masih harus naik bus ke stasiun, saya dulu sering osewani natta. Sekarang sih, sudah jarang sekali karena rumah saya 5 menit dari stasiun. Kalau masih naik taksi, pasti saya dimarahi supirnya 😃

Banyak orang asing yang terkejut kalau naik taksi untuk pertama kali di Jepang, ya. Bayangkan tiba-tiba pintunya membuka dan menutup sendiri. Pasti kaget. Tapi kalau di masa pandemic seperti sekarang, tertolong juga karena tidak harus memegang tuas pintu yang mungkin sudah dipegang macam-macam orang.

Dan kekagetan kedua mungkin timbul waktu harus membayar ongkosnya karena mahal, hehehe. Saya ingat sekali beberapa tahun lalu, saya pernah dibayari taxi dari universitas ke rumah seharga 16.000 yen! Itu karena baju saya basah kuyup dan murid saya kasihan kalau saya harus pulang naik kereta dalam keadaan basah begitu. Untung dia bawa uang tunai, meskipun akhirnya saya berhutang budi padanya. Kalau dipikir untung sekali taksi di Tokyo sekarang sudah bisa dibayar pakai e-money atau credit card ya. Ah… untung semua.

Ada satu lagi pengalaman waktu saya naik taksi di daerah Yokohama. Di belakang tempat duduk pengemudi sebelah kiri, disediakan tombol jika kita mau taxinya “pelan-pelan”. Misalnya kita tidak enak badan kita bisa menekan tombol itu sehingga sang supir bisa memperlambat laju kendaraan. Belum lagi dia menyediakan minuman mineral water dan tissue yang bisa dibeli. Sepertinya memang taksi yang saya tumpangi ini sering melayani kakek-nenek ke rumah sakit.

Ada banyak kisah yang saya dengar dari supir taksi tapi tidak akan cukup menceritakannya di sini. Yang terpenting yang harus saya tulis adalah mengapa tanggal 5 Agustus itu ditetapkan menjadi hari Taksi?

Rupanya alasannya karena pada tanggal 5 Agustus tahun 1912 pertama kali taksi beroperasi di Jepang, yaitu dengan berdirinya perusahaan taksi di daerah Yurakucho. Saat itu hanya ada 6 mobil dan pertama kali menggunakan argometer untuk penghitungan ongkosnya. Saat itu ongkos untuk 1 mil (1,6 km) seharga 60 sen, dan bertambah 10 sen untuk setiap 0,5 mil berikutnya. Tentu ada juga tarif tambahan untuk menunggu, tarif waktu larut malam, waktu hujan atau jalanan berlumpur. Hari Taksi ini baru ditentukan sebagai peringatan pada tahun 1985.

Taksi di Jepang memang mahal, tapi patut dicoba bagi yang belum pernah mencobanya 😀

 
1 Comment

Posted by on August 6, 2021 in Uncategorized

 

Tanabata

★Dilema Cinta LDR★

Seperti pernah saya tulis, ada peringatan sekku 節句 di Jepang 1-1, 3-3, 5-5, 7-7 dan 9-9. Kali ini saya akan menulis peringatan sekku yang 7- 7 atau tanggal 7 Juli. Memang bukan hari libur, tapi ramai deh di Jepang. Tanggal 7 bulan Juli adalah peringatan Tanabata dengan Festival Tanabata 七夕祭り di mana-mana.

Dan mungkin kalau ada teman-teman yang punya anak TK, bisa melihat ranting-ranting Sasa 笹 atau bambu yang digantungkan kertas-kertas tanzaku 短冊bertuliskan permohonan anak-anak. Tentu saja tidak hanya di sekolah, di mal atau tempat umum lainnya banyak pula yang memasang ranting sasa (bambu) dan menyediakan kertas permohonan untuk dipasang.

Kebiasaan merayakan Tanabata ini memang aslinya dari Cina, yang diperkenalkan di Jepang waktu pemerintahan kaisar wanita Koken pada jaman Nara/Heian. Tapi baru berkembang di seluruh lapisan masyarakat pada Zaman Edo/Tokugawa. Kebetulan waktunya berdekatan dengan Obon yang waktu itu dirayakan sekitar tanggal 15 Juli (sampai sekarang masih ada yang merayakan Obon di bulan Juli). Sehingga perayaan Tanabata di Jepang banyak berubah daripada tanabata aslinya. Tapi kemudian Obon dirayakan bulan Agustus, sehingga pada tanggal bulan Juli memang didominasi perayaan Tanabata. Tapi kalau mau melihat Festival Tanabata yang terkenal di Sendai, mereka mengadakannya justru di bulan Agustus.

Asal usul perayaan Tanabata di Jepang berasal dari Legenda Tanabata yaitu kisah cinta Orihime dengan Hikoboshi. Orihime adalah putri Raja Langit (Tentei) yang pandai menenun. Dikatakan Orihime ini adalah bintang Vega yang merupakan bintang tercerah dalam rasi bintang Lyra. Raja Langit sangat suka tenunan Orihime, sehingga Orihime kerjanya hanya menenun saja. Orihime sedih karena kalau dia hanya menenun saja, bagaimana bisa mendapat jodoh. Nah, sang bapak kemudian mengatur pertemuan dengan Hikoboshi yang merupakan penggembala sapi di seberang Amanogawa (Galaksi Bima Sakti). Hikoboshi ini dianggap sebagai Bintang Altair yang berada di rasi bintang Aquila. Begitu Orihime bertemu Hikoboshi, mereka jatuh cinta dan menikah. Tapi karena itu, Orihime tidak lagi menenun, dan Hikob tidak lagi menggembala (maklum lah pak… kan masih pengantin baru 😃).

Raja Langit kemudian sangat marah dan keduanya dipaksa berpisah. Orihime dan Hikoboshi tinggal dipisahkan sungai Amanogawa (galaksi Bima Sakti) dan hanya diizinkan bertemu setahun sekali di malam hari ke-7 bulan ke-7. Tetapi ternyata meskipun mereka diizinkan bertemu, mereka tidak bisa menyeberangi sungai Amanogawa karena tidak ada jembatan yang menghubungi. Sekawanan burung kasasagi terbang menghampiri Hikoboshi dan Orihime yang sedang bersedih dan berbaris membentuk jembatan yang melintasi sungai Amanogawa supaya Hikoboshi dan Orihime bisa menyeberang dan bertemu. Tapi kalau kebetulan hujan turun, burung-burung itu tidak bisa datang dan membantu mereka menyeberang sungai sehingga harus menunggu setahun lagi ☹ .

Susah memang kalau LDR ya …..Sebelum menutup tulisan, saya prediksi ada yang bertanya : “Pada perayaan Tanabata, ada makanan khususnya tidak?” Saya juga penasaran karena selama ini belum tahu, sehingga saya cari info. Biasanya yang saya tahu ada beberapa Wagashi 和菓子(kue Jepang) yang berhiaskan bintang, atau memakai warna biru yang melambangkan Amanogawa. Tapi ternyata ada makanan khusus yang dimakan pada tanabata yaitu Sōmen 素麵 sejenis mie yang putih tipis. Somen itu bisa dibayangkan seperti aliran sungai Amanogawa kan? Dan ternyata juga tanggal 7 Juli ditetapkan menjadi Hari Somen 😃 (bisnis lagi deh 😃 )Lalu selain somen ternyata ada juga kuenya, yaitu kue yang bernama Sakubei 索餅, kalau lihat fotonya seperti kue kepang manis.

Konon kue ini dulu disajikan sebagai hidangan pada tanggal 7 Juli untuk memperingati anak Kaisar Cina yang meninggal karena sakit pada hari itu. Sebagai tambahan tanggal 7 Juli juga merupakan Hari Yukata, sehingga banyak wanita memakai yukata menghadiri Festival Tanabata. Memang cocok ya.

Bagaimana? Sudah persiapkan wishlist untuk Tanabata? Mesti diingat bahwa wishlist pada Tanabata bukan berupa barang ya, soalnya Tanabatasama ini bukan Sinterklas 😃.

Beberapa tahun lalu saya pernah mencatat sebuah survey ranking wishlist orang Jepang waktu Tanabata yang terbanyak adalah :

1. Supaya semua anggota keluarga tetap sehat
2. Bisa melewati kehidupan yang gembira setiap hari
3. Menang lotere
4. Supaya kehidupan suami-istri awet dan berbahagia
5. Semoga Jepang dan seluruh dunia bisa hidup damai
6. Supaya bisa melakukan pekerjaan dan pelajaran
7. Supaya kondisi ekonomi dunia pulih
8. Supaya gaji naik
9. Supaya dietnya berhasil
10. Supaya tidak terjadi gempa atau bencana lainnya
11. Supaya bisa menemukan pacar yang cocok
12. Supaya bisa tetap menjaga persahabatan dengan teman-teman yang sekarang
13. Supaya bisa memiliki ………. (barang) idaman
14. Supaya bonus gaji bisa naik
15. Supaya bisa sehat dan kuat sehingga dapat bekerja keras
16. Supaya bisa menikah
17. Supaya bisa makan yang enak-enak
18. Supaya tetap awet dengan pacar yang sekarang
19. Supaya lulus ujian
20. Supaya cintaku pada yang bertepuk sebelah tangan bisa terbalaskan.

Aku SEMUA kecuali 3, 11, 16, 18, dan 20 (sudah menikah soalnya hehehe, gawat deh kalau cari lagi yang baru 😃 ).

Soal wishlist sebetulnya ini berasal dari kebiasaan yang berbeda dengan cerita orihime, tapi terjadi pada tgl yang sama. Jadi dulu pada tgl 7 Juli, di Cina ada festival Kikkoden yang merupakan waktu untuk para wanita memohon diberikan kepandaian menenun dan kerajinan lain, juga untuk pria supaya bisa menulis kaligrafi dengan baik. Jadi di sekolah terakoya, mereka menuliskan dengan kaligrafi di kertas yang kemudian digantung. Kemudian kebiasaan menulis keinginan ini diadaptasi dengan menggantungkan permohonan yang ditulis di kertas di pohon Sasa (bambu), karena konon bambu sering dipakai dalam agama Shinto karena bambu itu kuat dan tidak mudah diterbangkan angin.

Disamping itu tgl yang sama, miko (wanita Shinto) biasanya menenun tanabata (kain putih) yang dipersembahkan kepada dewa agar panen berhasil. Jadi kebiiasaan menulis wishlist di Tanzaku itu merupakan campuran dari festival yang berbeda-beda, kemudian menjadi budaya tanabata di Jepang (kebiasaan menulis tanzaku tidak ada di Cina/Korea)Orihime dan Hikoboshi sendiri tidak pernah menulis wishlist sih (yang menulis wishlist ya kita-kita yang berdoa semoga tidak menjadi seperti Orihime an Hikoboshi kan? 😃)

Legenda tanabata bukan hanya milik daerah tertentu tapi seluruh Jepang, meskipun ada kebiasaan daerah tertentu yang diselipkan, sehingga terlihat ada perbedaan pada hiasan-hiasan tanabata di setiap daerah. Perlu diketahui, dalam lagu tanabata sama (yang dinyanyikan pada tanabata festival) terdapat lirik tanzaku (wishlist) lima warna. Warna itu biru (melambangkan daun), merah(melambangan api), kuning (melambangkan tanah), putih (emas/uang) dan hitam (air). Jadi memakai warna unsur yang diperlukan manusia untuk hidup. Lima warna ini di Jepang memang dipakai dalam berbagai kegiatan agama.

 
Leave a comment

Posted by on July 7, 2021 in Uncategorized

 

MUDAN 無断 むだん

Beberapa waktu lalu saya menyelenggarakan semacam seminar bahasa Indonesia. Tidak besar memang, menurut pendaftaran hanya ada 26 orang saja. Nah, seperti sudah saya perkirakan, pasti ada yang tidak muncul pada hari H. Benar saja, ada 4 orang yang tidak hadir. Ini berarti 15% peserta tidak hadir. Dan angka ini besar lo. Hanya ada satu orang yang menghubungi saya meminta maaf karena dia tidak bisa hadir. Yang lainnya? Tidak ada kabar berita. Dan waktu saya lihat namanya, ada satu orang yang SELALU tidak hadir padahal sudah mendaftar. Saya heran pada orang-orang yang tidak bertanggung jawab seperti itu. Mungkin lain kali perlu masuk black list saja, mencontoh grup FB saya : WIBJ yang memberlakukan “penalti” bagi orang yang tidak hadir dalam workshop WIBJ tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Tidak hadir tanpa pemberitahuan dalam bahasa Jepangnya disebut MUDAN 無断 むだん mudan kesseki 無断欠席 むだんけっせき. 無断 mudan itu tanpa izin, kesseki itu tidak hadir dan lawan katanya shusseki 出席 しゅっせき yang berarti hadir. Kalau di kantor ada istilah mudan kekkin 無断欠勤 むだんけっきん。 Kekkin itu artinya tidak masuk (kantor), jadi mudan kekkin itu tidak masuk kantor tanpa pemberitahuan. Hati-hati kalau di kantor, tidak hadir tanpa izin bisa dipecat, lo.

Pemakaian mudan yang lain adalah mudan chuusha 無断駐車 むだんちゅうしゃ, parkir tanpa izin atau parkir sembarangan. Nah kalau ini siap-siap saja membayar ¥5.000 ~¥15.000 (katanya bahkan ada tempat yang ¥50.000 hihihi)

Karena mudan 無断 berarti tanpa izin, cukup banyak kata yang bisa dipadukan, misalnya:

Mudan gaihaku 無断外泊 むだんがいはくmenginap di tempat lain tanpa izin, biasanya dilakukan oleh pasien rawat inap, yang “pulang” tanpa izin.

Mudan shiyo 無断使用 むだんしようpemakaian tanpa izin

Mudan hanbai 無断販売 むだんはんばいpenjualan tanpa izin

Mudan satsuei 無断撮影 むだんさつえい pemotretan tanpa izin

Mudan gaishutsu 無断外出 むだんがいしゅつ pergi tanpa izin

Mudan tokan 無断投函 むだんとうかん memasukkan selebaran tanpa izin ke dalam mail box. Ini sering ditulis di mail box di apartemen. Karena sering selebaran (terutama untuk adult) dimasukkan ke dalam mail box. Ada yang terang-terangan menulis “karena ada anak-anak mohon tidak memasukkan selebaran ke dalam mail box ini”.

Mudan cancel無断キャンセル cancel tanpa memberitahukan. Ini saya baca waktu saya membuat janji untuk vaksin.

Mudan keisai 無断掲載 むだんけいさいpemuatan di majalah/surat kabar tanpa izin

Mudan Shinnyu 無断侵入 むだんしんにゅうmasuk (lingkungan/wilayah) tanpa izin

Nah, yang terakhir yang perlu saya tulis di sini adalah mudan tensai. Mudan tensai 無断転載 むだんてんさい artinya mengopi tanpa izin. Jadi misalnya membagikan tulisan orang di tempatnya sendiri tanpa meminta izin, itu namanya mudan tensai. WIBJ sendiri sudah menetapkan bahwa kalau mau share tulisan seseorang di WIBJ di statusnya sendiri maka harus menuliskan nama penulis dan sumber berita di bagian atas dan bawah. Karena orang Indonesia sering meneruskan tulisan dan mengganti/menghapus nama penulisnya seakan-akan itu tulisannya sendiri.

Ini semua adalah etika dalam hidup bermasyarakat. Kita yang hidup di masyarakat Jepang harus menjaga manner kita sebagai orang asing. Kalau tidak jadi ikut, HARUS memberitahukan sebelumnya. Kalau tidak bisa sebelumnya karena mendadak/genting, harap memberitahukan segera setelah bisa. Ini menyangkut kepercayaan, lo.

Tulisan ini pernah dimuat di FB Grup “Wanita Indonesia Berkarya di Jepang”

 
2 Comments

Posted by on July 5, 2021 in Uncategorized

 

Hari Soft Cream

Kemarin tanggal 3 Juli rupanya adalah hari Soft cream, karena pada tanggal 3 Juli tahun 1951 di Taman Meiji Jinggu diadakan karnaval oleh tentara Sekutu. Nah pada saat itulah dijual soft cream pertama kali di Jepang.

Pernah penasaran tidak? Apa bedanya soft cream dan ice cream? Ice cream itu suhunya di bawah -18 derajat C sedangkan soft cream antara -7 sampai -5 derajat. Karena itu soft cream lebih lembut rasanya, kan? Konon perbedaan suhu itu juga mempengaruhi. Kenapa suhunya beda? Jadi kalau ice cream itu dibuat dipabrik dan untuk sampai ke pelanggan, hari melalui perjalanan panjang. Karena itu perlu suhu yang lebih rendah. Sedangkan soft cream dibuat langsung di depan pelanggan, jadi tidak perlu suhu begitu rendah.

Ternyata tidak selalu hari-hari panas itu menyebabkan soft cream banyak terjual, loh. Konon kalau suhu hari itu terlalu panas, malahan yang laku adalah soft cream rasa ramune, karena rasanya lebih segar. Waktu kecil dulu, saya selalu ingat dibelikan soft cream di apotik Melawai, Kebayoran Baru. Rasanya bisa pilih vanila, coklat atau mix. Saya selalu pilih yang mix. Dan menurut saya rasa soft cream di situ yang paling enak (y). Sayangnya cuma bertahan beberapa tahun saja, mungkin sewa mesinnya mahal, ya?

Sekarang sih, saya sering ingin coba soft cream rasa yang aneh-aneh. Misalnya rasa natto, rasa gyutan (lidah sapi), rasa lavender, atau rasa kecap asin (shoyu). Cuma ingin tahu saja sih 😃

Dan ternyata setelah saya periksa lagi Soft cream itu adalah JAPLISH. Seharusnya bahasa Inggrisnya Soft serve ice cream, kemudian disingkat jadi soft cream 😃

Tulisan ini pernah dimuat di FB Grup “Wanita Indonesia Berkarya di Jepang”

 
Leave a comment

Posted by on July 4, 2021 in Uncategorized